Kemiskinan Pertanian; Sebuah Awal Degradasi Ruang (Part2)

Dimulai dari liberalisasi ekonomi

Falsafah fisika adalah dasar ilmu ekonomi. Falsafah ekonomi adalah ilmu tataruang. Ketidakseimbangan tarikan gaya kegiatan ekonomi selalu terjadi di era liberalisasi ekonomi Indonesia. Dan kaum yang lemah selalu jadi korban. Petani.

Di sebuah areal perkotaan pegunungan bernama Bandung Raya yang dikelilingi pegunungan terjadi suatu fenomena yang unik. Hijaunya pegunungan yang mengelilingi Bandung Raya seolah- olah berubah menjadi hutan beton. Pegunungan yang dulu hanya bisa dilihat berwarna biru dari kejauhan. Kini sudah terlihat jelas berwarna campur aduk, hijau, coklat dan warna genteng. Fenomena optik ini menandakan suhu yang memanas di pegunungan seriang dengan tergantikannya lahan hijau menjadi lahan terbangun.

Von Thunen dengan model teori lokasinya memang sudah menyatakan bahwa lahan pertanian yang berbasi pertanian memang akan selalu terpinggirkan oleh kegiatan ekonomi yang lebih bernilai tambah tinggi. Semakin tingginya nilai lahan akan berimplikasi pada harga pajak. Tentunya seorang petani tidak akan mampu mencapai keuntungan jika dia harus membayar tingginya harga pajak di lahan komersial/ retail. Hal yang wajar jika kita akan jarang menemukan lahan pertanian tepat di pusat kota yang notabene sebagai lahan komersial/ retail. Namun permasalahanya adalah, lahan komersial atau retail tersebut terus bertambah dan terus mendesak lahan pertanian.

Liberalisasi ekonomi di Indonesia memang telah membuat liberalisasi dalam pembangunan. Hal ini memang sedikit bertentangan dengan nilai kerakyatan Pansasila dan UUD 1945. Namun inilah yang terjadi di Indonesia. Pasca era reformasi, dimana pemerintah mengubah gayanya menjadi flexible government, masyarakat pun menjadi terlampau flexible dalam menanggapi kebijakan. Masyarakat yang lebih kuat, yang lebih menguasai modal akan menguasai pasar. Tentunya mereka akan menguasai ruang pula. Dalam ilmu fisika fenomena ini menimbulkan gama (kekacauan). Tarikan kegiatan ekonomi manusia menjadi tidak teratur. Fenomena urban sprawl atau perluasan aeral perkotaan ke samping semakin menjadi- jadi.

Sebuah kisah nyata terjadi di Jatinangor dan sekitarnya yang diangkat dari Harian Kompas edisi 21 Februari 2010.

Agus Jumiatin (33), warga Desa Caringin, menceritakan, tahun 1980-an, orangtuanya memiliki tanah seluas 25 tumbak (1 tumbak setara dengan 14 meter persegi). “Waktu itu tanah di sana harganya hanya Rp 32.000 per tumbak. Tiba-tiba datang orang kota yang berani beli Rp 35.000-Rp 100.000 per tumbak.
Orangtua saya dengan senang hati menjualnya dan tanah itu diubah pembelinya menjadi tempat kos-kosan,” katanya .

Setelah tanah itu dijual orangtua Agus tidak punya apa-apa. Uang hasil penjualan tanah pun menguap begitu saja. Untuk menopang kehidupan keluarga,
Agus bekerja di kos-kosan yang berdiri di bekas tanah milik orangtuanya dengan upah Rp 200.000 per bulan. ”Saya ngepel kos-kosan yang dulu tanah leluhur saya,” katanya. Sekarang dia tinggal menumpang di sepetak kamar milik mertuanya.

Cerita Nungkurniasih (49), warga Desa Hegarmanah, tidak kalah menyedihkan. Dia menceritakan, selama tiga turunan keluarganya tinggal di tanah perkebunan
karet di Cikadu, Jatinangor yang dulu dikuasai Belanda. Di tanah itu keluarganya dulu bertani dan memelihara domba.

Tahun 1982 tiba-tiba Nung dan keluarganya diminta pindah dari tanah tersebut dan diberi uang Rp 1,4 juta. Tanah itu kemudian menjadi bagian dari
kampus Unpad. Setelah itu keluarganya tidak punya rumah sebagai tempat tinggal. Akibatnya, sampai sekarang Nung dan keluarga terpaksa menumpang
tinggal di rumah kerabatnya.

Keluarga Nung juga tidak memiliki tanah yang bisa diolah. Suaminya menjadi pengangguran. Nung sendiri terpaksa bekerja sebagai petugas kebersihan di kampus Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad dengan upah Rp 600.000 per bulan. Ketika menyapu atau mengepel lantai gedung-gedung di kampus tersebut,
Nung hanya bisa mengenang bahwa kampus itu dulu adalah tempat dia bermain dan menggembala ternak.

Bercerita tentang pembangunan Jatinangor, pada akhirnya kita memang harus ber bicara tentang kisah orang-orang yang kalah. Kerap kali pembangunan bukannya menyejahterakan, tetapi justru memiskinkan warga setempat.

Kalaupun ada pekerjaan untuk mereka, paling banter sebagai tukang ojek, tukang cuci, dan satpam kos-kosan.

”Mau dagang tidak punya modal. Mau bekerja, tidak punya ijazah,” kata Supriatna. Mantan kepala sekolah sebuah SD di Jatinangor ini mengatakan, hingga
tahun 2000-an, sebagian besar penduduk Jatinangor hanya lulusan SD.

Dulu, tanpa punya ijazah, kata Supriatna, orang Jatinangor bisa hidup. Betapa tidak, alam memberikan hampir semua kebutuhan dasar mereka. Mata air di
Gunung Manglayang mengalirkan air minum ke rumah-rumah warga, sawah-sawah di sebelah barat, timur, dan selatan Jatinangor menghasilkan butir-butir padi yang bernas. Semuanya kini rusak. Alam bahkan tidak lagi memberikan air bersih, tetapi mengirimkan banjir setiap musim hujan.

Sekarang, semua kebutuhan dasar disediakan mal. Persoalannya, warga Jatinangor kebanyakan tidak punya uang untuk membeli barang-barang mal. Yang bisa
beli hanya mahasiswa dan para pendatang.

”Kami hanya bisa menonton sambil membayangkan enaknya minum kopi di mal seperti mahasiswa yang keren-keren itu,” kata Agus.

oleh Achmad Faris Saffan. S

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s