Menyemai dalam Ekosistem Inovasi ITB (Epilog KM ITB part 6)

Gelaran ITB FAIR 2012 sudah usai. Ramai- ramai orang datang. Lihai- lihai mahasiswa memamerkan karya. Gemulai- gemulai tarian hiburan di panggung. Lantas apakah ini inovasi ITB sudah bisa disemai?

Suatu kebahagiaan tersendiri saat melihat kenyataan bahwa ada 113 proposal PKM ITB yang lolos didanai DIKTI dalam rangka menuju PIMNAS. Ini adalah jumlah proposal terbanyak yang berhasil didanai dalam sejarah KM ITB. Imagine Cup suatu perlombaan Teknologi Informasi Komunikasi yang biasanya diikuti oleh mahasiswa informatika, kini sudah mulai mengajak bidang lainnya. Mahasiswa ITB pun kini sudah berlomba dengan bangsa dunia dalam membuat mobil ramah lingkungan di kancah dunia.

Gelaran Ganesha Expo dalam ITBFAIR 2012 sedikit keluar dari tradisi. Biasanya karya ditampilkan dalam stand karya per himpunan. Namun kali ini karya digelar tanpa stand himpunan. Fokus expo bukan lagi pada himpunan, melainkan pada karya. Hal ini karena suatu karya bisa saja datang dari beberapa himpunan mahasiswa profesi yang berbeda.

Cita- cita inovasi yang dulu berangkat dari keresahan atas tenggelamnya teknologi di kampus teknologi terbaik bangsa rasanya sudah mulai terjawab. Dulu kita resah atas lembamnya mahasiswa ITB untuk diajak berkarya di bidang keprofesian. Namun kini, hampir setiap mahasiswa ITB pasti terdoktirn dan berpikir, ‘karya hebat apa yang bisa saya buat saat menjadi mahasiswa?’ atau ‘lomba apa yang bisa saya ikuti untuk menrangsang saya dalam berkarya?’. Bisa dikatakan, bahwa budaya berkarya sudah muncul di KM ITB. Setidak- tidaknya, benih garis budaya itu dominan ada di hampir semua kalangan mahasiswa. Walau tak jarang pula yang berguguran hanya sampai tatanan ide akibat lemahnya daya juang.

Kekhawatiran akan budaya kolaborasi sempat menyeruak ke tangah wacana kemahasiswaan. Namun kini kesadaran itu mulai muncul. Kesadaran itu pun akhirnya meretas pula dalam budaya keprofesian. Hal ini datang seiring dengan adanya kesadaran bahwa satu keilmuan tidaklah cukup untuk memecah persoalan di kalangan masyarakat atau industri.

Dahulu idiom ITB sebagai ‘menara gading’. Idiom ini bermakna ITB yang dikawal oleh ‘gerbang ganesha’ bukan ‘pintu ganesha’ terkesan jauh dari masyarakat dan terlalu megah untuk dijamah. Eksistensi ITB hanya ada untuk kepentingan industri kelas atas. Namun kurang memilki mutiplier effect terhadap bangsa secara keseluruhan. Namun seiring dengan berkembangnya isu penyeimbang gerakan, yakni gerakan vertikal yang digagas dalam ITB FAIR 2010, inisiasi community development melaju ketengah benak mahasiswa ITB. Jika dulu hanya ada HME (Himpunan Mahasiswa Elektro) dan HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) saja yang memilki desa mitra. Saat tahun 2011, selepas ITB FAIR 2010, sudah ada 13 himpunan mahasiswa jurusan yang memilki desa mitra atau inisiasi community development. Keprofesian sudah mampu diketengahkan dalam buah karya yang bermanfaat, bukan hanya bagi keuntungan pribadi. Tetapi juga bagi masyarakat. Walau masih muncul kekhawatiran, bahwa community development yang dilakukan hanya ‘bangga- bangaa’an’. Khas ala mahasiswa ITB. Namun masih banyak yang melakukan atas dasar kesadaran. Selain itu, arogansi berkontirbusi rasanya memang terkadang cara yang tepat dalam merangsang mahasiswa ITB untuk berkontirbusi kepada masyarakat.

Ini adalah cita- cita yang dibangun sejak zaman era awal 2004an awal yang ditandai dengan munculnya ITB FAIR 2004 sebagai peyeimbang kelembaman kemahasiswaan. Ini adalah warisan generasi ITB angkatan 2002 hingga 2011. Namun kini apa yang harus dicapai kedepannya?

Sejujurnya, jika inovasi itu diibaratkan sebagai beras, maka beras tersebut belumlah senikmat beras Cianjur. Jika ekosistem itu diibaratkan sawah, tidak semua mahluk hidup dapat hidup secara seimbang. Bisa dikatakan masih ada beberapa spesies yang hidup berlebihan didalam ekosistem sehingga menjadi hama.

Ketakutan menembus batas (Homo Kurikulumus)

Elemen mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB), belumlah dapat hidup secara baik di dalam ekosistem inovasi ITB. Mahasiswa TPB pada umumnya terlambat sadar akan arti keprofesian yang mereka akan tuju. Hal ini merupakan trade-off dari sistem penampungan pada fakultas sebelum dijuruskan ke program studi.

Alasan belum paham akan keilmuan memang terkadang mengerdilkan kemampuan seseorang untuk menembus batas. Penyakit ini saya sebut sebagai ‘homo kurikulumus’. Suatu penyakit bagi orang yang kaku terhadap kurikulum studi yang ia terima. Entah apakah ini salah rekayasa pendidikan di ITB, atau kesalahan di kalangan mahasiswa itu sendiri. Banyak mahasiswa TPB yang terjebak pada pemikiran sederhana, dengan alasan belum memahami ilmunya. Tidak dapat dipungkiri, sebagian yang lain masih berpikir pragmatis untuk sekedar memilki Indeks Prestasi (IP) yang besar saja.

Namun penyakit ini ini sebenarnya tidak hanya menjangkiti mahasiswa tingkat 1 saja, tetapi juga pada kebanyakan mahasiswa di level atasnya. Padahal, ketidaktahuan yang diiringi oleh keingintahuan adalah sumber munculnya pengetahuan. Proses belum lengkapnya ilmu yang dimilki dapat difasilitasi dengan berkarya sembari mencari tahu apa yang belum kita tahu. Bukanlah hal yang tidak mungkin jika ada seorang mahasiswa tingkat 2 mengerjakan proyek karya, maka ia bisa mengetahui ilmu 2 tingkat diatasnya sekaligus.Berkarya sambil membaca. Ini adalah penerapan konsep learn to do yang sederhana.

Terkadang semakin banyak tahu maka orang akan semakin mempertimbangkan banyak hal. Dasar pemikiran yang masih general yang dimilki oleh mahasiswa S-1 ini seharusnya mampu memicu berbagai gagasan liar keilmuan. Yang bias jadi belum pernah terpikir oleh seorang professor sekalipun. Hal yang sama dilakukan oleh Honda yang selalu mengadakan lomba mengkhayal mobil masa depan pada anak kecil untuk mendapatkan ide segar tipe mobil terbaru.

Peradaban ini selalu diisi dan diwarnai oleh para manusia yang selalu ingin menembus batas. Thomas Alva Edison berupaya berpikir agar listrik dan lampu bisa tercipta yang mungkin dahulu ditertawakan oleh banyak orang. Columbus, mencoba menguji keberanian untuk berlayar kearah Benua Amerika walau saat itu orang berpikir tepian laut adalah jurang yang dalam. Steve Jobs menawarkan gadget yang simple saat definisi khalayak terhadap sesuatu yang canggih adalah rumit. Mereka semua menembus batas!

Agar visi the worldclass university dapat tercapai, mahasiswa ITB haruslah memilki karakter nekat untuk menembus batas. Mengerjakan penelitian yang orang lain tidak mau kerjakan. Membuktikan ketakutan dengan keberanian. Membuahkan rasa penasaran menjadi sasaran yang jelas. Maka inovasi akan bias tersemai di kampus teknologi terbaik bangsa.

Oleh Achmad Faris S.S.

Iklan

Satu pemikiran pada “Menyemai dalam Ekosistem Inovasi ITB (Epilog KM ITB part 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s