Plered Harta Karun Yang Tak Bersinar

Monumen yang berliefkan sejarah keramik berdiri nan megah. Jalanan panjang yang bersembunyi di balik monumen menawarkan nuansa gersang. Terminal usang… Namun ternyata terlihat keramik- keramik cemerlang yang menunggu tangan ajaib.

Di samping gagahnya jalan tol Cipularang yang terdiri dari berbagai jembatan kokoh bukti kedigdayaan pembangunan infrastruktur, terdapat suatu harta karun yang tak bersinar. Berjuta orang melewati tempat ini,tapi meraka selalu tidak pernah menyadarinya. Pembangunan jalan tol Cipularang memang telah mengubah drastis garis hidup sentra keramik Plered.” Jika dulu Plered menjadi titik perlintasan jalur Bandung-Jakarta via Cikampek, saat ini semua orang lebih nyaman melewati jalan tol tanpa peduli lagi dengan Plered”, ungkap A. Nizar seorang Kepala Pusat Litbang Keramik Plered.

Plered merupakan suatu kecamatan yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Purwakarta. Hampir 80% masyarakat Plered menggantungkan hidup dari industri keramik. Tercatat terdapat 313 pengrajin keramik yang tersebar di Desa Anjeun dan Desa Citeko pada tahun 2001. Namun jumlah pengrajin saat ini terus berkurang secara perlahan. Tercatat di awal tahun 2010, jumlah pengrajin yang bertahan 283 pengrajin. Sebagian diantara mereka tidak mampu bertahan lalu, beralih pekerjaan ke sektor lain. Plered pun pernah mencatatkan masa gemilangnya pada tahun 2001 dengan mencapai nilai omzet 44,9 Milyar.

Sebenarnya Plered  pernah mencatatkan masa gemilangnya pada tahun 2001 dengan mencapai nilai omzet 44,9 Milyar. Betapa tidak, Plered sebenarnya telah dikaruniai Allah swt dengan tanah liat kualitas yang baik. Jenis tanah liat di Plered adalah earthen ware alias bersuhu bakar rendah. Hanya dengan suhu pembakaran 9000– 11800 Celcius keramik yang dihasilkan dapat mencapai kekerasan yang baik. Jenis tanah liat yang terdapat di Plered tentunya bersifat lebih efisisen ketimbang tanah liat di belahan Indonesia lainnya.

Hal berbeda justru terjadi di sentra keramik lain, yakni di Kasongan, Kabupaten Bantul, Daerah Istemewa Yogyakarta. Sentra keramik tersebut tidak memilki tanah liat yang cukup baik. Namun ternyata pangsa pasar keramik yang berasal dari Kasongan justru lebih baik.

Salahsatu penyebab matinya Plered lebih diakibatkan karena tidak adanya pencerdasan masyarakat tentang seni kerajinan. Sekalipun telah memilki Pusat Litbang Keramik Plered, namun sebagian besar pengrajin masih terdogma oleh kultur lama yang tidak sesuai dengan pasar. Bentuk intermediasi seperti menguhubungkan dengan seniman dan dosen ITB sebenarnya sering dilakukan. Baik seniman, dan dosen ITB sering mengajarkan desain dan teknik produksi keramik yang baik. Pusat Litbang Keramik Plered sendiri telah mengembangkan mesin pembakaran yang modern, sehingga mampu memotong lama porduksi dari 2 minggu menjadi seminggu. Namun idealisme yang terlalu kaku dari para expertise pada akhirnya menciptakan menara gading di kalangan pengrajin Plered.

Plered perlu mengubah dirinya. Konsep Plered sebagai sentra keramik yang biasa perlu diubah menjadi suatu desa wisata yang terintegrasi dengan industri keramiknya. Konsep desa wisata yang tercermin dari keramahan masyarakat Plered dan penataan yang asri tentunya akan mampu menjadi value added. Selain itu, Plered membutuhkan agen perubahan baru yang mampu mengintermdiasi dengan baik antara pengrajin dengan pasar tanpa membangun gap menara gading. Disinilah peran kita sebagai pemuda untuk turut berkontribusi.

Oleh Achmad Faris Saffan S.

Iklan

Satu pemikiran pada “Plered Harta Karun Yang Tak Bersinar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s