Rol Film (Memetika sebuah Peradaban Bangsa Part 2)

Banyak organisasi yang sudah melakukan investasi yang sangat besar untuk data yang kemudian disimpan di dalam komputer, mengimplementasikan standard baru, kebijaksanaan, dan prosedur untuk membantu pembiayaan yang terkait dengan sistem informasi yang tercomputerisasi. (Roos Akbar)


Ketika detik- detik menjelang kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan 54, Jakarta, suasana ketegangan sekaligus kegembiraan merasuk kedalam jiwa sekelompok pejuang Indonesia kala itu. Sang proklamator tengah sakit, namun semangat mengalahkan keterbatasan beliau untuk memproklamirkan kata- kata proklamasi kemerdekaan di tengah status quo.

Para pemuda melakukan rapat semalaman hanya untuk merancang redaksi kata proklamasi. Susunan kata berkali- kali diubah agar benar- benar memberikan makna yang tegas dan diplomatis terhadap pernyataan kemerdekaan Indonesia. Sayuti Melik menjadi saksi betapa banyaknya jumlah coretan dan ubahan kata yang dilakukan tim proklamator agar benar- benar dapat menyampaikan makna semangat kemerdekaan.

Proklamasi dikumandangkan. Para pemuda menjalin kerjasama dengan radio BBC untuk mengumandangkan berita proklamasi keluar negeri sebagai suatu pernyataan sikap. RRI mengumandangkan ke seantero negeri untuk menyebarkan kabar gembira  ini pada seluruh rakyat Indonesia.

Kata- kata proklamasi menjadi simbol kemerdekaan terhadap kolonialisme panjang yang dialami oleh bangsa Indonesia. Proklamasi menghipnotis seluruh rakyat Indonesia untuk merebut tanah- tanah pertanian dari tuan tanah yang otoriter. Proklamasi menjadi pemicu semnagta perlawanan generasi 45 untuk mengusir tentara Jepang yang tersisa di Nusantara. Semangat proklmasi pula yang menjadi trigger pejuang semesta rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan dari dua periode agresi Belanda. Proklamasi pula yang memicu semangat sama rasa dan sama asa untuk membebaskan penjajahan rakyat Papua Barat dari Belanda. Eureka!!! Satu kata dapat mengubah segalanya!!!

Teks yang mengandung informasi benar- benar dapat menanamkan suatu memetika dalam peradaban. Naskah teks hukum pertama Arkadia menjadi suatu pertanda kemajuan peradaban manusia. Naskah kuno yang ditulis dalam batu yang dipahat dan ditulis dengan logam paku ini memberikan sejuta arti bagi para sejarawan untuk menerka kehidupan manusia di masa lampau. Naskah cerita pewayangan pun menjadi salahsatu kisah kolosal kompleks yang dapat bertahan hingga lintas generasi. Entah apakah sebuah sejarah yang direkayasa atau dongeng semata atau legenda, baratayudha tetap mampu memberikan kesan pada banyak kebudayaan yang membentang dari India hingga Nusa Tenggara.

Kekuatan teks juga terlihat dari kisah kepahlawanan seorang aktivis bernama Soe Hok Gie. Secara fisik dia adalah seorang pemuda biasa yang memilki cita- cita luar biasa dan memilki hobi mendaki pendakian gunung yang kemudian membentuk Mapala UI (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia). Namun jika dibandingkan dengan realita saat ini, mungkin sebenarnya dia adalah model aktivis biasa. Saat ini sudah banyak aktivis muda di kalangan kampus yang memilki ideologi kuat, cerdas, kuat, dan bahkan telah mandiri memulai suatu usaha. Namun yang membedakan dari Soe Hok Gie adalah kekuatan tulisannya.

Idiom informasi sebagai power tidak hanya dapat direpresentasikan oleh kekuatan kata- kata. Karena, 1 tindakan akan mengalahkan 1000 kata.

Menjelang detik- detik kemerdekaan, seorang pemuda bernama Frans Moedoer  menyiapkan segulung rol film untuk merekam peristiwa terlaksananya kemerdekaan. Dia merekam peristiwa proklamasi sebagai maksud untuk mendokumentasikan momen tersebut.

Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

Namun siapa yang membayangkan, jika pemuda ini menjadi orang yang paling membuat khawatir tentara Jepang kala itu. Pemuda ini benar- benar mengancam proses transformasi kekuasaan Indonesia dari Jepang ke Belanda. Karena, pemuda inilah yang menjadi kunci tranformasi memetika dalam informasi lintas waktu dan lintas generasi.

Negatif film yang dibuat oleh Frans Moedoer dapat memberikan inspirasi melalui informasi momen proklamasi. Negatif film ini selalu dicari- cari secara berturut oleh tentara Jepang hingga waktu kepergian mereka. Negatif film itu pun baru diambil beberapa tahun kemudian setelah situasi politik aman untuk kemudian di sebarluaskan kepada masyarakat. Tidak hanya pada proses zaman keberadaan proklamasi.

Teks dan visualisasi adalah elemen komplementer pemberian informasi. Semakin kuat suatu teks dan semakin kuat suatu visualisasi, maka akan semakin kuat pula memetika yang tertanam pada banyak orang.

oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s