Impresi dan Awal Keresahan (Epilog KM ITB part2)

OSKM 2009

Menyadari dengan benar bahwa Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan salahsatu aset penting bangsa Indonesia. ITB telah tumbuh dan besar bersama sejarah bangkitnya negeri ini. Kepercayaan dan amanah yang diberikan oleh bangsa Indonesia merupakan investasi yang sangat mahal sejak Indonesia merdeka. Tanggung jawab kampus ini bukan hanya pada sains dan teknologi, tetapi juga seni dan ilmu sosial yang mampu mebangun peradaban luhur bangsa lewat karya dan insan yang berkarya.

Tepat di tahun 2006, ITB mulai mencanangkan suatu mimpi untuk menjadi worldclass university. Mencoba mekmanai arti Worldclass , ternyata bukan hanya bermakna mercusuar dan mendunia. Seorang professor kelas dunia harus melakukan suatu penelitian dengan teori kelas dunia untuk menyelesaikan permasalahan di daerah asalnya. Worldclass bermakna mengusahakan dayaguna ilmu untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Proficio bermakna panggilan jiwa manusia, peka terhadap persoalan dan tanggap terhadap penggunaan ilmu untuk kebermanfaatan masyarakat. Sekalipun banyak yang menentang, paham worldclass memang dianggap terlalu mengawang- ngawang. Mahasiswa menilai rektorat ‘sok MIT… sok Harvard’.

Menyadari besarnya cita- cita dan mimpi ITB, seharusnya KM ITB sebagai salahsatu pilar pelaksanakan tridharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat seharusnya turut berubah dan melakukan evolusi.

Jargon ITB sebagai kampus terbaik bangsa, bisa jadi sudah tidak benar- benar relevan (saat tulisan ini dibuat). Kebanyakan para senior yang merindukan romansa lama mengatakan bahwa mahasiswa kini tidak sepeka dan sekritis dulu. Produktivitas karya melemah, bahkan kuantitasnya dikalahkan oleh UGM dan IPB. Himpunan Mahasiswa Jurusan yang semestinya mampu menjadi inkubator karya dan ide mahasiswa jurusan, justru hanya disibukkan oleh kegiatan perayaan wisudaan 3 kali setahun, main kartu, pentas musik dan kegiatan kaderisasi. Padahal semestinya himpunan mahasiswa jurusan mampu menjadi wadah andalan dalam menciptakan karya. Dan semestinya setiap kaderisasi lembaga yang baik, mampu menghasilkan sumberdaya yang berkualitas yang produktif berkarya. Tampaknya obesitas kemahasiswaan terjadi pada ITB. Potensi besar sebagian besar mahaiswanya justru banyak yang teralihkan pada perpecahan internal lembaga, kerusuhan antar himpunan, bahkan berbagai kasus konflik dengan rektorat. Entah kenapa kemahasiswaan selalu membutuhkan musuh untuk membuat mahasiswa bergerak. Namun adilkah jika orang atau subjek tak semestinya yang justru menajdi musuh agar membuat kemahasiswaan dinamis. Maka saya meyakini, kemahasiswaan seperti itu hanya akan memberikan pembelajaran semu bagi mahasiswanya.

KM ITB yang juga meliputi himpunan- himpunan mahasiswa jurusan, justru semakin terbang tinggi dalam menciptakan gap gerakan. Organisasi sentral kampus semacam Kabinet KM ITB lebih condong melakukan gerakan vertikal sebagian poros utama gerakan mahasiswa. Kegiatan mengawal dan mengontrol kebijakan pemerintah seperti aksi demonstrasi di jalanan maupun press confference ke media lebih dibanggakan oleh kemahasiswaan terpusat ITB. Bahkan sejak OSKM (Orientasi Keluarga Mahasiswa), mahasiswa baru sudah ditanamkan berbagai macam doktirn mengenai sense of crisis Indonesia, nasionalisme, dan peran mahasiswa dalam membangun bangsa. Kegagahan seorang Komandan Lapangan yang berorasi mengenai penderitaan rakyat kecil dan ketidakadilan penguasa kala itu menjadi impresi, bahwa berkemahasiswaan adalah melawan pemerintah. Salam Ganesha dikumandangkan ke langit dengan ikrak, BAKTI KAMI UNTUKMU TUHAN, BANGSA DAN ALMAMATER menjadi ikrar sepanjang hari. Namun pertanyaan kecil terlintas dibenakku, apakah ikrar tersebut harus melulu ditumpahkan dengan perlawanan terhadap pemerintah? bukankah musuh utama kita bukan lagi Soeharto? Tampaknya pemerintah memang terkadang salah, tetapi sebagian putusannya benar. Apakah semua masyarakat Indonesia msikin? Tampaknya ada permasalahan yang jauh lebih mendasar ketimbang kemiskinan itu? Apakah menjadi mahasiswa sebuah institut teknologi harus hanya mengisi pos pemangku kebijakan saja kelak?

oleh Achmad Faris S.S

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s