ITB Dan Budaya Kewirausahaan (Epilog KM ITB part 4)

Sejak kampus ganesha berdiri, beberapa entrepreuner hebat telah lahir dan memberikan kontribusi nyta bagi pembangunan negeri ini. Sebut saja Fadel Muhammad pendiri Bukaka, Ciputra pendiri perusahaan pengembang properti Ciputra, Aburizal Bakrie dengan Bakrie Groupnya, Arifin Parnigoro pendiri Medco Group, bahkan hingga penghasil sekolah alam Lendo Novo dan socio entrepreuner Goris Mustaqim. Bukan menjadi besi tanpa arang, kesuksesan mereka juga melalui berbagai proses yang panjang dan berat. Adapula beberapa pengusaha yang tidak terlalu dikenal, namun tetap berjaya di bidangnya maisng- masing.

Semangat kewirausahaan merupakan kunci penggerak negeri ini. Ciputra mengatakan bahwasanya, suatu negeri setidaknya membutuhkan 2 % dari jumlah total penduduknya untuk menjadi pembuka lapangan kerja. Namun, saat ini Indonesia masih kekurangan pengusaha baru. Lantas wajar jika banyak lulusan perguruan tinggi di negeri ini yang pada akhrinya mencari pekerjaan di tengah ladang yang terbatas. Tak dapat dipungkiri, jika suatu saat di ITB kedatangan open interview bagi calon freshgraduate dari Schlumberger, Chevron, dan berbagai perusahaan asing selalu ramai diikuti oleh mahasiswa ITB. Ketika wisudaan telah tiba, sesekali dapat terlihat beberapa Sarjana Teknik baru yang luntang- luntung di Cisitu atau Tubagus Ismail sedang menunggu jadwal wawancara. Kita pun masih bermimpi jika di suatu saat nanti mahasiswa ITB akan dindominasi oleh mahasiswa pembuka lapangan kerja.

Koran- koran harian utama di negeri Eropa maupun negara maju Asia selalu dipenuhi oleh berita mengenai bisnis. Betapa perputaran informasi mengenai bisnis dan investasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk dikonsumsi setiap hari. Namun kolom- kolom berita di negeri ini masih banyak dipenuhi oleh bumbu pertiakaian politik, skandal, hingga kriminal.

Suatu perubahan dibutuhkan oleh bangsa ini untuk menempuh kemandirian dan daya saing yang lebih maju. Pengusaha- pengusaha muda perlu diproduksi dan dibina sejak dini.  Pembinaan diperlukan sebagai kaderisasi kebangsaan untuk yang tidak lain bukan untuk memperkaya diri sendiri, melainkan kemaslahatan bangsa.

Kampus merupakan wadah terbaik untuk memproduksi dan membina pengusaha muda. Sejak tahun 2010, ITB telah mencanangkan dirinya sebagai entreupreunerial university. Sebenarnya rintisan gerakan kewirausahaan sudah dipancing oleh mahasiswa sejak IEC (ITB Entrepreunership Challange) dilaksanakan pada tahun 2005. Kegiatan tersebut dirintis pada saat Dwi arianto Nugroho menjadi prsiden KM ITB. Hebatnya, pada tahun 2011 KM ITB berhasil melobi Metro TV untuk membuat reality show finalis IEC agar dikenal publik. IEC bertujuan untuk membuat persaingan antara ide bisnis untuk kemudian dipertemukan dengan investor yang tertarik dengan pengembangan bisnis tersebut. Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, mahasiswa akan semakin tertarik untuk menjadi seorang pengusaha.

Budaya kewirausahaan harus tumbuh dari kreatifitas. Kreatifitas dihasilkan dari dorongan untuk selalu berinovasi dan menghasilkan terobosan. Bandung sebenarnya sudah dihuni oleh ratusan potensi kreatifitas. Berkembangnya industri kreatif semcam distro di Bandung lahir dari hikmah saat krisis moneter. Pasca krisis moneter, ribuan orang yang di-PHK banyak menghasilkan usaha- usaha baru. Dimulai dengan kafe gaul yang sempat menjamur, hingga kini usaha distro dan factory outlet yang tersu berkembang. Ouval Research, 347, Airplane, dan berbagai brand pakaian yang dimotori anak muda justru mampu bersaing dengan brand barat di Singapura. Mahasiswa ITB seharusnya mampu menghasilkan produk bisnis yang jauh lebih inovatif. Basis sains, teknologi dan seni dapatlah menjadi bumbu lahirnya produk yang menggebrak seperti facebook di Harvard.

Intuisi sebagai pengusaha perlu dilatih untuk menebak arus ekonomi di masa depan yang dapat ditangkap oleh anak bangsa. Wawasan sebagai insan akademis di bangku perkuliahan, idealnya mampu melatih intuisi peluang bisnis. Sektor energi yang semakin langka ditangkap oleh sekelompok mahasiswa yang bergabung dalam kelopok bernama T-Files. Mereka berupaya untuk mensolusikan bisnis energi alternatif berupa instalasi pembangkit listrik tenaga arus laut. Dengan proses penelitian yang berkelanjtan, T-Files akhirnya mampu mendapatkan beberapa proyek. Selain T-Files, sekelompok mahasiswa elektro juga menangkap isu bisnis yang berkaitan dengan penghematan energi. Mereka menciptakan Ganesha Lamp. Suatu lampu LED yang sangat hemat energi, namun memilki pandaran cahaya yang terang karena sistem rotasi nyala lampu.

Selain dengan kreatifitas dan pembangunan intuisi. Budaya kewirausahaan perlu dibangun bersamaan dengan pola hidup sederhana. Keterbatasan acapkali memicu seseorang untuk hidup efisien dan akhirnya berupaya untuk mencari jalan secara lebih untuk tidak konsumtif. Perilaku konsumtif di negeri ini memang terhitung memprihatinkan. Seorang wirausahawan sejati semsetinya terpacu untuk memproduksi sendiri. Tingkat konsumsi yang tinggi terhadap game dimanfaatkan oleh sekelompok anak elektro dan informatika yang tergabung dalam kelompok putri petir. Mereka membuat suatu game kebudayaan, hasil adaptasi dari dance-dance revolution. Tari Saman dari Aceh diadaptasi kedalam suatu console dan software hingga menjadi suatu game tarian yang diberi nama Thousand Hands Revolution. Menariknya game ini, pada akhirnya membuat kelompk tersebut mendapat tawaran dari berbagai pameran hingga investasi dari investor.

Diantara berbagai nilai budaya kewirausahaan yang tertanam di ITB, nilai kejujuranmerupakan hal yang paling penting. Suatu fenomena mengenakan terkadang terjadi di ITB. Budata transparansi penggunaan dana saat penyelenggaraan acara terkadang masih tidak jelas. Beberapa mahasiswa yang mendapatkan dana bisnis, justru menggunakan dana tersebut untuk keperluan lain. Integritas dalam berbisnis merupakan kunci terbagunnya pondasi ekonomi di negeri ini. Percuma saja, jika di negeri ini banyak lahir pengusaha baru, namun bermental dzalim pada rakyat. Disinilah esensi utama pembinaan kakarter kewirausahaan di kehidupan kampus. Kampus haruslah berupaya untuk menjadi penjaga nilai calon lulusannya agar berkarakter baik bagi bangsannya.

oleh Achmad Faris

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s