Islam untuk Perbedaan

Terisnpirasi dari seorang wanita yang tak pernah kusangka akan bekerja dengannya. Dulu ketika SMA, rasanya terdapat gap yang jauh antara kita. Hidup memang selalu memberi idiom yang merasuk menjadi fragmen berpikir. Dulu aku berpikir dia aneh, bahkan ‘lawan politik’. Namun, sejenak fragmen berpikirku buyar saat mendengar kisah ia sholat. “Kang, dia itu sholatnya lama, terus kalo ngeliat dia sholat enak banget (khyusuk)”. Ternyata wanita itu berasal dari sebuah keluarga campuran Islam-Hindu. Dengan takdir Allah swt wanita menjadi Islam karena sebuah ketidaksengajaan. Dan dalam hidupnya dia mengalami lompatan mempelajari Islam di lingkungan yang mungkin berbeda dengan keluarga Islam normal. Namun dari dialah aku belajar terbuka. Bahwasanya perbedaan adalah salahsatu hakikat mengapa dakwah itu harus ada.

Sempat terbesit dalam pemikiranku bahwa Tuhan itu tidak adil ketika aku remaja. Ujung dari perjalanan manusia terkotak hanya menjadi dua. Lalu agama menjadi penentu bahwa seorang manusia akan berakhir di surga atau neraka. Sempat aku merasa aneh  jika ada seseorang yang terlahir diluar keyakinan agama ‘yang benar’ , maka ia akan masuk neraka. Terlebih jika seseorang tersebut lahir dari keluarga yang diluar agama ‘yang benar’ .Sekalipun aku percaya, bahwa dahsyatnya alam semesta tak mungkin diciptakan oleh alam itu sendiri.

Tak pusing aku berdialektika, ternyata Tuhan itu maha adil. Tuhan itu selalu memberi pilihan pada hamba yang mencari. Tuhan itu selalu memberi kebebasan pada hambanya, maka Ia memberi perbedaan. Tuhan itu selalu memberi petunjuk pada hambanya, maka Ia memberi hati. Tuhan itu selalu memberi pelajaran, maka ia memberi kisah- kisah terdahulu. Dan, Tuhan itu selalu memberi solusi atas pencarian hambanya. Dialah Allah swt yang memberikan Islam sebagai solusi umat manusia.

Jati diri seorang muslim diamanahkan untuk menjadi seorang rahmat bagi semesta alam. Sesungguhnya sebaik- baiknya manusia adalah muslim yang paling banyak manfaatnya. Jika seorang muslim justru memberikan kesusahan bagi sesamanya, maka dia justru telah menyalahi makna Islam itu sendiri.

Circle of influence seorang muslim semestinya mampu memberikan dampak yang luar biasa bagi diri dan sekitarnya, termasuk bangsanya. Namun entah kenapa, bangsa Indonesia yang justru luar biasa besar ini terus dirundung persoalan yang tabu. Persoalan tabu itu terjadi lantaran menyalahi konsep Islam itu sendiri. Konflik antar umat beragama dan perseteruan sosial selalu menjadi warna ketidakproduktifitasan anak negeri. Penelitian dari Wahid Institute mengatakan bahwasanya setiap sepuluh hari sekali, akan terjadi konflik antar umat beragama di negeri ini. Dan anehnya hampir semua warga muslim Indonesia tidak ingin memilki tetangga seorang non-muslim.

Ambiguitas Islam memang terjadi di negeri yang lucu ini. Sebuah anekdot mengatakan bahwasanya di Indonesia memang banyak orang muslim, tetapi belum tentu banyak yang Islam. Alias Islam hanya menjadi identitas penampakan saja, tidak dimaknai secara kultural dan sistem. Sudah jelas, bahwa sistem kemasyarakatan Islam telah mengatur perbedaan didalam suatu fiqih ikhtilaf (fiqih perbedaan).

Sudah jelas bahwa Rasulullah saw mengedepankan prinsip membaur dalam kehidupan masyarakat yang heterogen. Bahkan, tentara Negara Islam yang dipimpin Rasul saw kala itu melakukan ekspedisi melawan kekafiran adalah orang muslim tidak seluruhnya Muslim. Ketika memilki kelebihan makanan, Rasul lebih mementingkan untuk membagi kelebihannya pada tetangganya yang dekat. Ternyata, tetangga Beliau bukanlah seorang Muslim, tapi adalah seorang Yahudi. Rasul pun mencontohkan untuk selalu berbuat baik, sekalipun pada musuhnya. Kala itu seorang kafir yang selalu meludahi Rasul saat pergi berjalan menuju masjid terbaring sakit. Namun Rasul dengan bijaknya membawa sekantung hadiah sembari menjenguk kafir yang sakit tersebut. Dengan hati yang kaget, takjub, sekalipun tersentuh, akhirnya kafir tersebut masuk Islam.

Membaur bukan berarti melebur. Sejarah mencatat bahwasanya setiap negeri yang diduduki oleh peradaban Islam di era Umayyah dan Abbasyiah tidak pernah merasa terjajah. Pendudukan Islam justru menjadi bentuk pembebasan terhadap tirani. Rakyat negeri pendudukan tidak pernah dipaksakan untuk memeluk Islam. Gereja dan para biarawan hidup bebas untuk berdakwah berdampingan dengan Masjid dan ulama Islam. Namun Islam saat itu menginfiltrasi melalui sistem ekonomi, akademis dan politik kenegaraan untuk menunjukkan kemuliaannya pada dunia.

Perbedaan adalah tombak dakwah. Islam sejati tidak mengajrkan efek pluralitas. Karena sesungguhnya Tuhan itu hanya satu yakni, Allah swt. Namun Islam menghargai proses tranformasi manusia itu sendiri. Bahwasanya hanya Allah swt yang punya hak untuk membrikan ridhaNYA. Itulah sepercik cara Islam menunjukkan kemuliaan kalimat Allah di dunia yang penuh warna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s