Paradigma Ekonomi Baru Indonesia Yang Rapuh

Sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, Indonesia mengalami banyak tantangan perekonomian yang berat. Tantangan ekonomi yang muncul di Indonesia terkadang menjadi keunikkan dan mampu memberikan pelajaran bagi anak bangsa maupun bangsa lainnya.

Krisis ekonomi Indonesia tahun 1998 memberikan pengalaman berharga bagi negeri ini. Saat itu, dengan pertumbuhan hanya 3,9% pendapatan per kapita Indonesia berada di angka 1000 USD. Semestinya negara sebesar Indonesia hanya mampu bertahan dengan pendapatan per kapita 4000 USD. Banyak pakar mengatakan bahwa Indonesia akan mengalami balkanisasi, terpecah belah dan hilang dari peta dunia seperti Yugoslavia. Namun semangat persatuan Indonesia untuk mempertahankan NKRI lebih besar dari ancaman bangsa yang mendera. Indonesia membuktikan dengan keluar dari krisis pada tahun 2004. Sekalipun jumlah pengangguran tetap meningkat, namun tingkat kemiskinan dapat terus menurun. World Economic Forum pada tahun 2004 menyatakan bahwa Indonesia telah bergerak menuju “given economy” pada tahun 2004. Indonesia tinggal selangkah lagi menuju knowledge based economy menyusul India.

Saat ini Indonesia masuk sebagai negara G-20. Kita tidak hanya hanya menjadi pengikut skenario ekonomi, namun juga menjadi penentu arah kebijakan ekonomi. Besarnya negeri ini dengan sumber daya alam dan manusianya harus mampu dijadikan titik balik kekuatan ekonomi. Kinerja investasi dan ekspor yang meningkat telah mengurangi defisit dibawah 3% pada tahun 2010. Angka ini juga mampu mengurangi rasio hutang hingga 26% pada tahun 2010. Saat ini pendapatan per kapita Indonesia telah mencapai 3000 USD. Kondisi ini teru membaik sekalipun sempat terjadi krisis global pada tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tenga krisis dapat terjadi karena UKM (Usaha Kecil Menengah) mampu bertahan. UKM hadir sebagai pondasi ekonomi masyarakat yang tidak terlalu oleh impor yang rentan. UKM bukan hanya menjadi bisnis ‘konco’ seperti kebijakan pabrik footloose yang dapat datang dan pergi di negeri ini. Pada esensinya adalah Indonesia harus terus tumbuh sebagai negara ekonomi berbasis model integratif antara kreatifitas dan bisnis.

Indonesia memerlukan paradigma baru untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Tepat pada tahun 2045 Indonesia harus mampu memberikan persembahan kinerja terbaik, tepat 1 abad. Namun hal ini tentunya, tidak dapat dicapai dengan cara yang biasa. Tantanagan ekonomi tentunya akan semakin besar kedepannya. Pada tahun 2015 ASEAN akan melakukan integrasi perdagangan sehingga koneksi semakin terbuka lebar.

Untuk melakukan percepatan pembangunan ekonomi pemerintah berupaya untuk melakukan pembangunan 6 koridor ekonomi. Koridor ini terbentang pada koridor Sumatera, koridor Jawa- Bali, koridor Kalimantan, koridor Sulawesi, koridor Maluku Papua, dan koridor Nusa Tenggara. Pembangunan koridor ini sebagai mainstream pembangunan infrastrukutr yang diharapkan mampu memicu pemerataan industrialisasi di banyak daerah. Tumbuhnya indsutrialisasi diharapkan mampu meningkatkan kapasitas ekonomi Indonesia dari sekedar pengekspor bahan mentah, menjadi pengekspor bahan olahan atau bahan jadi.

Namun pembangunan koridor ini dapat menjadi suatu kerapuhan bagi ekonomi Indonesia itu sendiri. Mungkin Indonesia ingin menyerupai China yang mampu memproduksi miliaran barang dan jasa berkat majunya industri mereka. Tapi apakah kita serta merta akan melupakan karakter kekuatan bangsa ini.

Gagasan yang baik ini tentunya harus ditelaah secara komprehensif. Tidak hanya memperhatikan keutungan yang dapat kita terima, tetapi sederhananya juga memperhatikan kerugiannya. Jangan sampai proses industrialisasi ini justru memicu de-industrialisasi besar- besaran di negeri ini akibat ketidakmatangan konsep pembangunan.

Pembangunan koridor di banyak wilayah dapat berimpilkasi pada hancurnya alam Indonesia di beberapa tempat. Konsep urbansprawling di beberapa kota metropolitan seperti Bandung yang akhirnya menghancurkan keindahan alam Parahyangan itu sendiri akibat pembangunan justru menjadi bagian dari porese pemiskinan rakyat kecil yang kalah dalam persaingan ekonomi. Para petani kehilangan pekerjaan mereka akibat banyak lahan persawahan dan perkebunan yang terpaksa dijual.

Tumbuhnya infrastruktur akan dipastikan berimpilkasi pada tumbuhnya pusat- pusat ekonomi baru. Namun seyogyanya suatu pembangunan memperhatikan kapasitas masing- masing wilayah. Kapitalisasi pasar yang berlebihan bisa saja mencenderai niat baik pembangunan koridor ekonomi Indonesia. Industri Kecil Menengah yang dikamsudkan dapat tumbuh perlahan bisa saja mati perlahan jika tidak diiringi dengan peningkatan kapasitas ekonomi IKM. Investor global berbasis modal besar bisa saja mengambil alih manfaat secara besar- besaran terhadap investasi infrastruktur yang telah Indonesia berikan.

Infratsruktur memang menjadi kunci pembuka crack pembangunan ekonomi. Tetapi apakah kita lupa berkaca terhadap pembangunan infrastruktur Batam, dengan 7 jembatan penyambung Barelang yang belum optimal hingga kini. Ini menjadi indikasi bahwa selain konsep pemerataan, pembangunan ekonomi tidak boleh hanya memperhatikan infrastruktur saja. Diperlukan konsep pembangunan post- modern yang enggan melupakan karakter kekuatan yang berbeda- beda di tiap daerah. Karakter ini menjadi kunci kesuksesan suatu pembangunan, karena sifatnya yang khas dan tidak selamnya dapat distandardisasi.

Pendidikan dan kekuatan inovasi suatu negeri tidak bisa dipisahkan dalam pembangunan ekonomi. Faktor inilah yang akan menjawab apakah Indonesia hanya akan menjadi ‘kowledge base economy’ atau ‘inovation based economy’. Eskalasi ini tentunya tidak dapat dilakukan oleh pemerintah pusat saja, tetapi harus menjadi semesta perjuangan bagi rakyat Indonesia.

oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s