Baja, Riset dan Nyawa Nusantara


Bung Karno membangun reaktor nuklir pertama di Asia Tenggara tahun 1960an dengan bantuan Rusia. Kini reaktor nuklir tersebut menjelma menjadi Laboratorium BATAN di sebalah kampus ITB. Kala itu Bung Karno bervisi bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menguasai nuklir. Dengan semangat garuda, Indonesia cukup ambisius untuk menempatkan diri sebagai negara kelasa atas dunia. Perangkat perencanaan disusun untuk menopang cita- cita ambisus itu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI) yang dalam PP Nomor 32 Tahun 2011.

MP3EI memilki tiga tujuan perencanaan yakni, mengembangkan 6 koridor ekonomi, menumbuhkan pusat pertumbuhan baru, dan meningkatkan kualitas SDM serta riset nasional. Dampak yang diharapkan tidak lain menjadikan Indonesia sebagai negara 12 besar dunia pada 2025. Masyarakat Indonesia pada saat itu diharapkan telah memilki pendapatan per kapita US$ 13.000- 16.000.

Visi luar biasa MP3EI dapat menjadi suatu cerita masa lampau atau kenyataan yang indah di masa depan. Untuk itu negeri ini harus mampu memahami perdagangan global yang mau tidak mau menjadi ‘percaturan kawah candradimuka’ MP3EI. ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) turut menjadi tantangan dan peluang bagi keberlangsungan MP3EI. Indonesia bisa saja menjadi sasaran empuk dari perdagangan global. Aliran rantai suplai pasti akan selalu menyetuh ranah Indonesia. Namun apakah rantai suplai tersebut didominasi produksi Indonesia. Suatu hal yang wajar mengingat Indonesia adalah pasar terbesar di ASEAN.

Sejak dilakukan secara bertahap pada 2004 hingga 2009, kontribusi sektor industri terhadap Pendapatan Domestik Bruto semakin menunjukkan penurunan dari 28,1% menjadi 27,34%. Grafik pertumbuhan industri bergerak minus dari 2004 yakni 4,6%, 2,59%, 4,67%, 3,66%, dan menjadi 2,31% pada tahun 2009 (Kementrian Perindustrian, 2009). Sekitar 57 % iIndustri lokal yang bergerak di bidang manufaktur terancam mengalami kolaps. Jika diperhatikan pergerakkan ekonomi Indonesia dari sektor industri pengolahan dari tahun 20008 hingga 2010. Kenaikkan cukup signifikan terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi, serta konstruksi. Selain itu, penjualan barang tambang juga meningkat secara perlahan sejak tahun 2008 hingga 2010. (Kementrian Ekonomi,2011).

ACFTA cenderung mengentungkan ekonomi dari sektor jasa dan perdagangan, tetapi mematikan bagi industri (Kajian Strategis KM ITB, 2011). Hasil pertanian dan bahan tambang cenderung semakin dilepas begitu saja ke pasar global, tanpa adanya proses pemberian nilai tambah. Fenomena ini justru berlawanan dengan potensi Indonesia itu sendiri. Bahan alam harus mampu diolah didalam negeri untuk mengoptimalkan pendapatan anak negeri dan mengurangi kebocoran ekonomi. Oleh karena itu industri pengolahan harus mampu menjadi prioritas dalam mindset kewirausahaan nasional di masa depan. Suatu tantangan yang dihadapi adalah masih terkonsentrasinya industri di Pulau Jawa, yakni sebesar 75% (Kementrian Perindustrian, 2009).

Penurunan perputaran ekonomi dari industri pengolahan terjadi akibat lemahnya daya saing produk olahan dalam negeri. Terdapat 3 sekotr industri pengolahan unggulan Indonesia yakni Makanan,Minuman dan Tembakau (33,21%), Pupuk&Barang dari karet (12,4%), serta Mesin dan alat angkutan (27,89%). Namun jika diperhatikan terdapat industri potensial yang masih lemah, yakni industri bajabesi logam dasar (2,11%) dan Semen (3,45%). Hal ini merupakan suatu kenaifan, karena potensi bahan dasar baja dinegeri ini cukup banyak. Jepang mencoba bangkit ke kancah dunia lewat industri otomotif dengan tidak melupakan baja dan besi sebagai industri penyokong yang utama.

Tidak berkembangnya industri baja dan besi di Indonesia secara signfikan bisa jadi disebabkan oleh lemahnya kapasitas produksi baja dalam negeri. Karakteristik unsur besi (Fe) Indonesia yang masih bercampur dengan silica membutuhkan proses pengolahan yang mahal dan rumit. Oleh karena itu kebanyakan baja di Indonesia masih diimpor dan masih menggunakan bahan mentah dari Brasil. Jika MP3EI benar- benar terealisasi, kita bisa membayangkan akan adanya peningkatan jumlah kebutuhan baja yang diperlukan untuk konstruksi jembatan dan pembangunan fisik pabrik- pabrik baru. Namun bisakah kita memanfaatkan besarnya peluang pembangunan kelak, atau justru akan kembali menjadi sasaran empuk pasar perusahaan asing untuk mensuplai kebutuhan baja dan besi kita?

Refleksi kasus baja bisa jadi terjadi di banyak bidang industri pengolahan nasional. Diperlukan keberanian sektor privat yang didukung pemerintah untuk melakukan investasi inovasi melalui riset dan pembangunan alat produksi. Namun apakah selama ini, pemerintah Indonesia lebih memprioritaskan efisiensi hukum ekonomi Adam Smith? Berbicara mengenai kemampuan memproduksi dan mencipta terkadang membutuhkan spekulasi dan keberanian.

Doa harus terus kita sertakan kepada negeri ini. Relakah kita jika sumberdaya alam yang ada harus diolah dengan mengandalkan dana riset hanya 0,3% APBN. Misalkan saja berapa jumlah modal yang diperlukan untuk memecahkan inovasi pengolahan bahan alam. Tentu saja membutuhkan dana yang tidak kecil. Namun ternyata industri nasional pun belum menganggap riset sebagai investasi, melainkan hanya sebagai keluaran. Buktinya, hanya ada 2% industri dalam negeri yang melakukan R&D. Merupakan hal yang wajar jika pada akhirnya industri perngolahan dalam negeri menjadi tidak kompetitif.

Pemerintah berperan mendukung inefisiensi investasi produksi yang pada akhirnya justru akan menghasilkan sesuatu berlipatganda di masa yang akan datang. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka MP3EI hanya akan menjadi master plan pembangunan dengan konsep mengobral pembangunan kepada investasi asing yang diiringi ketidaksiapan bangsa untuk berkompetisi.

oleh Achmad Faris Saffan S.

Iklan

Satu pemikiran pada “Baja, Riset dan Nyawa Nusantara

  1. Asswrwb

    Bung Faris, analisa dan pengamatan dengan bentuk penulisan yang sangat baik. Nampaknya harus sering-sering ngobrol dan brainstorming denganmu supaya ketularan pinter menuliskan ide dalam bentuk kata-kata dan kalimat yg baik.

    Super sekali, semoga bisa terus lebih baik ya Indonesia kita.

    Salam,
    -SS-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s