Optimisme Pemuda Indonesia

oleh: Achmad Faris

Suatu Renungan
Berapa umurmu sekarang???
sebuah pertanyaan singkat dan simpel bagi sebagian besar orang. namun orang- orang yang berpikir besar akan terhenyak ketika mendengar pertanyaan itu,,,
Jikalau Allah mau,, maka bisa saja Dia merekayasa hidupmu menjadi selamanya muda untuk berfoya- foya,,, namun memang hidup ini ternyata dipenuhi dengan keadilan dimana setiap manusia memilki jatah usia,,,
Kini pertanyaan baru muncul,,, “kau gunakan apa saja hidupmu???”
Maka orang dengan pemikiran besar akan menjawab,,, “Hidup ini telah kurangkaikan dengan mimpi yang besar yang kurancang sejak dulu,,,”
Aku ingin bisa lebih hebat dari M. Natsir yang telah berdebat dengan Soekarno saat ia masih 22 tahun.
Aku ingin lebih hebat dari Jenderal Soedirman yang merangkaiakan jejak perjuangan sejak usia muda hingga wafat.
Aku ingin lebih hebat dari Soichiro Honda yang merintis HONDA sejak usia muda,,,
“lalu pertanyaan baru muncul,, apa itu mimpi yang besar?”
“mimpi yang besar adalah saat seorang manusia berani bermimpi besar, sebuah mimpi yang berbeda dari orang lain, dan bermanfaat luas bagi orang banyak” …
“Hanya itu?”
“Iya,,, Namun hanya orang- orang yang memilki narasi besar yang mampu mentransformasikan mimpinya kedalam kehidupan nyata… Hanya orang bernarasi besar yang mampu mengajak orang lain mengikuti mimpinya dan hanya orang bernarasi besar yang mampu memberi manfaat kepada orang banyak dengan mimpinyaMembetuk sebuah sejarah baru di muka bumi ini”””
The New Movement
Generasi sekarang, yang lahir 300 tahun setelah revolusi industri dan 30 tahun setelah revolusi informasi memiliki tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Pemuda Indonesia saat ini memiliki tantangan yang sangat berbeda dengan generasi pendahulunya. Kita hidup di era komputasi. Sebuah lompatan yang diprediksikan oleh Gordon Moore 40 tahun yang lalu. Hukum Moore menunjukkan bahwa tren jumlah transistor yang ditempatkan pada integrated circuit akan tumbuh secara eksponensial, dengan laju dua kali lipat setiap dua tahun.
Revolusi ini menyebabkan kecepatan komputasional pemrosesan data secara digital, kapasitas penyimpanan, dan sebagainya yang tumbuh secara eksponensial. Reproduksi data menjadi semakin mudah. Akhirnya, muncul kebutuhan-kebutuhan baru. Pemuda yang tak punya account di YahooMessenger, Friendster, atau menonton video di Youtube disebut kampungan.
Bahan bacaan menjadi semakin mudah diperoleh. Cukup dengan beberapa ribu rupiah, Anda dapat menikmati seluruh simponi yang dibuat oleh Ludwig van Beethoven selama hidupnya. Lagu pop makin merajalela. Tontonan dapat kita peroleh dimana saja, mulai dari bioskop, hingga di layar LCD handphone. Dua puluh tahun yang lalu untuk dapat mengakses ensiklopedi, seorang petani harus menjual seekor kambing. Sekarang kita dapat mengaksesnya dengan murah, bahkan lebih murah dari seporsi sate kambing.
Pertengahanan 1990 Windows mencapai masa stabilnya. Windows menjadi software komputer yang mampu menciptakan standar bagi teknologi informasi dunia. Tak lama berselang setelah kestabilan Windows, Berners Lee menemukan konsep world wide web yang benar- benar mengubah dunia. Dunia seolah- olah menjadi datar. Munculnya internet adalah mahakarya terbesar akhir abad 20. Internet telah menjadi letupan kecil untuk memicu banyak budaya baru seperti offshoring, outsourcing, googling, blogging yang membuat dunia semakin kecil.
Revolusi ini menghasilkan sejumlah gejala baru. Pola produksi beralih dari form follows meaning menjadi form follows function. Kemudian, ia berubah lagi menjadi form follows fun. Sejumlah industri-industri baru muncul menawarkan kesenangan bagi pemakai. Sebuah industri pola baru yang tidak hanya menawarkan barang produksi, namun menawarkan sebuah intensitas fun. Gejala neo-kapitalisme ini menciptakan berbagai kebutuhan-kebutuhan baru dalam masyarakat. Sains dan teknologi telah membawa sejumlah ekses negatif. Steriotip pemuda saat ini begitu dekat dengan fenomena kenakalan remaja, narkoba, seks bebas dan lain sebagainya. Ini adalah gejala yang kita rasakan. Namun sesungguhnya apa yang sedang terjadi?
Jika pada masa lampau globalisasi pertama dimulai dengan perjalanan ekspedisi suatu negara untuk menaklukkan belahan dunia yang lain. Kini seorang individu dapat menembus batas ruang dan waktu untuk menaklukkan belahan dunia yang lain. Fbayangkan, ternyata sepruh warga dunia telah memilki ponsel. Fed EX, UPS, dan DHL telah berevolusi dari perusahaan kurir biasa, menjadi kunci supply chaining prusahaan ritel sekelas Wal-Mart ataupun Pizza Hut. Internet juga mampu membuat kekuatan intelijen Amerika Serikat semakin mengerikan karena semakin bisa terhubungn dengan seluruh belahan dunia dan hampir tak terdeteksi. Munculnya mekanisme Paypal atau pembayaran via internet semakin membuat manusia tidak perlu membuat pergerakkan transportasi untuk memulai aktivitas perdagangan.
Sistem ekonomi tidak hanya tumbuh, ia juga berevolusi. Secara umum, sistem ekonomi dapat kita bagi menjadi 3 fase yaitu:
1.Manufacturing Centered Economy
2.Hi-Tech Economy
3.Creativity and Innovation-Based Economy
Teknologi digital memang membawa sejumlah masalah. Namun, teknologi juga menyimpan sejumlah peluang baru. Alternatif solusi Indonesia sepertinya tersimpan pada jalur ini. Perkembangan sains kontemporer yang ada saat ini, tidak dapat kita lepaskan dengan berkembangnya teknologi informasi. Kemajuan komputasional telah melahirkan berbagai pendekatan baru. Sebuah pisau selain dapat digunakan untuk membunuh, ia juga dapat digunakan untuk memasak. Sains dan teknologi hanyalah sebuah alat. Sebuah pisau tidak pernah salah atau benar. Yang menentukan adalah actor di balik alat tersebut. Baik atau buruknya sebuah akuisisi sains dan teknologi sangatlah bergantung dengan wawasan kita dalam mengakuisisinya. Pesan inilah yang coba dibawa oleh Ir. Juanda. Laut Indonesia tidak hanya dapat kita pandang sebagai sebuah elemen pemisah. Ia dapat dipandang sebagai alat pemersatu. Cara pandang terhadap diri sendiri inilah yang kemudian kita kenal sebagai wawasan Nusantara.
Siapa yang bisa melakukan ini untuk Indonesia? Tentu bukan generasi tua, melainkan generasi muda. Bangkitnya pemuda Indonesia mestinya melahirkan pemimpin muda karena permasalahan Indonesia sudah sedemikian kompleks sehingga solusi yang diperlukannya tak bisa lagi sekadar berjangka pendek namun memiliki horizon berjangka panjang. Syaratnya tentu adalah bahwa pemuda tersebut mesti menunjukkan bahwa ia mampu menjadi subyek dan bukan menjadi obyek dalam dinamika masyarakat. Generasi mudalah harus mampu mengakuisisi Youtube, Friendster dan Facebook, Google, Joomla, dan sebagainya menjadi media untuk membangun bangsa. Generasi muda harus mampu mengakuisisi komunitas-komunitas muda, misalnya klub sepeda motor, untuk menjadi agen perubahan dengan menggunakan teknologi.
80 tahun yang lalu para pemuda dari seluruh nusantara berikrar dan mangacungkan bambu runcing. Saat ini, waktunya berikrar dan mulai menghujamkan jari-jari yang penuh semangat di depan keyboard komputer kita
Membangun Harapan yang Masih Tersisa
Obsesi dan harapan akan kejayaan bangsa ini kian hari kian menguat. Betul, setiap hari kita disuguhi dagelan politisi. Memang, tiap hari kita diberitai hal-hal buruk seputar kriminalitas, ketimpangan ekonomi, dan kebejatan moral. Demikian adanya, bahwa generasi muda masih banyak yang mengalami kehilangan orientasi. Seperti tayangan “live” acara musik tiap pagi di sebagian besar stasiun televisi yang selalu dipadati remaja di pust-pusat perbelanjaan. Kemana mereka dan apa yang sedang mereka lakukan sesungguhnya. Alih-alih bekerja keras, mencari ilmu, dan melakukan hal-hal bermanfaat lainnya, saudara-saudara kita lebih memilih “bergembira” bersama artis pujaan yang menyanyikan syair-syair dangkal dan murahan. Ditambah lagi dengan laga para penyiarnya yang sangat gembira dan bahagia karena telah menghibur para pemirsanya, padahal uang yang masuk ke perut meraka tidak ada harganya dibandingkan jasa mereka yang telah membantu anak-anak muda itu membunuh masa depannya sendiri.
Bagaimana pun, obsesi dan harapan akan kejayaan bangsa ini kian hari kian menguat. Masih ada pemimpin-pemimpin beintegritas dan bervisi di antara para politisi. Masih ada berita baik di rangkaian berita buruk yang menceritakan prestasi anak negeri di perlombaan sains dan teknologi di tingkat nasional maupun internasional. Atau mereka yang membuat karya untuk pengembangan masyarakat kecil dan pedesaan. Seperti dalam acara talk show di salah satu TV swasta yang mengangkat orang-orang yang telah melakukan suatu kebermanfaatan. Dan masih ada orang-orang baik di sekitar kita yang tak terberitakan maupun diwawancarai.
Mereka adalah sebagian kecil orang-orang yang menjadi anomali dari sistem pendidikan kita yang masih mengalienasi dan mendehumanisasi peserta didiknya. Sistem pendidikan yang menghebatkan para siswa menjawab soal-soal pelajaran yang rumit namun mereka tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana “hendak jadi apa kamu sebenarnya?”. Mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu mereka adalah para pembelajar sejati yang belajar tidak hanya di bangku pendidikan formal, di mana karakter, semangat, dan visi mereka pada umumnya terbangun tidak di bangku formal tersebut. Mereka biasanya tercerahkan di dunia organisasi, pengajian, di lapangan, jalanan, pertemanan, atau pun pembelajaran yang otodidak, atau jika beruntung mereka masih menemui satu atau dua orang guru yang masih sejati di bangku formal tersebut. Itulah mengapa saya sebut mereka sebagai anomali dari sistem pendidikan Indonesia. Mereka pun anomali dari kaum sebayanyanya dan arus industri yang menyasar mereka. Saat sebagian besar kawan-kawannya sedikit menghabiskan waktunya untuk belajar, maka ia sedikit menghabiskan waktunya untuk bermain. Saat yang lain mencontek dalam ujian, maka ia memperingatkan mereka untuk tidak mencontek. Saat orang lain gandrung dengan budaya pop dan hedon, maka mereka tidak suka bahkan membencinya.
Fenomena ini sesungguhnya mirip dengan apa yang terjadi di era kebangkitan nasional dahulu. Tokoh-tokoh besar kita; Soekarno, Hatta, Natsir, Syahrir, Tan Malaka, dan yang lainnya memiliki satu kesamaan yaitu mereka sama-sama pernah mengenyam pendidikan dari kolonial. Lalu apa kesamaan mereka yang membedakan mereka dengan orang-orang terpelajar lain yang jumlahnya jauh lebih banyak dan sekedar mencari penghidupan menjadi amteenar, bupati, atau tenaga administratif di pabrik serta perkebunan Belanda saja?
Kualitas pertama para pahlawan itu ialah mereka belajar bukan hanya agar lulus dari sekolah saja, melainkan mereka belajar untuk memperoleh pengetahuan sejati (kebenaran dan kebijaksanaan). Soekarno yang seorang mahasiswa Teknik Sipil tidak hanya membaca buku Konstruksi Beton, ia pun belajar agama Islam kepada H.O.S Tjokroaminoto, ia pun banyak membaca buku-buku sejarah, filsafat, politik, dan ekonomi pemikir-pemikir barat maupun Timur. Kekayaan referensi beliau bisa kita baca pada buku Indonesia Menggugat yang memiliki kutipan dan referensi yang luas sekali. Maka dengan kebenaran dan kebijaksanaan yang mereka peroleh dan yakini itulah, mereka menjadi pribadi yang memiliki keberanian dan integritas.
Kualitas kedua adalah mereka tidak hanya membaca pengetahuan formal yang ada di text book saja, melainkan mereka membaca dengan makna sesungguhnya (iqra). Yaitu membaca sejarah, membaca lingkungan, membaca masyarakatnya. Dr. Mohammad Hatta yang saat itu belajar ilmu ekonomi di Rotterdam secara formal hanya bergelut dengan aliran mainstream ekonomi saat itu; neoklasik (liberal) dan marxis (sosialisme). Namun Bung Hatta ialah seorang yang membaca sepenuh akal dan jiwanya, ia membaca dan berempati kepada masyarakatnya. Ia tidak lantas menjadi pembebek liberalis ataupun marxis. Hasilnya ia memformulasikan suatu konsep genuine bagi bangsa Indonesia; ekonomi kerakyatan atau ekonomi pancasila.
Kualitas ketiga ialah mereka memiliki visi dan bahwasannya gelar atau prestise bukan hal yang penting bagi mereka. Selepas AMS Muhammad Natsir ditawari untuk sekolah Hukum atau Ekonomi ke negeri Belanda. Namun ia menolak, dan ia memilih mendirikan sekolah dan mengajar di Bandung. Hal ini menunjukan suatu karakter yang hebat dari seorang pribadi yang berkualitas yaitu ia fokus pada visinya, dan ia tahu apa yang terbaik baginya. Seperti yang diungkapkan dengan sangat indah oleh Minke dalam Bumi Manusia-nya Pram, “Urusanku bukanlah harta, pangkat, dan kedudukan saja. Urusanku adalah bumi manusia dengan segala persoalannya.”.
Kualitas keempat ialah mereka orang-orang yang cakap memimpin dan gaul (berorganisasi dan memiliki jaringan yang baik). Soekarno awalnya dengan Klub Studi Bandung lalu terakhir mendirikan PNI, Natsir bergabung dengan Ahmad Hassan dalam Persatuan Islam, dan semua tokoh kita lainnya saat itu pasti terlibat aktif dalam sebuah organisasi. Yang paling fenomenal ialah Tan Malaka, ia menjelajah hampir seluruh benua Eropa dan Asia sebagai seorang agen Komintern. Mulai dari Belanda, Jerman, Rusia, Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, Shanghai, Hongkong, Burma, Malaysia, hingga terakhir menjelajah Jawa dan Sumatra.
Selalu, para pahlawan ialah pengecualian (exeception) dari zamannya. Dan memang untuk membuat suatu perubahan sejarah tidak perlu menunggu mayoritas berubah. Karena perubahan sejarah selalu dilakukan oleh orang yang sedikit dan bahkan dimulai hanya oleh satu orang. Yang perlu dilakukan adalah mencetak generasi perubah ini hingga jumlahnya cukup (melampaui treshold untuk suatu perubahan sosial), menghimpun mereka dalam barisan, lalu perhatikan apa yang terjadi. Dan hari ini fenomena-fenomena itu makin jelas terlihat di negeri ini. Tinggal kita memilih untuk diri kita sendiri; hendak menjadi apa. Dan itu dimulai dengan memilih bagaimana kita belajar.

Source:
Dikembangkan dari Materi mentoring Rihan Handaulah, dan
Achmadfaris.wordpress.com

Iklan

2 pemikiran pada “Optimisme Pemuda Indonesia

  1. like this! jarang ditemukan pemuda Indonesia yang optimis terhadap bangsanya sendiri termasuk saya. tapi setelah membaca tulisan ini, saya menjadi lebih “tercerdaskan” untuk selalu optimis dan mau berusaha menjadi bagian kecil yang menginginkan bangsanya untuk berubah. nice post

  2. thanks kiwi,, sudah terlalu banyak seminar yg diadakan di hotel berbintang.. tapi sayangnya kita suka mebayar mahal hanya untuk membuat bangsa menjadi semakin pesimis.. be optimistic!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s