Terbenamnya Teknologi di Kampus Teknologi (Epilog KM ITB part 3)

Gegap gempita kemahasiswaan ITB nyaris tidak pernah berujung pada satu kata, yakni ‘keprofesian sejati’. Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB selalu mengalami kesulitan jika diminta untuk mengumpulkan karya mahasiswa dari setiap himpunan jurusan. Kebanyakan mahasiswa beranggapan bahwa suatu karya haruslah memilki wujud nyata semacam maket atau model. Padahal hal tersebut nyaris mustahil mengingat karakter kelimuan mahasiswa ITB yang beragam dari ilmu dasar hingga ilmu terapan. Sebagian yang lain pu mengeluhkan bahwa mahasiswa nyaris tidak pernah mengerjakan karya kecuali tugas kuliah. Akibatnya, jika suatu saat datang kegiatan pameran yang bertujuan untuk memamerkan karya mahasiswa yakni, ITB EXPO 2008 stand karya mahasiswa justru diisi oleh alat- alat yang diambil dari laboratorium. Karya hasil dosen pun digunakan untuk formalitas agar pameran terlihat lebih ramai saja.

Alih- alih mahasiswa ITB dapat berkontribusi banyak bagi masyarakat, justru mahasiswa ITB terjebak dalam rutinitas kegiatan tahunan yang selalu dicari pembenarannya. Kegiatan kemahasiswaan seperti penyelenggaraan pameran untuk memperkenalkan masing- masing keprofesian kepada masyarakat acap diselenggarakan. Namun tak jarang dinatarnya yang justru sepi dihadiri oleh mahasiswa ataupun masyarakat luar. Hampir setiap minggu di antara bulan September hingga November dikala Ujian Akhir Semester datang, lapangan basket Campus Centre selalu digunakan untuk mengadakan kegiatan pameran atau seminar di aula timur. Ramainya kegiatan seperti itu memang dapat mendinamisasi mahasiswa dalam memicu berkarya dan memberi pembelajaran terhadap kepemimpinan. Namun sayangnya kegiatan semacam itu kerap dilakukan ‘sendiri-sendiri’ antara masing- masing himpunan mahasiswa jurusan.

Kegiatan rutin tahunan berupa Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional yang memiliki emapt kategori yakni, penelitian, teknologi terapan, pengabdian masyarakat, dan kewirausahaan juga sepi diikuti oleh mahasiswa ITB. Sepanjang penyelenggraan PIMNAS yang dulu bernama Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Lomba Karya Inovatif Produktif (LKIP) sejat tahun 1980 tidak pernah dijuarai ITB. Prestasi tertinggi ITB adalah dengan meraih juara kedua pada tahun 2009. Kontribusi jumlah proposal karya yang diberikan mahasiswa ITB terbilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, ataupun Institut Teknologi Sepuluh November. Terlepas dari ada pula mahasiswa ITB yang mengikuti lomba secara internasional, namun hal ini menandakan betapa minimnya produktifitas mahasiswa ITB dalam berkarya di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan.

Bak berlian di tengah jerami, Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) ITB mampu memberikan suatu kontribusi nyata yang menghenyakkan sekaligus menginspirasi. Dengan jargon, “satu tindakan mengalahkan seribu kata”, HME ITB meluncurkan suatu program Palapa yakni pembangkit listrik tenaga mikrohidro pada salahsatu desa di Kabupaten Garut. Program ini diawali oleh kerja sosial Elektro ITB angkatan 2005 yang selanjutnya dilakukan secara berkelanjutan pada program kerja HME ITB. Pendekatan community development adalah technical assistance, dimana HME membuatkan infrastruktur dan masyarakat diajarkan untuk mengelola. Program semacam ini mampu memberikan manfaat kemandirian bagi masyarakat desa tersebut.

Shana Fatina sebagai Presiden KM ITB tahun 2008-2009 yang didukung oleh Ronald M. Nehemia sebagai Menteri Keprofesian dan Inovasi KM ITB (Proinov) mencoba menangkap gerakan energi sebagai muara pemersatu keprofesian di ITB. Saat itu isu energi memang tidak dapat diakomodasi oleh mahasiswa lain, selain mahasiswa ITB itu sendiri. Dengan kemasan Gerakan Kebangkitan Nasional (GKN), diharapkan isu kelangkaan energi dapat dijawab secara fokus oleh mahasiswa ITB. Akhirnya Konferensi Energi Nasional Mahasiswa Indonesia diadakan di Aula Barat dan Timur untuk memberi masukan kebijakan kepada pemerintah Indonesia. Mereka cukup optimis dapat memberikan dan menekan pemerintah lewat lobi politik yang didukung oleh kuatnya koneksi KM ITB terhadap pemerintah. Namun sayangnya, konferensi tersebut nyaris tidak dapat memenuhi tujuannya untuk menekan pemerintah. Penyebab pertama adalah kurang dalamnya kajian konferensi yang diberikan, mengingat iklim mengkaji di kalangan mahasiswa saat itu terbilang minim. Penyebab kedua adalah persoalan energi ternyata jauh lebih kompleks ketimbang kajian akademis. Persoalan energi justru banyak dibumbui oleh faktor politik yang berujung pada ekonomi.

oleh Achmad Faris S.S

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s