Dilema di tengah Maraknya Pembangunan Kota Baru

Ancaman pembangunan kotabaru terhadap lahan pertanian

Tren pengembangan kota baru sebagai upaya desentralisasi aktivitas perkotaan memilki tujuan untuk mengalihkan aktivitas perkotaan dari beban yang berlebihan. Kota- kota baru diciptakan sebagai upaya untuk memunculkan pusat ekonomi baru. Kota- kota baru dibangun pada daerah pinggiran seperti Tanggerang Selatan, Bogor dan Bekasi yang pada awalnya didominasi oleh lahan pertanian atau perkebunan. Pembangunan kota baru sudah dilakukan sejak tahun 1980. Terdapat 25 proyek pengembangan perumahan besar hingga awal tahun 1990 dari berskala 500 hektar hingga 6000 hektar per proyek .Namun pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 1997- 1998, jumlah proyek kota baru yang dapat bertahan hanya 3 sampai 5 proyek. (Firman, 2004).

Perpaduan antara kepadatan kota dengan infrastruktur kota yang kurang memadai dengan kelas masyarakat baru digunakan oleh para pengembang untuk megubah suatu wilayah perdesaan menjadi suatu wilayah suburban dengan segala kenyamanan termasuk jalan raya,drainase, sekolah, pusat kesehatan, pelayanan keamanan dan area penghijauan. Proses ini merupakan suatu fenomena yang telah mempercepat pertumbuhan Jakarta dari 1970 hingga saat ini (Dieleman, 2011).

Pertumbuhan kotabaru biasanya memakan korban yakni, kaum petani yang tidak memilki kapasitas untuk mempertahankan lahan. Progresifitas pembangunan kotabaru memicu perubahan fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan terbangun. Berdasarkan teori von thunen, lahan pertanian akan memilki nilai paling rendah. Oleh karena itu, secara lokasi selalu berada di daerah pinggiran kota atau menjauhi pusat kota. Stagnansi nilai lahan pertanian memang membuat penggunaan lahan pertanian akan kalah bersaing jika dibandingkan dengan penggunaan untuk perumahan atau komersial. Petani akan menerima hasil penjualan lahan mereka dari spekulan atau langsung dari pengembang dalam harga yang rendah. Sebagai contoh adalah, Kotabaru Alam Sutera salahsatu perumahan berskala besar yang berada di daerah Tanggerang Selatan. Pada saat awal pembebasan lahan, tanah dibeli oleh pengembang pada harga Rp 5000 per meter persegi. Kemudian setelah dikembangkan, nilai lahan yang dijual dapat mencapai Rp 1.200.000- Rp 2.000.000 per meter persegi ( Kuliah Pengembangan Lahan, Perencanaan Wilayah dan Kota oleh Haryo Winarso, PhD)

Masyarakat lokal yang dulu menempati lahan kotabaru tidak berpindah tempat ke lokaso lain. Kebanyakan dari mereka hidup bersebelahan dengan lokasi kotabaru dengan segregasi sosial yang signifikan. Masyarakat lokal yang berkeahlian sebagai petani kehilangan lahan penghidupan. Konsekuensi untuk merubah lahan penghidupan ke sektor jasa tak sepenuhnya dapat diikuti oleh kaum lokal.

Tren pengembangan kotabaru secara horisontal semestinya dapat ditekan. Dapat dikatakan bahwasanya pendekatan kotabaru secara horisontal dii Jakarta Metro Areadan Jawa Barat perlu ditekan dalam penggunaan lahannya. Sebenarnya pembangunan horisontal pada kotabaru merupakan konsep konvensional sejak pertama kali konsep kotabaru diperkenalkan di Inggris. Kota baru Inggris seperti Northamptonshire, Bedfordshire, Lancashire dan Buckinghamshire dibangun dalam pola linear. Konsep ini dibuat untuk menunjang daya dukung transportasi dan memicu pemabngunan awal sepanjang jalan yang dibangun. Kondisi ini dibuat pada saat Inggris Raya masih memilki banyak lahan tidur. Setiap kotabaru didukung dengan sistem perhentian bus dan sistem rel terpadu yang menghubungkan kotabaru dengan kota lainnya (Wilson,1965). Dengan menggunakan pendekatan tersebut,pembangunan kotabaru dapat dikontrol secara terencana. Hal ini jelas berbeda pada pola pembangunan kotabaru di Indonesia. Pembangunan kotabaru justru ditunjang oleh sistem jalan tol. Pembangunan jalan tol justru memicu perkembangan perumahan skala besar baru yang lebih masif. Jika suatu ketika muncul perumahan skala besar yang muncul, maka pihak pengelola jalan tol siap untuk membuka pintu tol baru yang mendekati kotabaru tersebut. Akibatnya pembangunan kotabaru menjadi tidak terkontrol.

Perubahan lahan pertanian menjadi lahan terbangun dalam kasus pembangunan kota baru di wilayah metro Jabodetabek dapat mencapai 12.500 hektar per tahun (Firman, 2004). Tidak terkontrolnya pertumbuhan kotabaru sebagai upaya desentralisasi tidak hanya memicu segregasi sosial dan ekonomi pada masyarakat, tetapi juga kestabilan lingkungan. Jika terus dibiarkan, berkurangnya lahan pertanian terus menerus dapat mengancam ketahanan pangan bagi masyarakat. Apalagi lahan pertanian di Pulau Jawa merupakan lahan vulkanik tersubur di Indonesia. Namun disatu sisi, pembangunan pun tertumpuk di pulau ini.

Pemanfaatan sistem informasi digital untuk keberlanjutan lingkungan

Tidak dapat dibayangkan jika tiap- tiap pusat pertumbuhan baru terus melahirkan multiplier effect pembangunan pada wilayah sekitarnya. Merupakan hal yang wajar jika suatu saat nanti Pulau Jawa akan terus kekurangan lahan pertanian produktifnya. Oleh karena itu, diperlukan suatu gagasan baru dalam konsep desentralisasi pembangunan kotabaru di Indonesia.

Sebenarnya, para pemerintah dan pengembang akan dapat memanfaatkan konteks globalisasi dalam pengembangan kotabaru kedepannya. Konteks perkotaan menjadi berubah seiring dengan globalisasi dan berkembangnya teknologi telekomunikasi. Perubahan konteks perkotaan, terjadi sebagai imbas dari munculnya ‘paradigma baru ekonomi’ pada awal 1980. Paradigma ini sering digunakan sebagai konteks ‘new economy’ atau sering juga disebut dengan ‘knowledge economy’ yang mengubah dan meredefinisi cara manusia hidup dan bekerja pasca abad 21. Manifestasi nyata dari paradigma ini adalah internet, dan pengaruh konsep bisnis dan produksi pemberi nilai tambah (Shapiro dkk, 2000). Ekonomi tercipta bukan hanya dari sekedar bahan alam yang mampu diambil , melainkan menjadi konsep pemberian nilai tambah. Digitalisasi mampu memunculkan 3 buah revolusi yakni memicu tumbuhnya bisnis berbasis informasi yang tidak membutuhkan pergerakkan, integrasi informasi dunia yang lebih cepat, dan kemunculan pola produksi berorientasi nilai tambah yang lebih efisien (Brigss,2004).

Modal transformasi digital merupakan potensi untuk melakukan pengembangan kotabaru dengan ‘zero-transportation concept’. Kegiatan perkantoran yang selama ini cenderung beragomerasi di beberapa kawasan dengan maksud agar saling terkoneksi dengan rantai bisnis, akan menjadi tidak relevan. Suatu sistem perkantoran di kota baru akan dapat terintegrasi dengan sistem perkantoran pusat. Deskripsi pekerjaan akan mampu didelegasi ke berbagai tempat, termasuk perkantoran di kotabaru. Oleh karena itu, pergerakkan warga kotabaru dengan tujuan bisnis berpotensi untuk ditekan seminimal mungkin. Kecenderungan kotabaru untuk semakin menjauhi kota inti dapat diterapkan dengan dukungan sistem informasi. Area penyangga hijau (buffer) bagi kota inti yang selalu menjadi calon kotabaru menjadi dapat ditekan.

Oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

Refrensi:

Brigss, Guy. 2008. Future Forms and Design for Sustainable Cities:Intelligent Cities:Ubiquotious Network or Humane Environment. Elsevier: London, UK

Dieleman, Marleen. 2011. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde Vol. 167, no. 1 (2011), pp. 60-85: New town development in Indonesia. http://www.kitlv-journals.nl/index.php/btlv.

Firman, Tommy. 2003. New Town Development in Jakarta Metropolitan Region (JMR): a Perspective of Spatial Segregation. Department of Urban and Regional Planning of ITB: Bandung.

Krause, Linda dan Petro, Patrice. 2003. Global Cities: Cinema Architecture and Urbanism in Digital Age. Rutgerss University Press: New Jersey.

Moughtin, Cliff dan Shierley, Peter. 2005. Green Dimensions of Urban Design. Elsevier: London, UK.

Torres, da Gama, dkk. 2002. Poverty and Space: Patterns of Segregation in São Paulo. Journal of Workshop on Spatial Segregation and Urban Inequality in Latin America: Brasil

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s