‘Mal Sari’ atau ‘TamanSari’

Simfoni kendaraan dan lalu-lalang orang bergerak mengisi cerahnya pagi. Stasiun Bandung dipadati para komuter yang hendak bekerja ke kota. Angkutan kota bergerak cepat ugal- ugalan untuk mengejar penumpang yang hendak berangkat sekolah. Dari Sedan hingga motor roda dua memadati jalan protokol saling berebut waktu dan ruang jalan untuk mengantar sang pemilik bekerja. Metamorfosa Bandung telah mengubah sebuah kota peristirahatan menjadi kota metropolitan yang padat. Namun embun dan kesejukkan seakan menghilang deras seiring dengan semakin tuanya kota ini.

Kini Bandung kehilangan banyak oase hijau yang berfungsi untuk memberi refreshing bagi lingkungan dan mencerahkan psikis masyarakat kota. Betapa tidak ruang terbuka hijau yang tersedia di ‘kota bunga’ ini masih jauh dari standar 30% wilayah kota. Jika kita memandang citra udara Kota Bandung, maka sudah jelas kota ini dipenuhi warna abu- abu alias lautan bangunan. Parahnya, kini kehijauan Kawasan Bandung Utara sebagai wilayah penyangga semakin berkurang seiring berkembangnya pembangunan disana.

Berbagai komunitas kreatif dan intelektual kota cukup aktif untuk melindungi aset hijau Bandung. Suatu momen perjuangan hebat tercipta kala kegiatan peresmian’ Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi’ dihelat. Buah advokasi masyarakat kota akhirnya dapat mengagalkan pembangunan restoran dan pusat perbelanjaan di Baksil yang pada mulanya akan direalisasikan. Namun kita sebagai masyarakat kota juga sepatutnya bertanya. Apa sebenarnya fungsi dan peran dari ruang terbuka hijau itu sendiri? Apakah pulau jalan yang diisi oleh pot tanaman dan bunga- bungaan merupakan ruang terbuka hijau? Ataukan ruang terbuka hijau haruslah berupa taman?

Baik pemerintah dan masyarakat, serta swasta rasanya memilki komitmen untuk sama- sama memperjuangkan ketersediaan ruang terbuka hijau di Bandung. Terdapat beberapa taman kota binaan perusaan yang pembangunan serta pemeliharaannya dilakukan oleh pihak swasta. Komunitas masyarakat kota tak kalah hebat dengan banyak melakukan kegiatan penghijauan. ‘Bandung Berkebun’ adalah contohnya. Komitmen pemerintah pun sebenarnya tak kalah. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, apakah komitmen terhadap penghijauan kota jauh lebih besar ketimbang komitmen untuk mengisi ‘kantong uang’ pemerintah? Atau justru sebaliknya?

Satu hal yang mesti kita soroti adalah peristiwa penggusuran pedagang di Jalan Tamansari dekat kampus Institut Teknologi Bandung baru- baru ini. Warung dan toko- toko itu berjajar padat. Didepannya terdapat parkir kecil yang muat untuk motor pelanggan dan sedikit mobil saja. Jenis pedagang beragam dari mulai warung fotokopi dan percetakkan, hingga warteg digusur oleh pemkot pada akhir November 2011. Keberadaan warung dan toko tersebut memang merupakan dampak dari adanya transaksi kebutuhan kegiatan perkuliahan mahasiswa ITB.

Penggusuran ini memang amanat warga serta Rencana Detail Kota yang menghendaki kawasan tersebut menjadi ruang terbuka hijau. Sebagian pedagang juga tidak berkeberatan karena sebagian telah memiliki toko lain disekitar ITB. Bukannya tanpa cacat. Namun juga tidak dapat dipungkiri jika sebagian pedagang lain memang akhirnya kehilangan tempat berdagang. Mereka pun memasang suatu spanduk bertuliskan ‘Kembalikan uang 30 juta kami!’. Tak pelak, suatu rumah tinggal yang terletak dibelakang warung pun harus menjadi target penggusuran. Para penghuninya kini tidak tahu harus pindah kemana.

Kini ketika kita memandang ke arah Pelesiran, nuansa akan tersa lebih lega. Namun jika kita bandingkan dengan nikmatnya nuansa hijau kota terdahulu, tentu saja tidak sebanding. Taman alami dan hutan alami pelesir (piknik) yang dinamai pelesiran kini tak bisa digunakan lagi. Pelesiran kini berubah menjadi kawasan kos- kosan dan permukiman padat yang sebagaian besar berada dalam kondisi kumuh. Kunang- kunang kini tak bisa dijumpai lagi. Isle de parisj sebuah pulau ditengah danau kecil yang berfungsi menjadi reservoir aliran Sungai Cikapundung tinggal kenangan karena mengering. Yang ada kini aliran hujan yang tak tertampung dan justru meluap ke rumah warga di bantaran Sungai Cikapundung. Bisa dikatakan, kampus ganesha dan hutan hijau disekitarnya tidak bisa dipisahkan keberadaanya.

Namun bagai cinta tak kesampaian, untaian kisah perjalanan ITB tidak seindah kawasan sekitarnya. ITB yang semula bernama Techinse Hooge School, kini tumbuh dan terus melahirkan orang besar. Levelnya kini mendunia. Bangunannya dipenuhi berbagai filosofi arsitektural. Dari mulai kolam air ‘Indonesia Tenggelam’, Plaza Widya, aula barat, dan gedung campus centre yang terasa megah. Dibumbui oleh tumbuhnya pepohonan rindang dan bunga yang mekar setiap mahasiswa baru datang di bulan Agustus.

Kisah ini menegaskan bahwa rasanya akan indah jika, ITB dan sekitarnya berkembang menjadi bagian dari kawasan perkotaan yang sama- sama indah. Jika demikian, maka sekalipun hanya setitik keberadaan taman tamansari menjadi penting adanya. Bukan hanya untuk dinikmati oleh mahasiswa ITB atau warga tamansari saja, tetapi juga seluruh masyarakat.

Rasanya bentuk pembangunan dan pengawasan taman tamansari yang akan dibangun perlu dilakukan secara partisipatif. Desain taman seharusnya dapat ‘dirembug’ terlebih dahulu minimal dengan warga sekitar. Tidak lain tidak bukan agar 3 aspek pembangunan berkelanjutan yakni, lingkungan, ekonomi, dan sosial dapat terwujud secara optimal. Komunitas masyarakat pun dapat turut bersama- sama melestarikan dan mengawasi pembangunan taman. Kita tidak tahu pasti apakah justru pembangunan taman tersebut merupakan ‘akal bulus’ yang disetir pihak tertentu. Mudah- mudahan lahan yang semula dialokasikan untuk menjadi taman, benar- benar akan menjadi taman. Bukan justru menjadi ‘pusat perbelanjaan’.

Oleh karena itu, rasanya kita bersama perlu menunjukkan semangat gotong royong dalam penghijauan kota. Besar harapan agar Bandung yang ‘genah merenah’ benar- benar bisa tercipta melalui sokongan semua elemen masyarakat.

Oleh Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s