h1

Resahnya Trasnjogja (Reformasi Trasnportasi Yogyakarta part 1)

Mei 13, 2012

Yogyakarta kini menjadi bagian dari hiruk pikuk hidupku. Kota yang sejatinya menenangkan dan nyaman. Orang- orang dengan bakul dan tas keranjang berseliweran disekitar pasar. Membeli dan menjual sayuran dan bahan makanan. Pria berbaju orange meniup peluit untuk mengatur motor- motor yang diparkir disekitar pasar. Dari belakang muncul mbak yang melaju kencang dengan kereta angin. Bus, mobil, dan ratusan motor mengantri di persimpangan menanti munculnya lampu hijau. Dan aku terus berjalan dengan cepat dari rumah menuju shelter Transjogja tak ingin tertinggal dengan waktu.

Suasanan Kota Yogyakarta selalu diindentikkan dengan isu istemewa. Beberapa bulan ke belakang headline Koran- Koran local selalu memperbincangkan isu keistimewaan Yogyakarta yang berbenturan dengan kosenp Pemilihan Kepala Daerah Gubernur. Tak jarang pula masyarakat dihempaskan isu pengangkatan tahta Kraton Pakulaman atau Kasultanan. Tak jarang pula masyarakat yang berdemo mempertahankan isu ‘ijab kabul’ keistimewaan. Tak jarang pula spanduk yang dibentangkan untuk menyatakan keinginan independensi terhadap Kraton.

Mungkin berawal dari pola pemikiran mercusuarisme, seorang pemimpin pasti akan memikirkan prestasi apa yang dapat diberikan kepada rakyatnya. Terlebih jika masa jabatannya akan segera berganti oleh siapapun itu. Bertepatan dengan 100 Tahun Hamengkubuwono IX, berbagai tokoh masyarakat diingatkan dengan prestasi heroic beliau bagi tegaknya NKRI, dan juga proyek Selokan Mataram yang mampu menghindarkan rakyat Jogja dari romusha, (keja paksa masa penduukan Jepang) sekaligus mensejahterakan. Betapa tidak, Selokan Mataram yang menyatukan 2 kali raksasa di Yogyakarta berhasil mengairi ribuan hektar sawah di Jogja secara gratis menggunakan dana Jepang di masa pendudukan. Dan kini masih terasa manfaatnya bagi rakyat.

Namun kini masyarakat Jogja dihadapkan pada isu baru yakni, “Pedestrianisasi Jalan Malioboro’. Konsep ini merupakan konsep yang jitu untuk menyulap Maliboro yang agak semerawut menjadi kawasan wisata berkelas dunia. Kita dapat membayangkan, betapa indahnya nuansa sore Jogja sembari menikmati angkringan di tengah jalan yang bebas polusi, dan bebas macet. Bayangkan saja jika suatu saat nanti Malioboro akan tertata tertib dan indah. Musisi jalanan akan mampu memainkan biola dan gendang jawa di tengah jalan Malioboro. Indah bukan?

Kita boleh berdebat atau tidak bahwa isu perkotaan krusial Yogyakarta saat ini semestinya bukanlah Malioboro atau isu hak milik tanah kraton, melainkan transportasi. Ya, betapa tidak saat ini Yogyakarta mulai terjangkiti kemacetan. Namun sangat khas, bukan karena padatnya mobil saja, tetapi karena motor yang sudah sangat padat. Karakter komuter Yogyakarta yang bergerak masuk ke urban area dari suburban seperti Godean, Condongcaur, Kaliurang, Bantul, dan Wonosari berlangsung sangat padat di pagi hari. Terlebih jika Yogyakarta memasuki hari libur, maka kendaraan mobil berplat nomor luar kota akan padat merayap bersamaan dengan datangnya Bus Pariwisata yang tumpleg bleg di Yogyakarta. Terlebih jika Malioboro akan dibeaskan dari kendaraan bermotor, bukankah junstru akan menimbulkan kemacetan yang parah disekitarnya?

Yogyakarta bukanlah tanpa usaha. Transjogja didirikan pada tahun 2004 yang merupakan hasil konsolidasi penggabungan Bus Perkotaan lama kedalam satu sistem saat ini masih ada. Menggabungkan berbagai manajemen koperasi bus lama menjadi satu konsep manajemen tentunya adalah hal yang sangat sulit. Bisa dikatakan ini merupakan prestasi Sultan Hamengku X dalam melakukan konsilidasi. Kunci yang dilakukan adalah dengan membagikan saham usaha PT Jogja Tugu Trans sebagai operator Trasnjogja secara merata kepada para pemilik bus lama.

Pada mulanya, Transjogja dihidupkan untuk memecahkan kemacetan dan mengurangi kemiskinan. Selama perjalanannya, Trasnjogja memang mampu memberikan warna baru bagi hiruk pikik Yogyakarta. Dengan beroperasinya 3 jalur busa (1A, 1B, 2A, 2B, 3A, dan 3B) setidaknya sudah ada 18000 penumpang setiap harinya yang menggunakan Transjogja. Namun Hidup segan, mati pun Tak Mau, Transjogja tidak pernah bisa benar- benar memecahkan persoalan Transportasi Yogyakarta. Saat ini Trasnjogja hanya ditopang oleh 54 Bus saja. Akibatnya jarak antar satu bus dengan satu bus lainnya bisa mencapai 30 menit lebih. Padahal semestinya ada 200 bus yang melayani Transjogja agar headway bus bisa mencapai 10 menit sekali.  Tidak hanya itu, jumlah shelter Trasnjogja pun belum tersebar dibanyak tempat. Saat ini baru tersedia 112 shelter. Jalur Transjogja pun cenderung berputar- putar, dan tidak langsung masuk kearah dalam kota.

Merupakan hal yang wajar jika motor masih tetap menjadi primadona di Jogja, jika dibandingkan dengan Transjogja. Tentunya hal ini sangtalah menyedihkan. Betapa tidak, Trasnjogja setiap tahunnya menerima subsidi yang memakan porsi cukup besar dari APBD Propinsi Yogyakarta. Padahal rata- rata bus hanya berisi 31- 40% saja setiap harinya penumpang saja. Artinya rakyat Jogjakarta yang memilki nilai APBD terendah kedua di Indonesia ini, harus membayar kursi kosong bus yang tidak jelas digunakan.

Selain itu, pengelolaan sistem Trasnportasi public seharusnya dilakukan secara professional yang memilki mindset profit oriented dan people outcome oriented. Pelaku usaha Transportasi memang harus memilki jiwa pelayanan. Karena konteks Trasnjogja adalah sebagai kebutuhan masyarakat. Namun hal ini bukan berari pelaku usaha harus bermental subsidi. Yang jelas merugikan rakyat secara tidak langsung. Terlebih jika nanti BBM premium akan dinaikkan harganya. Maka kesengsaraan manalagi yang harus ditimpakan kepada rakyat Jogja?

Sebagian pihak banyak yang bersikap skeptic terhadap Trasnjogja. Tidak jarang yang berpendapat bahwa Trasnjogja sebaiknya dibubarkan saja. Namun apakah kita akan begitu saja menghapus nilai investasi baik riil dan proses yang sudah dilakukan dalam rangka menciptakan Trasnjogja?

Oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

h1

Melek Inovasi, Melek Ideologi, Melek Indonesia (Epilog KM ITB part 7)

Maret 9, 2012

Manusia Indonesia selalu lekat dengan falsafah keindahan. Sejarah Nusantara sebagai Bangsa Timur tak pernah bisa lepas dari kisah sastra yang memadukan sejarah dengan imajinasi. Karya anak bangsa yang terakulturasi tetap bisa melahirkan suatu khas citarasa Nusantara. Prambanan misalnya, sekalipun berasal dari latar belakang Hindu yang datang dari India, tapi akhirnya memilki karakter Indonesia.

Hakekat bangsa ini hadir sebagai bangsa yang berbakat melahirkan ide brilian. Budaya Indonesia selalu diisi dengan leisure dalam bekerja. Ngrumpi di warung kopi sembari membicarakan bangsa. Pembahasan gotong royong yang diiringi dengan pengajian Rukun Warga di kampong- kampong. Adapula lahirnya ide dan kesepakatan yang lahir dari konsolidasi bisnis dilapangan golf untuk berbagi keuntungan. Proses lahirnya ide hingga inovasi ini secara sadar ataupun tidak akan sangat berpengaruh dengan ideologi apa yang kita pegang.

Konteks ideologi selalu mempengaruhi berbagai elemen kehidupan. Pasca krisis ekonomi Amerika Serikat misalnya, terjadi perdebatan ideology konsep ekonomi ala Alan Greenspan dan Joseph Stiglitz. Di satu sisi Greenspan mengatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat harus diselamatkan melalui bail out kepada perusahaan asuransi, bank dan perusahaan investasi. Di sisi lainnya Stiglitz beranggapan bahwa penyelamatan ekonomi Amerika harus menggebrak paham Adam Smith. Apa maksudnya? Adam Smith sebagai Bapak kapitalis modern mengatakan bahwa pasar akan berkembang  tanpa bantuan pemerintah dan akan mencapai keseimbangan dengan sendirinya. Namun keseimbangan ini akan dicapai dengan satu syarat, semua orang memilki moral yang baik. Moral baik inilah yang dianggap telah hilang oleh Stiglitz di Amerika. Maka sederhana saja, bantuan penyelamatan ekonomi apapun yang diberikan kepada pasar liquiditas (pasar uang), maka hanya akan dimanfaatkan oleh penguasa pasar karena moral hazard.  Dan bantuan penyelamatan ekonomi Amerika sebaiknya diberikan langsung pada industry berupa modal usaha, dan mengubah orientasi Amerika dari negara berbasis ekonomi keuangan menjadi Negara ekonomi industri. Namun apakah berhenti sampai disini? Tidak! Siapaun opini ideologi yang menang tentunya ini akan berpengaruh besar pada warna ekonomi, hingga kebijakan inovasi dan pembangunan Amerika Serikat.

Memecah Kerak Ideologi untuk Reorientasi Semangat Bekarya

Polemik ideologis di ITB selalu menjadi warna dalam sejarah kemahasiswaan. Isu mengenai depan yang identic dengan Islam dan belakang yang identic dengan kiri (bisa liberal, sekuler, atau komunis) berkembang secara klasik hingga menjadi modern. Terkadang polemik ideologis ini menjadi anti-produktif tatkala perdebatan mengenai siapa yang benar yang dikedepankan.

Di era kekinian, pola kehidupan mahasiswa lebih sering menghindari konflik. Bagus memang. Namun juga buruk disisi yang lain. Perkembangan social media seperti twiiter yang praktis berimbas juga dalam membunuh semangat insan akademis yang mengedepankan kebenaran ilmiah dengan data mendalam. Mahasiswa menjadi lebih sering berbicara spontan dan cepat, namun juga cepat kalah ketika didebat karena tidak memilki data mendalam alias tidak ‘akademis’.

Kebanyakan mahasiswa pun lebih senang untuk mengaku independen dari ideology apapun. Dan lebih senang merangkul semua ideologi atau tidak berideologi sama sekali. Bagus memang untuk semangat persatuan. Namun ketika tidak memiliki ideologi sama sekali, maka sebenarnya ia terjebak dalam pragmatisme memilih atau ‘tidak cerdas’.  Mengapa demikian? Karena sepintar dan secerdas apapun seseorang, maka ia akan tetap dikendalikan oleh sistem ideologi yang lebih kuat.

Kekuatan bangsa- bangsa dalam mencipta bukanlah satu- satunya senjata untuk berdaya saing. Kita bisa melihat suatu fenomena, sekuat apapun Jerman atau Korea dalam menguasai inovasi, tetap saja bukan kedua Negara ini yang menguasai dunia. Siapakah penguasa dunia saat ini? Tentu saja Amerika Serikat dan China. Kedua Negara ini bukan hanya saja mampu menciptakan industri yang kuat, namun berhasil menyetir negara lain dengan inovasi teknologi dan ekonomi mereka. Amerika dengan dominasi ideology kapitalisnya, sedangkan China dengan falsafah ideology konfucius, Tsun Zu hingga komunis timur. Sebenarnya Jepang, pernah menjadi negara yang menggebrak dunia dengan paduan kekuatan ideology samurai dalam semangat industri. Hal ini terlihat dari perbedaan pola industri Jepang yang diilhami semangat samurai. Namun kini industri Jepang pun melemah karena para scholars justru mengikuti pola Barat (Stiglitz, 2011).

Bangsa ini masih memilki banyak pekerjaan rumah untuk merintis inovasi yang bisa saling terkoneksi dengan industri dan masyarakat. Isu untuk meningkatkan daya saing bangsa tentunya bukan hanya dimaknai sekedar untuk eksis di mata dunia, tetapi benar- benar berpengaruh dalam konstelasi dunia, yang tentunya harus mengawinkan kekuatan inovasi dengan kekuatan ideologi. Tugas berat ini selayaknya membuat kita setiap mahasiswa khawatir. Persiapan yang harus dilakukan bukan hanya sekedar meneruskan kemerdekaan, tetapi menegakkan keadilan dan kesejahteraan seusai pembukaan UUD 45, bahwa ‘kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa!’. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari pembodohan dan pemiskinan. Lantas apa kuncinya? Berkairya dan Berideologi!

Semangat berkarya yang 3 tahun terakhir didengungkan (sejak tahun 2009), bukan semata menjadikan mahasiswa sebagai kacamata kuda yang pragmatis memandang keilmuan.  Semangat berkarya yang sejati bukan hanya sekedar semangat untuk menciptakan produk saja. Semangat berkarya yang sesungguhnya adalah semangat memberi manfaat dengan karya nyata. Diilhami oleh suatu hakikat Al Quran bahwa Allah swt akan meninggikan orang yang menguasai ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat adalah ‘amal jariyah’ yang tak lekang lintas dunia. Inilah falsafah ideologi mengapa semangat berkarya selalu didorong oleh 3 periode kepemimpinan KM ITB yang berideologi Islam (Kabinet KM ITB Yusuf-Herry-Tizar/2009-2012).

Tanpa mengesampingkan asas ideologi lain, namun tidak dapat dipungkiri bahwa semangat ini ditegakkan dalam rangka menegakkan kalimat Tuhan melalui karya. Terpinggirkannya peradaban Islam di Tahun 1800- 1900an oleh kebangkitan Eropa, tidak lain disebabkan terpinggirkannya ideologi Islam di kalangan scholars Muslim saat itu (Kuran, 2011). Bukan sekedar mencipta karya yang didorong untuk industri bermodal besar, tetapi juga untuk masyarakat dan peradaban. Bukan bekarya untuk uang dan kenikmatan material, tapi kita ikhlaskan kepada Yang Maha Kuasa untuk menilai nilai ibadahnya.  Kita tidak akan ada matinya. Jika tidak ada uang, kita berkarya. Jika tidak ada fasilitas, kita berkarya. Jika tidak ada pujian, kita berkarya. Yang kita kedepankan adalah kepentingan masyarakat. So, inilah ideologi! Kamu?

Oleh Achmad Faris S.S.

Refrensi

Kuran, Timur. 2011. How Islamic Held Back The Middle East. Princeton Press: New Jersey

Stiglitz,Joseph. 2010. Freefall: American Sinking World Economy. Norton Company: New York

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.