Eureka!!! (Memetika dalam Peradaban Bangsa bagian 1)

Disaat manusia mengalami transformasi begitu cepat. Disaat para penguasa kapital memainkan skenario dunia. Disaat di pelosok dunia masih banyak anak kecil kelaparan. Disaat negara- negara berkembang mengobral hutan mereka untuk uang. Disaat perang ideologi diatasnamakan dengan perdamaian. Disanalah keberlanjutan peradaban dipertanyakan.
Sejak zaman kelahiran Adam dan Hawa sebagai manusia pertama, disana kisah kehidupan bumi dimulai. Gejolak nafsu jiwa dan cinta terjadi saat kisah perjalanan Adam dan Hawa mengarungi dunia untuk saling bertemu. Hingga peristiwa pertumpahan darah pertama antara kedua anak mereka yakni Habil dan Qabil.
Peradaban dunia selalu bergerak dengan kecepatan perlahan dan semakin cepat secara eksponensial dengan waktu yang ditempuh. Dinamika ini terjadi seiring dengan berkembangnya kapasitas manusia untuk berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Momentum- momentum setiap penemuan akan selalu mempengaruhi sistem peradaban dunia.
Steven Covey menggagas suatu konsep habbit yang dilakukan secara kontinu. Suatu kebiasaan bermula dari suatu ide kemudian melahirkan suatu tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang- ulang pada akhirnya akan memicu munculnya kebiasaan.
Namun suatu kebiasaan akan mampu melakukan lompatan jauh yang membentuk sesuatu hal yang besar. Kebiasaan adalah kodrat manusia yang kedua setelah rangkaian DNA seseorang. Kebiasaan yang dilakukan dalam jangka waktu panjang akan menciptakan tradisi. Tradisi- tradisi secara stimulan akan tergabung kemudian membentuk budaya. Lalu budaya- budaya tersebut melahirkan memetika dalam manusia.
Dahsyatnya memetika begitu luar biasa. Memetika adalah suatu konsep ide atau pengaturan pemikiran yang yang tertanam di dalam pemikiran seseorang, bahkan dalam suatu komunitas masyarakat. Memetika dapat bersemayam didalam alam bawah sadar seseorang. Dahsyatnya memetika, hal inilah yang membuat manusia bergerak melakukan suatu aktivitas kehidupan. Memetika inilah yang membuat ribuan tentara NAZI rela berperang untuk menguasai dunia bersama Sang Fuhrer, Adolf Hitler. Memetika inilah yang membuat jutaan masyarakat India melawan kolonialisme dengan swadeshi. Dahsyat memetika membuat Islam mampu menguasai peradaban dunia hingga 14 abad lamanya, bukan hanya dengan kehebatan Kerasulan Muhammad saw saja, tetapi lebih dari itu. Dahsyatnya memetika, sehingga dapat menciptakan peradaban.
Bagaimana memetika tercipta? Bagaimana menyebar seperti spora jamur keseantero dunia bahkan melebihi ruang dan waktu? Manusia selalu bergerak sesuai konstruksi berpikir akalnya dan keyakinan hatinya. Memetika sering kali tercipta oleh ketokohan atau memetika itu sendiri, atau sering kita sebut sebagai ideologi. Terkadang memetika juga tercipta dari kontemplasi yang akhirnya melahirkan suatu filosofi. Memetika tidak hanya terkoneksi oleh akal tetapi juga dengan hati atau jiwa. Memetika selalu lahir dari suatu kebenaran yang disebarkan melalui ketokohan. Hanya saja ada saja memetika yang bertahan begitu lamanya, dan ada yang hanya bertahan selama tokoh penyebarnya hidup. Memetika sering membuat umur biologis seseorang dapat jauh lebih pendek dibandingkan dengan umur peradaban seseorang.
Contoh tidak ekstrem sebagai ambiguitas memetika akibat kehilangan ketokohan terjadi pada Ir. Soekarno, Sang Proklamator. Mengagas Indonesia sebagai negara Pancasila yang berkeTuhanan Maha Esa, namun beliau juga mengagas paham ‘Nasakom’, Nasionalisme, Agamis dan Komunisme. Meme agamis dan komunis merupakan suatu prinsip yang jelas saling bertentangan. Satu sisi mengakui keTuhanan dan keimanan terhadap Tuhan, di lain sisi komunisme tidak menganggap keimanan terhadap Tuhan sebagai hal yang substantif. Ketidakonsistensian Bung Karno mengakibatkan hegemoni baru yang mulai meragukan paham yang Beliau gagas. Akibatnya terjadi euphoria harapan saat Soeharto (Presiden Kedua Republik Indonesia) melenggang sebaga presiden baru dengan brand ‘orde baru’. Sekalipun demikian, ketokohan Soekarno masih mampu bertahan hingga kini di beberapa kalangan sebagai apresiasi jasa beliau memerdekakan Indonesia.
Kehancuran memetika yang benar- benar mengubah peradaban sempat melanda dataran Eropa. Copernicus adalah pemuda ekstrem yang berpegang teguh pada paham astronomi bahwa bumi itu bulat. Kaum gereja tidak meyakini dia, dan justru menjustifikasi bahwa Copernicus adalah pemberontak karena telah menjangkiti masyarakat terhadap paham yang jelas- jelas tidak sejalan dengan persetujuan kaum gereja. Kaum gereja saat ini muncul sebagai pengekang doktrinasi. Untuk menghentikan determinasi pemikiran ilmuwan progresif seperti Copernicus, mereka tidak segan untuk menghukum mati mereka atas nama Tuhan. Fenomena ini tidak dapat dipungkiri semakin menghilangkan kepercayaan para cendekiawan terhadap kearifan gereja saat itu. Religiusme pada akhirnya semakin diragukan dan perlahan digantikan dengan stigma sekulerisme yang memisahkan antara agama dan urusan dunia. Filosofi bahwa logika dalah logika dan spiritual adalah spiritual secara langsung membangunLalu eureka!!! Akhirnya terciptalah suatu hegemoni di kalangan zaman renaisans yang membangun peradaban dengan logika.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s