Memutar Titik Balik Inovasi (Epilog KM ITB part 5)

Lebih banyak membicarakan sejarah masa lalu bagaimana Soekarno dan golongan mahasiswa ITB 70an menggoyang Indonesia. Lebih banyak menyalahkan masa lampau bagaimana mahasiswa 2000an awal kebingungan mencari jati diri gerakkan mahasiswa. Lebih banyak menyimpan karya penemuan di laboratorium dan perpustakaan dan membuatnya berdebu. Inilah ITB diawal dekade 2011.  Tak heran jika, mantan wakil presiden RI Jusuf Kalla mengkritik pedas ITB sebagai kampus museum.

Kampus seharusnya mampu berkarya futuristik dan aplikatif. Futuristik membicarakan dan mabyangkan apa ayang orang lain belum bisa bicarakan.Aplikatif menolong persoalan yang orang lain belum bisa tolong.

Sudah terlalu lama ITB berlindung dibalik gerbang ganesha. Dengan nama besar dan arogansi semu. Sering kali kita mengklaim bahwa rantai inovasi sudah ada di kampus ini. Tak pelak bahwa yang ternyata  ada hanyalah berbagai invensi (penemuan) yang tak berkolaborasi.  Namun tak jarang pula ada segelintir mahasiswa ITB yang berusaha memutar titik balik inovasi di ITB.

Begitu sulit untuk membawa ide baru di kampus ini. Unsur tradisi dirasa lebih kuat ketimbang inovasi. Jika ada tradisi yang diusik, maka mahasiswa akan berisik. Berbagai ide hebat dan visioner dilemparkan ke berbagai forum mahasiswa. Namun mungkin akan diapresiasi dengan riuh tepuk tangan, lalu tenggelam oleh waktu. Tak jarang pula ada ide hebat dan visioner yang memerlukan waktu lama untuk direalisasi karena energi justru tertumpah pada konflik antar retorika. Mahasiswa ITB lebih mudah dipersatukan oleh emosi, ketimbang ide.

Mahasiswa muda berkutat dengan persaingan seleksi jurusan di masa Tahap Persiapan Bersama (TPB). Tidak semua tersentuh oleh himpunan mahasiswa jurusan ataupun unit kegiatan. Esensi berpendidikan di kampus ini hanyalah berujung pada tiga huruf, IPK. Kultur berkonsultasi dengan dosen dan membaca ke perpustakaan baru tercipta saat mengerjakan Tugas Akhir. Akibatnya sebagian besar mahasiswa ITB mengalami fase terlambat untuk sadar berkarya.

Kekecewaan pada kampus membuat sebagian orang tergerak untuk bergerak di jalur sunyi. Khusyuk berkarya di laboratorium dan berbagai ruang ide. Namun tetap saja, ide hanya akan menjadi ide jika tidak diketahuioleh dunia. Karakter pemberani untuk berinovasi dan menginspirasilah yang akan mampu memutar titik balik inovasi di ITB. Budaya kaderisasi berbasis inovasi dan karya perlu diwujudkan di semua lini mahasiswa. Para motor inovasi di ITB memang harus susah payah untuk menjemput benih inovator yang tidak tersentuh oleh kemahasiswaan ITB.

oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s