Melek Inovasi, Melek Ideologi, Melek Indonesia (Epilog KM ITB part 7)

Manusia Indonesia selalu lekat dengan falsafah keindahan. Sejarah Nusantara sebagai Bangsa Timur tak pernah bisa lepas dari kisah sastra yang memadukan sejarah dengan imajinasi. Karya anak bangsa yang terakulturasi tetap bisa melahirkan suatu khas citarasa Nusantara. Prambanan misalnya, sekalipun berasal dari latar belakang Hindu yang datang dari India, tapi akhirnya memilki karakter Indonesia.

Hakekat bangsa ini hadir sebagai bangsa yang berbakat melahirkan ide brilian. Budaya Indonesia selalu diisi dengan leisure dalam bekerja. Ngrumpi di warung kopi sembari membicarakan bangsa. Pembahasan gotong royong yang diiringi dengan pengajian Rukun Warga di kampong- kampong. Adapula lahirnya ide dan kesepakatan yang lahir dari konsolidasi bisnis dilapangan golf untuk berbagi keuntungan. Proses lahirnya ide hingga inovasi ini secara sadar ataupun tidak akan sangat berpengaruh dengan ideologi apa yang kita pegang.

Konteks ideologi selalu mempengaruhi berbagai elemen kehidupan. Pasca krisis ekonomi Amerika Serikat misalnya, terjadi perdebatan ideology konsep ekonomi ala Alan Greenspan dan Joseph Stiglitz. Di satu sisi Greenspan mengatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat harus diselamatkan melalui bail out kepada perusahaan asuransi, bank dan perusahaan investasi. Di sisi lainnya Stiglitz beranggapan bahwa penyelamatan ekonomi Amerika harus menggebrak paham Adam Smith. Apa maksudnya? Adam Smith sebagai Bapak kapitalis modern mengatakan bahwa pasar akan berkembang  tanpa bantuan pemerintah dan akan mencapai keseimbangan dengan sendirinya. Namun keseimbangan ini akan dicapai dengan satu syarat, semua orang memilki moral yang baik. Moral baik inilah yang dianggap telah hilang oleh Stiglitz di Amerika. Maka sederhana saja, bantuan penyelamatan ekonomi apapun yang diberikan kepada pasar liquiditas (pasar uang), maka hanya akan dimanfaatkan oleh penguasa pasar karena moral hazard.  Dan bantuan penyelamatan ekonomi Amerika sebaiknya diberikan langsung pada industry berupa modal usaha, dan mengubah orientasi Amerika dari negara berbasis ekonomi keuangan menjadi Negara ekonomi industri. Namun apakah berhenti sampai disini? Tidak! Siapaun opini ideologi yang menang tentunya ini akan berpengaruh besar pada warna ekonomi, hingga kebijakan inovasi dan pembangunan Amerika Serikat.

Memecah Kerak Ideologi untuk Reorientasi Semangat Bekarya

Polemik ideologis di ITB selalu menjadi warna dalam sejarah kemahasiswaan. Isu mengenai depan yang identic dengan Islam dan belakang yang identic dengan kiri (bisa liberal, sekuler, atau komunis) berkembang secara klasik hingga menjadi modern. Terkadang polemik ideologis ini menjadi anti-produktif tatkala perdebatan mengenai siapa yang benar yang dikedepankan.

Di era kekinian, pola kehidupan mahasiswa lebih sering menghindari konflik. Bagus memang. Namun juga buruk disisi yang lain. Perkembangan social media seperti twiiter yang praktis berimbas juga dalam membunuh semangat insan akademis yang mengedepankan kebenaran ilmiah dengan data mendalam. Mahasiswa menjadi lebih sering berbicara spontan dan cepat, namun juga cepat kalah ketika didebat karena tidak memilki data mendalam alias tidak ‘akademis’.

Kebanyakan mahasiswa pun lebih senang untuk mengaku independen dari ideology apapun. Dan lebih senang merangkul semua ideologi atau tidak berideologi sama sekali. Bagus memang untuk semangat persatuan. Namun ketika tidak memiliki ideologi sama sekali, maka sebenarnya ia terjebak dalam pragmatisme memilih atau ‘tidak cerdas’.  Mengapa demikian? Karena sepintar dan secerdas apapun seseorang, maka ia akan tetap dikendalikan oleh sistem ideologi yang lebih kuat.

Kekuatan bangsa- bangsa dalam mencipta bukanlah satu- satunya senjata untuk berdaya saing. Kita bisa melihat suatu fenomena, sekuat apapun Jerman atau Korea dalam menguasai inovasi, tetap saja bukan kedua Negara ini yang menguasai dunia. Siapakah penguasa dunia saat ini? Tentu saja Amerika Serikat dan China. Kedua Negara ini bukan hanya saja mampu menciptakan industri yang kuat, namun berhasil menyetir negara lain dengan inovasi teknologi dan ekonomi mereka. Amerika dengan dominasi ideology kapitalisnya, sedangkan China dengan falsafah ideology konfucius, Tsun Zu hingga komunis timur. Sebenarnya Jepang, pernah menjadi negara yang menggebrak dunia dengan paduan kekuatan ideology samurai dalam semangat industri. Hal ini terlihat dari perbedaan pola industri Jepang yang diilhami semangat samurai. Namun kini industri Jepang pun melemah karena para scholars justru mengikuti pola Barat (Stiglitz, 2011).

Bangsa ini masih memilki banyak pekerjaan rumah untuk merintis inovasi yang bisa saling terkoneksi dengan industri dan masyarakat. Isu untuk meningkatkan daya saing bangsa tentunya bukan hanya dimaknai sekedar untuk eksis di mata dunia, tetapi benar- benar berpengaruh dalam konstelasi dunia, yang tentunya harus mengawinkan kekuatan inovasi dengan kekuatan ideologi. Tugas berat ini selayaknya membuat kita setiap mahasiswa khawatir. Persiapan yang harus dilakukan bukan hanya sekedar meneruskan kemerdekaan, tetapi menegakkan keadilan dan kesejahteraan seusai pembukaan UUD 45, bahwa ‘kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa!’. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari pembodohan dan pemiskinan. Lantas apa kuncinya? Berkairya dan Berideologi!

Semangat berkarya yang 3 tahun terakhir didengungkan (sejak tahun 2009), bukan semata menjadikan mahasiswa sebagai kacamata kuda yang pragmatis memandang keilmuan.  Semangat berkarya yang sejati bukan hanya sekedar semangat untuk menciptakan produk saja. Semangat berkarya yang sesungguhnya adalah semangat memberi manfaat dengan karya nyata. Diilhami oleh suatu hakikat Al Quran bahwa Allah swt akan meninggikan orang yang menguasai ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat adalah ‘amal jariyah’ yang tak lekang lintas dunia. Inilah falsafah ideologi mengapa semangat berkarya selalu didorong oleh 3 periode kepemimpinan KM ITB yang berideologi Islam (Kabinet KM ITB Yusuf-Herry-Tizar/2009-2012).

Tanpa mengesampingkan asas ideologi lain, namun tidak dapat dipungkiri bahwa semangat ini ditegakkan dalam rangka menegakkan kalimat Tuhan melalui karya. Terpinggirkannya peradaban Islam di Tahun 1800- 1900an oleh kebangkitan Eropa, tidak lain disebabkan terpinggirkannya ideologi Islam di kalangan scholars Muslim saat itu (Kuran, 2011). Bukan sekedar mencipta karya yang didorong untuk industri bermodal besar, tetapi juga untuk masyarakat dan peradaban. Bukan bekarya untuk uang dan kenikmatan material, tapi kita ikhlaskan kepada Yang Maha Kuasa untuk menilai nilai ibadahnya.  Kita tidak akan ada matinya. Jika tidak ada uang, kita berkarya. Jika tidak ada fasilitas, kita berkarya. Jika tidak ada pujian, kita berkarya. Yang kita kedepankan adalah kepentingan masyarakat. So, inilah ideologi! Kamu?

Oleh Achmad Faris S.S.

Refrensi

Kuran, Timur. 2011. How Islamic Held Back The Middle East. Princeton Press: New Jersey

Stiglitz,Joseph. 2010. Freefall: American Sinking World Economy. Norton Company: New York

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s