Green Transport tak Mesti Canggih

Kota mulai menampakkan hari. Kendaraan- kendaraan bermotor berjalan seperti rangkaian gerbong kereta. Bayang- bayang efek fatamorgana terlihat di sepanjang jalan. Panas terik matahari terasa langsung menusuk ke permukaan bumi. Tanpa ada lapisa ozon tebal yang melindungi.

Realitas

Isu mengenai dampak lingkungan mengemuka sejak mobil berbahan bakar fosil populer digunakan oleh masyarakat umum. Betapa tidak, transportasi merupakan penyumbang polusi udara terbesar dari jenis kegiatan amanusia lainnya. Sektor transportasi berkontribusi menyumbangkan 23 % CO (Carbon monoxide/green house gas).

Pertumbuhan kendaraan bermotor semakin tidak bisa ditekan. Semakin maju suatu masa, maka membuat daya beli masyarakatnya pun semakin meningkat. Keinginan setiap manusia untuk memilki kendaraan pribadi semakin tidak dapat dihindari. Fenomena urban sprawl (pelebaran kota) yang terjadi diseantero dunia telah membuat pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi semakin menjadi- jadi. Jauhnya jarak rumah dengan tempat berkatifitas akan membuat masyarakat membutuhkan kendaraan pribadi. Akibatnya kemacetan menjadi suatu konsekuensi logis. Di Amerika kerugian akibat kemacetan dapat dihargai sejumlah $ 308.871.000.000 per tahun. Adapun kerugian kemacetan di Indonesia sekitar Rp 250.000.000.000.000 alias 250 triliun rupiah per tahun. Kerugian ini dinilai dari kerugian waktu, ekonomi, serta lingkungan dan kesehatan.

Perwujudan Transportasi Ramah Lingkungan

Kebutuhan masyarakat akan transportasi sulit untuk dihilangkan. Kita membutuhkan suatu transportasi berkelanjutan untuk mengatasi isu ini. Istilah transportasi berkelanjutan sendiri berkembang sejalan dengan munculnya terminologi pembangunan berkelanjutan pada tahun 1987 (World Commission on Environment and Development, United Nation). Secara khusus transportasi berkelanjutan diartikan sebagai “upaya untuk memenuhi kebutuhan mobilitas transportasi generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mobilitasnya”.

Sejenak kita mungkin pernah membayangkan untuk memilki bertanaga listrik ramahlingkungan. Kita juga pernah membayangkan pernah memilki mobil bertanag listrik yang super ramah lingkungan. Namun biaya untuk menicptakan hal tersebut saat ini masih mahal. Apakah kita akan menunggu hal tersebut menjadi murah, baru setelah itu menyelamatkan bumi? Tentu saja tidak.

Indonesia dikenal memiliki khazanah budaya yang mendalam. Segala bentuk budaya tradisional telah lama tertanam dalam karakter bangsa. Budaya tersebut tidak hanya teridir dari tarian, lawakkan, sastra atau barang seni saja tetapi juga dalam bertransportasi.

Indonesia khususnya di Pulau Jawa memilki becak dan delman sebagai ikon transportasi publik yang sudah ada sejak lama.Ikon transportasi ini memilki kearifan lokal yang semestinya kita jaga.

Becak merupakan kombinasi sepeda dengan semacam bak penumpang yang dapat menampung 2 penumpang. Delman atau terkadang disebut andong merupakan sejenis kereta yang ditarik oleh kuda.

Baik becak maupun delman memang tidak benar- benar murni merupakan konsep yang berasal dari Indonesia. Konon becak mulai populer semenjak penjajahan Jepang ada di Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa becak dibawa oleh para pendatang dari Cina. Delman atau andong bersifat lebih original dari becak karena lebih lama keberadaannya. Selain itu sudah tidak jelas lagi asal muasalnya.

Baik becak dan delman sebenarnya merupakan suatu konsep ramah lingkungan. Namun saat ini keberadaan 2 jenis kendaraan ini semakin tergerus arus perkembangan kota. Bandung sebagai kota metropolitan sudah menyingkirkan becak dari pusat perbelanjaan dan pusat kota. Becak pun telah semakin tergantikan oleh besarnya jumlah kendaraan pribadi. Akhirnya kini jumlah becak tak perlu lagi dihitung dengan kalkulator. Delman pun demikian. Keberadaannya semakin jarang saja. Delman hanya dimanfaatkan sebagai kegiatan berpariwisata di kawasan tertentu. Hal ini dikarenakan becak dan delman dianggap sebagai penganggu roda pergerakkan. Kecepatannya yang tak secepat kendaraan seperti mobil dianggap sebagai pemicu kemacetan. Pengelolaanya pun terkadang semerawut.

Untuk menciptakan transportasi ramah lingkungan sebenarnya kita mampu memanfaatkan becak dan delman sebagai feeder transport (transportasi pengumpul). Becak dan delman seseungguhnya dapat dioperasikan pada berbagai jalan lokal , lingkungan perumahan dan beberapa kawasan perbelanjaan berupa shopping street. Kita pun dapat memanfaatkan kotoran kuda dari delman sebagai bahan baku biogas, atau pupuk alami bagi taman kota. Namun penerapan konsep ini perlu didukung oleh penerapan manajemen becak dan delman satu atap di suatu lingkungan perkotaan. Jika delman dan becak dibiarkan bergerak sendiri- sendiri, maka mereka akan menjadi tidak profesional dan bertarif mahal.

Mengintegrasikan delman dan becak sebagai salahsatu moda transportasi perkotaan dipastikan akan mampu mengurangi jumlah polusi perkotaan. Tentunya hal ini memerlukan perencanaan Transport Demand Management yang matang dan disesuaikan dengan karakteristik masyarakat kota.

Oleh Achmad Faris S.S.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s