Harapan Transportasi Hijau dari Yogyakarta

Peluang Permintaan Penggunaan Sepeda

Indonesia adalah negeri yang penuh hiruk pikuk, padat penduduk, dan tentunya kaya akan pergerakkan penduduk. Pergerakkan penduduk atau transportasi adalah suatu konsekuensi logis manusia untuk berproses mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhannya dalam suatu wilayah. Namun apakah kualitas transportasiperkotaan kita telah baik? Tentu tidak. Polusi ada dimana- mana. Kemacetan dan kesemerawutan menjadi warna khas Indonesia.

Tepat di sebuah kota kecil seluas 32, 5 km2 dan jumlah penduduk 194.500 (sensus 2011), Yogyakarta menawarkan suatu harapan baru bagi model transportasi hijau di Indonesia.  Program segosegawe alias sepeda kanggo sekolah lan nambut gawe atau bersepeda untuk sekolah dan bekerja adalah suatu gebrakkan lokal untuk mengurangi angka polusi dalam transportasi. Pergerakkan dengan tujuan pendidikan memilki porsi cukup besar di kota ini. Mengingat inti dari kegiatan yang ada di Kota Yogyakarta adalah pendidikan dan pariwisata.

Sebagian besar siswa sekolah menengah di Kota Yogyakarta berasal dari latar belakang keluarga menengah (51,6%) dengan penghasilan orang tua per bulan sebesar  Rp.2.000.000- Rp 4.500.000 dan juga dari keluarga mengah kebawah (28,27%) dengan penghasilan orang tua per bulan sebesar kurang dari Rp. 2.000.000 . Dengan kondisi ekonomi seperti ini, ditemukan bahwa 48,9% siswa tidak memilki mobil. Kondisi ini memicu tren bahwa  37,9%  keluarga siswa kebanyakan memilki 2 buah motor  sebagai moda transportasi. Berdasarkan hasil penelitian analisis preferensi dan sediaan transportasi bersepeda untuk pendidikan di Kota Yogykarta (2011), diketahui bahwa kebanyakan pengguna sepeda di kota ini bersifat captive. Hal ini berarti pengguna yang ada memang terpaksa menggunakan sepeda karena keterbatasan kepemilikkan kendaraan dan ekonomi. Merupakan hal yang potensial, jika kondisi sosial ekonomi yang ada dapat dikelola untuk memancing penggunaan sepeda di Kota Yogyakarta.

Siswa sekolah menengah mengutamakan agar moda sekolah yang digunakan bebas macet, hemat, mampu memberi kenyamanan fisik, aman dari tindak kriminal, cepat, memberi jaminan keselamatan dan fleksibel mencapai berbagai tujuan.  Siswa sekolah menengah di Kota Yogykarta cenderung akan  bersepeda ke sekolah saat jarak rumah dengan sekolah semakin dekat. Sepeda pun masih kalah besaing jika seorang siswa masih memilki banyak pilihan untuk menggunakan kendaraan bermotor lain yang dimilkinya

Siswa sekolah menangah, terlihat bahwa lebih dominan menggunakan motor dengan proporsi SMP (27,4%)  dan  SMA (42%). Namun, ditemukan bahwa penggunaan sepeda bagi siswa SMP ternyata lebih dominan ketimbang mobil. Jumlah penggunaan sepeda oleh siswa SMP berjumlah 6,7%. Hal sebaliknya justru terjadi saat SMA, jumlah penggunaan sepeda justru lebih kecil yakni, 3,2%. Kondisi ini bisa saja dipengaruhi oleh kapasitas siswa dalam mendapatkan Surat Izin Mengemudi.

Dari hasil survey, juga diketahui urutan prioritas pertimbangan moda dari kalangan siswa sekolah menengah dengan yakni: bebas macet (skor 4,06), biaya transportasi ( skor 3,95),  kenyamanan fisik (3,88),  keamanan dari tindak kriminal (3,88), durasi perjalanan (3,88),  kemungkinan terhindar dari kecelakaan (3,86) , jangkauan tujuan (3,77),  menyehatkan (3,7), privasi (3,23), dan gengsi (2,17).

Kondisi Infrastruktur

Kota Yogyakarta telah membangun infrastruktur sepeda untuk menopang transportasi warganya. Diantaranya Lajur sepeda sudah dibangun di Kota Yogyakarta sejak tahun 2008. Lajur ini berfungsi memisahkan antara pengguna sepeda dengan pengguna kendaraan bermotor lainnya. Lebar jalur sepeda dapat berkisar antara 4 m hingga 7 m.Kecepatan tempih rata- rata sepeda dapat mencapai 25 km/jam. Kecepatan ini hampir menyamai kecepatan rata- rata kendaraan bermotor di Kota Yogyakarta yakni 10- 30 km/jam.

segosegawe

Selain itu, di kota ini disediakan juga jalur alternatif sepeda. Jalur ini berfungsi untuk memotong ruas blok jalan hingga tembus ke jalan lainnya. Biasanya jalur ini menembus gang- gang permukiman atau jalur tikus di seantero Kota Yogyakarta.

Salahsatu titik rawan kecelakaan pengguna sepeda adalah pada saat berada di persimpangan lampu lalu- lintas jalan. Kecepatan inisiasi sepeda yang jauh lebih lambat dibandingkan dengan kendaraan bermotor pada saat akan bergerak mampu mengancam pengendara sepeda. Ruang tunggu sepeda disediakan sebagai tempat menunggu sepeda pada saat lampu merah di persimpangan jalan yang berada di barisan paling depan. Kendaraan bermotor lainnya harus menunggu sekian detik terlebih dahulu sebelum pengendara sepeda melaju. Mekanisme ini dibantu oleh waktu otomatisasi kemunculan lampu hijau yang lebih lambat bagi kendaraan bermotor. Teknis luas ruang tunggu cukup variatif disesuaikan dengan kondisi jalan. Luas area ruang tunggu anatar lain 26,5 m2, 35 m2, 47,5 m2 dan 62 m2. Ruang tnggu di cat dengan pewarna jalan berwarna hijau agar mampu terlihat dengan mudah oleh penegdara di jalan.

Meskipun demikian, dari lajur sepeda yang tersedia hanya terdapat 10.318 m yang berada dalam kondisi baik atau hanya 35% dari total panjang jalur sepeda. Sebanyak 4.729 m atau 16% berada dalam kondisi  tidak memadai (Studi kasus di Kecamatan Gondomanan, Gondokusuman, dan Pakulaman). Selain itu, ditemukan juga 13.848 meter jalur sepeda yang difungsikan namun belum memilki signsystem atau sekitar 47%. Di sisi lain, seluruh signsystem untuk jalur alternatif sepeda telah terpasang secara memadai. Namun untuk tanda lalu lintas ruang tunggu tidak sepenuhnya sudah tersedia pada persimpangan jalan. Untuk kecamatan kasus studi, terdapat dua simpang yang belum memilki ruang tunggu sepeda yakni, di Simpang Baciro dan Simpang Gayam.

Siswa sekolah juga belum mendapatkan jaminan keselamatan yang memadai. Dari hasil analisis kesesuaian penggunaan tipe lajur sepeda diketahui bahwa terdapat beberapa ruas yang perlu diproteksi dengan separator akibat tingginya intensitas kepadatan lalu- lintas di jalan tersebut, yakni  Jl. Ahmad Dahlan, Jl. Sultan Agung, Jl. Jenderal Sudirman, dan Jl. Urip Sumiharjo.  Selain itu, terdapat beberapa ruas sepeda yang belum diekslusifkan secara lebih agar kinerjanya dapat membaik yakni, Jl. Bhayangkara, Jl. Ahmad Yani, Jl. Gajahmada, Jl Taman Siswa dan Jl. Cik Di Tiro.

Perhatian untuk Peningkatan

Pengembangan sistem transportasi sepeda di Kota Yogyakarta memang belum sempurna, namun yang paling baik di negeri ini. Sepeda bukanlah pilihan  moda yang cepat di Kota Yogyakarta, terutama bagi siswa yang berjarak jauh dari sekolah. Jalur alternatif dan sepeda yang ada tetap saja belum bisa menjawab limitasi kapasitas fisik siswa dalam menjangkau berbagi tempat. Selain itu, lajur sepeda yang ada masih belum mampu steril dari pengguna kendaraan bermotor lain. Keberadaan ruang tunggu sepeda juga masih kurang dari kebutuhan yang ada. Hal ini membuat siswa belum mendapatkan jaminan keselamatan sepenuhnya saat bersepeda.

Perbaikan tipe jalur sepeda yang menyesuaikan dengan kepadatan jalan dan parkir, serta pengadaan bus multimoda yang ramah pesepda akan menjadi solusi tepat bagi pengembangan transportasi sepeda. Jika kisah sukses di Kota Yogyakrta dapat menjadi kenyataan, maka hal ini akan mampu menjadi model praktis bagi pengembangan di kota Indonesia lainnya.

oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

diadaptasi dari riset Tugas Akhir , “Analisis Sediaan dan Preferensi Transportasi Bersepeda untuk Sekolah di Kota Yogykarta”, ITB 2011

Iklan

5 pemikiran pada “Harapan Transportasi Hijau dari Yogyakarta

  1. assalamu’alaikuum..
    ikut nyimak, kang.. 🙂
    blognya bagus..hhe..

    tapi kalo untuk moda transportasi sepeda topografinya wilayahnya harus diperhatiin juga, iya ga kang? Bandung misalnya yang punya wilayah naik-turun. cape banget kalo naik sepeda. saya kadang suka naek sepeda ke kampus. pergi cuma 15-20 menit, pulangnya sampai satu jam lebih karena kondisinya nanjak. hhehe..

    main ke blog saya juga yaa kang.. 🙂

  2. walaikumsalam Ramadhan…
    wah sepakat bgt bwt kontur.. sepeda sebenanya potensinya gede di bandung… tapi bukan bwt kerja.. lebih tepatnya bwt rekreasi.. lumayan bisa ngurangin kemacetan pas weekend

  3. assalamu’alaikum..
    bang, ada referensi tentang ruang tunggu sepeda?
    kbetulan tugas akhir yg akan sy susun tentang pengaruh ruang tunggu sepeda terhadap kapasitas simpang jalan.. minim referensi nih, mohon bantuannya, trimakasih banyak

      1. dari T.sipil UII Yogya bang.. sy sih baru aja download file peraturan pemerintah, keputusan menteri,SNI bid.Hubdat,dsb.. ada referensi lainnya g?hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s