Pembangunan Perumahan Melawan Kemiskinan

Kontirbusi Urbanisasi dalam Pemiskinan Masyarakat

Bumi semakin sesak. Idiom ini adalah hal yang paling sering diungkapkan sebagai isu pembangunan di seluruh dunia. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat drastis dalam kurun tiga dasawarsa terakhir mengakibatkan ruang menjadi suatu sumber daya yang cukup langka. Majalah National Geographic pernah mengungkapkan jika seluruh penduduk Indonesia dikumpulkan disuatu tempat untuk berpesta, maka hanya akan mampu menutupi seluruh Bogor saja. Namun tentunya konteks ini, masih tidak memperhatikan kebutuhan manusia yang lain selain menempati ruang.

Manusia memiliki berbagai kebutuhan yang perlu dipenuhi seperti pemenuhan suplai makanan, udara dan lingkungan yang sehat, bergerak, dll. India dan China merupakan suatu contoh negara yang mengalami peningkatan jumlah penduduk yang besar. Peningkatan ini berimplikasi pada tumbuhnya pula jumlah kebutuhan akan pangan, jumlah kendaraan bermotor beserta polusi yang ditimbulkan secara drastis. Konteks pertumbuhan China dan India menjadi bukti bahwa saat ini setiap manusia dituntut untuk mengatur penggunaan ruang secara bijak untuk menciptakan peradaban yang manusiawi dan berkelanjutan.

Ketika kita menilik Indonesia sebagai biodiversity country, di negeri ini pula diversifikasi kemiskinan terjadi dengan cukup menyentuh hati. Urbanisasi telah menjadi kunci pesatnya pertumbuhan fenomena kemiskinan di negeri ini. Tarikan dan dorongan urbanisasi sebagian besar dipengaruhi oleh kebutuhan manusia akan penghidupan ekonomi yang lebih baik. Suatu masyarakat desa banyak yang berpindah ke kota untuk mencari sesuap nasi. Namun mereka sering kali melupakan tingginya persaingan kota yang mesti diiringi oleh tingginya kapasitas pendidikan individu. Tak jarang dari para kaum pendatang dari desa yang pada akhirnya terjerembab dalam kemiskinan karena ketidakmampuan bersaing. Parahnya stock permukiman yang terbatas mengakibatkan tingginya nilai permukiman di perkotaan. Namun sebagian masyarakat yang notabene berpenghasilan rendah akan memilki daya beli hunian yang rendah. Tak pelak, banyak diantara kaum miskin kota yang pada akhirnya memilih hidup di daerah kumuh (slum) ataupun liar (squatter). Persoalan akibat keberadaan mansyarakat miskin yang tak terkelola mampu mempengaruhi aspek kehidupan perkotaan yang lain. Kriminalitas berbanding lurus dengan keberadaan masyarakat miskin suatu perkotaan. Selain itu, Faktor kenyamanan dan estetika kehidupan kota  akan banyak terpengaruh.

Faktor teknologi informasi yang menyeruak dengan lebih cepat ke seluruh negeri telah mempengaruhi gaya hidup dan cara pandang masyarakat perdesaan di Indonesia. Kaum muda di desa saat ini lebih menginginkan gaya kerja ala kota atau non pertanian. Hal ini berimplikasi pada perubahan struktur sosial dan ekonomi masyarakat perdesaan yang cenderung menyerupai kota. Implikasi terlihat cukup jelas di beberapa wilayah perdesaan di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Beberapa wilayah perdesaan mengalami gangguan keseimbangan kehidupan. Lahan- lahan pertanian lambat laun berubah menjadi bangunan pertokoan. Jumlah wilayah pertanian yang berfungsi menopang kehidupan manusia semakin berkurang. Hal ini diperparah dengan tertekannya keberadaan hutan lindung akibat ekspansi pembangunan fisik di perdesaan.

Fenomena sosial diatas telah mengubah paradigma manusia dalam mengembangkan kehidupan pembangunan yang lebih berkelanjutan. Urbanisasi telah terbukti tidak hanya menganggu kehidupan di perkotaan tetapi juga di desa.

Desa Kreatif

Selama ini konsen Kementerian Perumahan Rakyat cenderung terlihat pada angka kebutuhan hunian rakyat dan daya beli rakyat. Pembangunan rumah susun sederhana untuk memenuhi kebutuhan tersebut sudah banyak terlaksana di seantero negeri. Namun banyak pula kasus salah sasaran dalam alokasi Rumah Susun Sewa tersebut.

Pemerintah seharusnya mampu menggunakan pihak ketiga untuk menjamin partisipasi warga miskin yang mebutuhkan hunian. Pendekatan harus dilakukan secara intensif dan lokal. Hal ini dimaksudkan agar setiap masyarakat sasaran memilki rasa kepemilikkan yang besar terhadap pelaksanaan program oengadaan permukiman miskin.

Pembangunan perumahan, permukiman, dan perkotaan pada akhirnya adalah menuju dan untuk membangun peradaban bangsa. Pemenuhan kebutuhan permukiman seharusnya tidak hanya ditanggung oleh pemerintah saja, melainkan juga melalui partisipasi swasta dan masyarakat umum.

Jika selama ini pemenuhan kebutuhan permukiman cenderung hanya terjadi di kota saja, saatnya kita mulai mengarah kembali ke desa. Tumbuhnya desa sebagai tempat penghidupan masyarakat yang layak akan mampu mengurangi angka urbanisasi yang berdampak besar pada meningkatnya angka kemiskinan. Pembangunan perdesaan semestinya diprioritaskan, guna memecah konsentrasi pembangunan yang berkumpul di kota.

Pembangunan perdesaan terutama permukiman di desa harus mengedepankan konsep desa kreatif yang berkelanjutan. Desa kreatif adalah suatu bentuk desa yang memilki struktur kegiatan ekonomi komprehensif dari pertanian hilir, hingga industri rumah tangga pengolah hasil sisa pertanian atau alam lainnya. Desa perlu dikembangkan dengan memperhatikan hirarki pembangunan wilayah sekitarnya. Suatu desa harus mampu menghasilkan suatu produk yang dapat diekspor ke wilayah lain guna menopang kehidupan desa tersebut.

Desa pun perlu memperhatikan pola ruang yang berkelanjutan. Jumlah lahan lindung yang terbatas yang akan berbenturan dengan tumbuhnya populasi penduduk harus disiasati dengan inovasi yang berani. Saat ini desa harus mampu memulai pembangunan permukiman yang vertikal ke atas. Hal ini dimaksudkan agar konsentrasi permukiman tidak cenderung melebar dalam jarak yang jauh sehingga tidak efisien, tetapi juga untuk menghemat jumlah lahan lindung. Pembangunan permukiman vertikal tentunya tidak dapat disamakan dengan konsep di perkotaan. Hunian vertikal di desa mungkin hanya berkisar maksimal 2 lantai. Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor kultur dan pembiasaan sosiologi kemasyarakatan yang perlu dlakukan bertahap.

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s