Pembangunan atau Kesejahteraan

Ketika kita membuka koran harian atau mendengar penyataan dari Menko Perekeonomian Republik Indonesia, maka kita akan disuguhkan dengan pemaparan kesuksesan pembangunan eknonomi. Tahun 2011 menjadi tahun yang mengembirakan. Peringkat utang Indonesia naik ke level BBB yang bermakna ‘investement grade’. Atau negara dengan peringkat pengembalian utang yang baik. Kita pun akan disuguhkan dengan fakta bahwa pendapatan per kapita Indonesia saat ini sudah menjadi US$ 3600. Berarti kira- kira setiap induk kepala di Indonesia memilki penghasian sekitar Rp 27.000.000 per bulan. Tampak mengembirakan bukan?
Namun ketika kita menoleh sedikit ke sekitar kita, ternyata masih banyak kemiskinan di negeri ini. Banyak anak putus sekolah karena terjerat lingkaran kemiskinan. Sekolah memang gratis. Tapi hidup yang tidak gratis memaksa mereka pergi mengamen untuk mencari sesuap nasi sembari membantu orang tua. Kesulitan hidup juga banyak melanda keluarga di desa. Mereka memang bisa bertani, namun hasil tani tidak bisa dijual. Sekalipun dijual haruslah dengan harga rendah.
Memaknai ukuran pembangunan ekonomi memang bukan perkara mudah. Herry Libersetein mengagasa suatu ukuran pendapatan per kapita sebagai tolak ukur pembangunan ekonomi. Namun apakah makna pembangunan ekonomi itu sejalan atau justru berlawanan dengan realita kesejahteraan yang kita alami?
Mari kita sedikit bermain dengan kontradiksi analogi pembangunan dan kesejahteraan.Kita ambil contoh pemerintah Indonesia melakukan belanja modernisasi alat senjata bergerak dan membangun 1000 sarana pendidikan baru di desa dengan harga yang sama. Dari kedua hal tersebut mana yang lebih membangun dan mana yang lebih mensejahterakan? Sekolah dibangun dan akan langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Di lain pihak, alat senjata tidak dapat digunakan sembarangan oleh masyarakat. Namun modernisasi alat senjata akan berpengaruh pada kekuatan diplomasi dan pertahanan suatu negara.
Selama ini orientasi pemerintah di level eksekutif secara umum baik pusat maupun daerah hanya ‘ABC’. Anggarkan- Belanjakan- Cek laporan. Pemerintah bisa pusing tujuh keliling jika tingkat penyerapan anggaran tidak mencapai 100%. Atau dengan kata lain uang yang disediakan tidak habis dibelanjakan. Pemerintah pun akan kelimpungan jika dana yang ada tidak jelas laporannya lari kemana. Sesungguhnya pembangunan ekonomi semestinya bisa menjadi refleksi membaiknya kesejahteraan masyarakat. Indikator “social profit” atau “social rate of return” semestinya bisa diciptakan. Hal ini bisa dibuat dengan mencptakan harga bayangan yang diambil dari segala biaya yang ditanggung oleh komunitas masyarakat (Little,1982). Kita seharusnya mampu mengukur keberhasilan penyelenggaraan pembangunan terhadap dampak kesejahteraan yang diberikan secara komprehensif. Pembangunan nasional seharusnya bisa dikuru dari keberhasilan susunan puzzle pembangunan daerah (Iskandar,2001).
Beberapa indikator sosial semestinya dapat dialporkan kepada masyarakat secara meluas. Bukan hanya beredar dikalangan eksekutif saja. Indikator seperti konsumsi protein per kepala dan persebarannya, indeks daya beli masyarakat di tiap daerah, tingkat kerusakan lingkungan dll, harus menjadi agenda yang menjadi dasar klaim siapapun terhadap keberhasilan pembangunan. Tidak lain tidak bukan agar rakyat di negeri ini tidak tertipu atau bingung mengenai makna pembangunan dan kesejahteraan.
Oleh Achmad Faris S.S.

Refeerensi:
Little,Ian.1982. Economic Development: Theory, Policy, and International Relations. Basic Books, Inc: New York
Iskandar, Soleh et al. 2001. Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: Sumber daya alam, Sumber Daya Manusia, dan Teknologi. BPPT: Jakarta

Iklan

2 pemikiran pada “Pembangunan atau Kesejahteraan

  1. kembali lagi…apa sih, tujuan pembangunan?

    normatively, ya penyejahteraan…kalau angka berbicara tapi rakyat masih menjerit, pertanyakan lagi, angkanya yang belum bisa bicara dengan baik atau rakyatnya yang memang sehari-hari berbicara dengan menjerit. atau pertanyakan, “yang dibangun tu apa sih?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s