Kemiskinan Pertanian; Sebuah Awal Degradasi Ruang (part1)

“Pak- pak kalau sudah besar aku gak mau jadi petani seperti Bapak… Aku mau hidup kaya raya… ”

Indonesia merupakan negeri yang akan potensi akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Pola- pola kehidupan masyarakat Indonesia masih didominasi oleh kehidupan perdesaan. Indonesia memiliki 62.806 desa dan hanya memilki 91 kota (BPS, 2004).

Pola kehidupan perdesaan sebagian besar disominasi oleh kehidupan pertanian. Namun lambat laun pertanian mulai ditinggal oleh masyarakat Indonesia karena tidak cukup menjanjikan kesejahteraan. Sekalipun telah bertani selama berpuluhan tahun tak jarang petani yang tetap hidup di garis kemiskinan. Apakah pertanian bukan suatu hal yang manusiawi untuk dipertahankan? Apakah Indonesia perlu meninggalkan pertanian jika ingin menjadi negara sejahtera?

Konsentrasi Kemiskinan di Perdesaan

Di era millennium, masalah kemiskinan masih menjadi suatu problematika utama. Diantara dengan pembangunan spektakuler di negara- Negara Asia- Pasifik, masih terdapat 475 juta masyarakat yang masih belum bisa lepas dari rantai kemiskinan alias 2/3 total masyarakat miskin dunia. Kemiskinan ini berdampak sangat luas terhadap aspek lain seperti peningkatan angka buta huruf, malnutrisi, permukiman kumuh, dan pengangguran. Ironisnya 70 % masyarakat miskin di Asia Pasifik bertempat tinggal di perdesaaan (UNESCAP, 2009). Dan sebagian besar diantara mereka bergerak di pertanian. Jika berkaca dengan India, 54 % masyarakat India adalah pertani. Dan sekali lagi mereka semua miskin. Terdapat 150.000 orang petani India bunuh diri per tahunnya karena miskin.

Seiring dengan pergerakkan era informasi yang kian cepat, semakin banyak wilayah perdesaan yang bertransfrormasi. Namun transformasi ini dapat berakibat baik maupun buruk bagi perdesaan. Ada suatu perdesaan yang bertransformasi menjadi perkotaan. Adapun perdesaan yang bertransforrmasi secara tata perilaku kehidpan.

Sebagai salah satu contoh transformasi Desa Wambone di Sulawesi Tenggara menjadi desa penambangan emas liar. Penambangan emas semakin marak sering dengan semakin banyaknya masyarakat pendatang dari Sumatera dan Jawa. Alih- alih mampu menumbuhkembangkan perekonomian masyarakat, namun hal ini justru membuat ketahanan pangan desa tersebut terancam akibat dialihkannya sumberr air irigasi ke tempat penadahan emas (Kompas, edisi Senin 15 Februari 2010).

Terkadang kemiskinan perdesaan menjadi- jadi akibat adanya transformasi gaya hidup ‘kekota- kotaan’. Transfer kultur lewat media televisi telah banyak membunuh kearifan lokal perdesaan. Kasus umum yang kerap terjadi adalah seperti pepatah besar pasak daripada tiang. Tak jarang uang hasil panen justru dialokasikan untuk membeli motor , televisi atau handphone ketimbang memutar modal pertanian.

Setitik Manis Citra Pertanian

Kala itu Kota New York dirundung awan kelam. Orang- orang berjas hitam keluar dengan muka masam dan lesu. Ketengangan ternyata tak terilhat di sepanjang 54th avenue. Kegelisahan juga terlihat di Central Bussiness District di Tokyo. Nilai saham Nikkei berjatuhan. Japan Airlines, General Motor, bahkan Bank of Scotland terancam pailit. Dunia mulai kehilangan kepercayaan terhadap ‘the magic hand as the market power’.

Sekalipun kita sering melihat fluktuasi perubahan harga produk pertanian. Namun sektor pertanian adalah sektor yang stabil disaat pergolakkan ekonomi dunia. Hal ini dikarenakan sektor pertanian sangat menyentuh kepentingan pokok hajat hidup manusia. Tidak ada satupun manusia yang dapat bertahan hidup tanpa pangan. Selain itu, ekonomi berbasis pertanian selama ini didominasi dalam perputaran supply dan demand lokal saja.

Fenomena tersebut setidaknya menggambarkan potensi pertanian di Indonesia. Dominasi ekonomi kapitalis dunia ternyata tidak sepenuhnya mampu menyentuh pertanian. Hal ini memberi setitik cerah harapan. Jika seandainya ekonomi berbasis pertanian mampu dioptimalkan, maka Indonesia dapat menjadi bangsa yang mandiri dan tangguh.

oleh Achmad Faris S.S.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s