There is A Man

Tidak semua yang kita lihat didunia ini adalah suatu kebaikkan. Terkadang kita melihat kegelapan persis disamping kebaikkan. Namun tidak semua orang yang berada dalam kondisi kebaikkan mau untuk mengubah orang yang membutuhkan cahaya kebaikkan.
Sesaat aku melihat seorang pria baya berjalan lesu di suatu koridor jalan. Ia mengenakan pakaian compang-camping dan lusuh. Disampingnya mengikuti seorang anak kecil menggunakan pakaian dengan kerudung merah muda yang sedikit lebih bersih. Anak kecil itu adalah anak dari pria baya tadi.
Sesekali mataku tertuju melihat pria baya tersebut yang akhirnya duduk istirahat diseberang trotoar didepanku. Kuabaikan sejenak siomay enak yang tengah aku santap. Mataku tertuju pada pria baya tadi yang mengeluarkan recehan uang dari saku bajunya. Dia berikan recehan tersebut pada anaknya. Tersenyum senang anak kecil itu membelikan uang pemberian ayahnya seporsi siomay. Aku tak tahu persis berapa jumlah yang ia beli, namun setahuku siomay yang aku tengah aku santap ini terbilang cukup mahal bagi sebagian kalangan.
Kulanjutkan untuk memakan siomay yang enak ini. Kupikir seporsi siomay itu memang akan dibagi dua bersama ayahnya. Tapi tidak. Pria baya tadi hanya memandang anaknya yang tenagh asyik menyantap siomay tersebut. Dia tidak meminta, bahkan mencicipi sekalipun. Lalu diusapnya mulut anaknya yang ‘cemong’ karena bumbu kacang dengan lengan bajunya.
Pria memang sejatinya ditakdirkan menjadi tulang punggung keluarga. Pria juga terkadang menjadi penentu kesejahteraan dan martabat seorang individu. Teringat aku akan suatu kisah saat aku pernah tinggal 3 hai 3 malam sebagai seorang gelandangan di rumah singgah anak jalanan. Saat tu aku memang hanya menyamar, tapi aku mendengar segalanya. Anak jalanan yang miskin sebenarnya tidak benar- benar terlahir sebagai miskin dan liar. Namun kondisi memang memaksa mereka menjadi seperti itu. Aku teringat Iqbal, anak jalanan yang menjadi piatu saat ayah dan ibunya dibunuh ketika membeli ia sate untuk makan malam didepan matanya. Aku teringat juga seorang anak yang dibuang ayahnya karena ayahnya tidak siap menjadi ayah.
Namun aku juga teringat Bapak Asep yang menyelamatkan ratusan anak jalanan untuk dirawat di pesantren Ulul Albab miliknya sekalipun ia bukan orang kaya. Ia mengontrak sebidang tanah dengansatu bangunan permanen dan satu gubuk reyot sebagai rumah singgah. Lalu kedua bangunan itu diisi olh ratisan anak yatim yang ia nafkahi sendiri bersama istrinya.
Ohh man!!! There is a man who always stand for his familiy, despite his poor.
Life is a kind of white and black. Is there still any color, we should find it by our self.

oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Satu pemikiran pada “There is A Man

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s