Kita Bisa

Performa Ekonomi Indonesia

Kemiskinan masih menjadi isu hangat bahkan di banyak negara dunia. Kita sama-sama mengetahui bahwa di tahun 2000 lalu Indonesia sudah menyepakati MDG’s (Millenium Development Goals Strategy) yang salah satu poinnya adalah pengentasan kemiskinan hingga 50% pada tahun 2015. Hal ini menandakan bahwa memang kemiskinan masih menjadi musuh bersama bangsa ini.

Tingkat kemiskinan di Indonesia masih berkisar pada angka 32,53 juta penduduk di tahun 2009, atau masih sekitar 14,15% penduduk negeri ini. Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis Kemiskinan di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta atau 13,33 %, turun 1,51 juta dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang sebesar 32,53 juta atau 14,15 % (Badan Pusat Statistik, 2010). Namun indeks ini masih dihitung dengan indeks standar PBB. Jika digunakan standar Indonesia, yaitu dengan pendapatan sekitar Rp200.262,00 per bulan, atau sekitar Rp6.675,00 per hari. Kita akan menemukan angka yang jauh lebih besar jika kita mengikuti PBB dalam memasang threshold kemiskinan yang ada. Sekalipun persentase jumlah masyarakat miskin dapat ditekan, namun hal ini masih telak dan ironis mengingat negeri kita digadang-gadang sebagai negeri yang kaya. Gemah ripah loh jinawi.

Disatu sisi saat ini kita masih bisa berharap bahwa ternyata pendapatan per kapita masyarakat Indonesia telah mencapai 3000 US$. Riset Globe Asia (Mei 2008) menobatkan Aburizal Bakrie, Mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu, sebagai manusia terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan US$ 9,2 miliar (Rp84,6 Triliun) dari total aset 150 orang terkaya di Indonesia sebesar US$ 69,3 miliar (Rp637,3 triliun). Bandingkan nilai kekayaan mereka dengan APBN 2008 sebesar Rp854,6 triliun, maupun anggaran penanggulangan kemiskinan 2008 sebesar Rp 32 Triliun.

Pemerintah melalui Arni Rahwati, Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu II menyatakan bahwa indeks pemerataan kesejahteraan atau gini koefisien adalah 0,031. Indeks ini menyatakan bahwa kondisi pemerataan kesejahteraan di Indonesia masih lebih baik dari China.

Pengangguran di Indonesia pun serupa. Angka pengangguran yang besar, sekitar 9 – 10 juta jiwa, atau sekitar 10% usia produktif Indonesia, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Mayoritas pengangguran disebabkan karena minimnya keahlian, bahkan ada yang sampai tidak punya keahlian dasar seperti membaca, menulis, dan menghitung. Data historis menunjukkan bahwa ada peningkatan drastis dari tahun 2008 ke 2009 terhadap pengangguran yang belum pernah sekolah/tamat SD.

Optimisme Pergerakkan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2010 hingga quartal pertama 2011, masih dapat dikatakan cemerlang. Ekonomi Indonesia mampu tumbuh pada angka 6,7% (Kementrian Keuangan, 2011) .Indonesia terus tumbuh paling cepat jika dibandingkan dengan negara lain di Asia termasuk China dan India. Negara lain seperti Taiwan, Singapura dan Korea justru mengalami ketakstabilan ekonomi. Namun, indeks Indonesia bersaing ketat dengan pertumbuhan ekonomi Vietnam.

Menurut buku World in Figure 2003, yang diterbitkan oleh The Economist, USA, Indonesia adalah negara nomor 1 di dunia dalam menghasilkan lada putih, buah pala, kayu lapis, nenas dan LNG. Indonesia adalah archipelago 13.000 pulau  yang memiliki perairan laut seluas 60 juta km2 dengan garis pantai terpanjang di dunia, yaitu 81.000 kilometer. Tapi Indonesia juga mengimpor 2,5 juta ton garam per tahun dari Australia (Fadel Muhammad dalam Kuliah Studium Generale, 2011).  Dari wilayah yang seluas itu, potensi perikanan tangkap di Indonesia mencapai 6,26 juta ton pertahun. Namun Indonesia juga mengalami kebocoran potensi perikanan sejumlah jutaan dolar per tahun.  Indonesia juga memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia yang menyumbang sekitar 10% dari total luas hutan dunia. Tapi Indonesia juga terus kehilangan jumlah hutan seluas 2 buah lapangan bola per hari dan hasil kayunya entah ada dimana (WWF, 2007).

Tidak hanya itu, Indonesia memiliki cadangan yang lebih dari cukup untuk kebutuhan mineral dan logam nasional, bahkan internasional. Hingga saat ini Indonesia mampu memasok sekitar 24% timah dari total kebutuhan dunia atau setara dengan 60.000 ton, lalu merupakan produsen terbesar keempat dunia untuk komoditas tembaga, kelima untuk komoditas nikel dan ketujuh untuk emas. Cadangan minyak kita diperkirakan masih ada hingga 45 milliar barel, kekayaan batu bara kita merupakan yang keempat di dunia. Namun tidak seluruh sumber daya nasional mampu dimanfaatkan oleh bangsa sendiri. Indonesia masih terjerat dosa kontrak pada penambangan emas Freeport di Tembagapura yang tidak hanya menambang tembaga, melainkan emas dan uranium.

Berjuta sumber daya yang belum optimal terasa oleh berjuta rakyat merupakan pekerjaan rumah bagi bangsa untuk membuktikan rasa syukur terhadap Sang Pencipta. Menilik posisi pergerakkan ekonomi Indonesia, pada masa orde baru Indonesia masih didominasi oleh kondisi given economy. Kondisi ini dicirikan oleh didominasinya pemasukkan negeri ini dari eksploitasi bahan alam, atau olahan alam dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, maupun peternakkan. Namun untuk menjadi negeri yang maju, Indonesia takkan mampu terus mengandalkan pemanfaatan alam saja. Indonesia perlu bergerak lebih cepat dan mengarah kearah knowledge based economy, saat ilmu pengetahuan dan penelitian  menjadi penyokong peningkatan produktifitas ekonomi nasional. Pemerataan infrastruktur dan pusat pertumbuhan ekonomi baru dalam konstelasi nusantara perlu dilakukan. Kedua hal ini menjadi penting dalam rangka melakukan percepatan peningkatan daya saing Indonesia.

Saat tulisan ini ditulis, aku berusia 21 tahun. Aku dan generasiku yang akan membuktikkan apakah kelak kita dapat melihat Indonesia memberi maslahat pada sejarah peradaban, bukan sekedar jaya. Pilihan untuk menjadi aktor atau penonton ditentukan dari sekarang. Saatnya kaum muda bergerak, meruskan pondasi yang telah dibangun oleh pemimpin saat ini. Harus sejak saat ini, kita berpikir, kado indah apa yang akan kita berikan pada ulang tahun ke-100 negeri ini. Aku ingin aku, kamu dan mereka membuatnya.

oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

Refrensi:

Badan Pusat Statistik. http://www.bps.go.id

C. Wright Mills. The Power Elite. 1956 (New York: Oxford University Press).

Cahya H.W. Peran Mahasiswa Dalam Pembangunan Daerah. 2009.

Henry Etzkowitz. The Triple Helix: University – Industry – Government, Innovation In Action. 2008 (New York: Routledge).

Joseph E. Stiglitz. Dekade Keserakahan. 2003. Tangerang: Marjin Kiri.

Joseph E. Stiglitz. Moving Globalization Work.2007. Jakarta: Mizan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 – 2014. Bappenas RI.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s