Mari Mengistimewakan Angkutan Umum (Epilog Reformasi Transportasi Jogja part2)

Hari itu adalah hari yang tidak biasa. Seantero Jogja sedang menantikan babak baru kehidupan Yogyakarta. Tepat menjelang matahari bersinar tegak diatas kepala akhirnya kegundahan rakyat Jogja terjawab sudah. Riuh orang berpakaian adat Yogyakarta bersuka cita dan saling berpelukan. Beberapa warga berkumpul di perempatan Tugu untuk berdoa bersama. Sebagian ada yang heran dan bertanya, “Ada apa ini?” Panji kraton berdiri tegak menghadap sangsaka merah panji merah putih.

Pasca disahkannya Undang- undang Keistimewaan DIY akan membuat Jogja semakin istimewa. Yogyakarta akan diberi kewenangan lebih untuk mengelola tanahnya, pemasukkan, dan sistem kelembagaan yang khas. Sebagai bukti kongkrit keistimewaan, rakyat Jogja berhak mendapatkan pengembalian hasil pajak sebesar 50% ke daerahnya. Sungguh berbeda dengan daerah lain yang hanya mendapatkan 20% saja.

Keistimewaan ini adalah rakhmat Tuhan yang patut disyukuri dengan arif dan bijaksana. Bisa pula dinilai sebagai buah dari kepercayaan entitas rakyat Indonesia yang besar. Dan semestinya mampu dijadikan ruang berkarya yang dahsyat.

Namun kita masih patut bersedih. Kemiskinan dan ketidakberdayaan masih ada. Patut pula kita renungkan bahwasanya transportasi Yogyakarta justru menjadi metode pemiskinan dan pembodohan yang efektif.

Perkotaan Yogykarta yang panjangnya tidak lebih dari 8 km kini sering mengalami kemacetan cukup kronis. Tapi apakah akan menunggu semakin kronis seperti Jakarta? Tiap hari rakyat dimiskinkan dengan pengeluaran transportasi yang mahal setiap bulannya. Berdasarkan studi Tata Transportasi Wilayah DIY 2009, sebanyak 76,07 % orang memilki sepeda motor, dan 55% daiantarannya adalah pengemudi motor aktif.

Imbas dari semua itu adalah kemacetan yang mampu memiskinkan secara perlahan- lahan. Mari kita pandang juga secara komunal, tidak hanya dari perspektif individu saja. Jakarta misalnya, mengalami kerugian akibat kemacetan sebesar Rp 17,2 triliun per tahun akibat waktu yang terbuang, gangguan kesehatan dan konsumsi bahan bakar ???(Jakarta Globe, 2011). Lalu bagaimana dengan Jogja? Yang jelas berapa pun besar kerugian akibat kemacetan yang terjadi di Jogja, semuanya ditanggung oleh rakyat.

Tradisi Jawa yang penuh dengan konsep berbagi dan ‘tepo seliro’ tidak bisa kita lihat lagi di jalan. Padahal jalan adalah ruang  yang ditemui oleh siapapun setiap hari. Tanpa disadari jalan mampu membentuk karakter masyarakat. Biasanya semakin beradab suatu bangsa, maka akan semakin tertib lalu- lintasnya. Namun di Jogja kini, bunyi klakson menyeruak dimana- mana. Pejalan kaki tidak lagi dihormati oleh motor yang berseliweran. Egoisme di jalanan begitu tinggi.

Refleksi egoisme yang kentara terlihat pada penggunaan kendaraan pribadi. Hampir setiap rakyat Jogja lebih suka menggunakan kendaraan pribadi ketimbang berbagi di angkutan umum. Tidak dapat kita pungkiri, menggunakan bus kota saat ini lebih menyulitkan daripada menggunakan motor. Artinya, sistem yang ada mempersulit orang yang ingin berbagi, dan mempermudah orang yang egois. Bisa jadi ini akan merusak konsep berbagi dalam tatanan masyarakat Jogja. Apakah kita akan terus menerus membodohi anak cucu kita dengan nilai egoisme?

Keberpihakkan pada Angkutan Umum

Pangkal budaya kita hampir selalu saling menyalahkan. Jika kemacetan menerpa suatu perkotaan, maka jelas yang dituding adalah tingginya penggunaan kendaraan pribadi oleh masyarakat. Sementara itu, masyarakat pun tidak ingin disalahkan. Sudah pasti yang disalahkan adalah ketidaktersediaannya angkutan umum yang andal dan berkualitas.

Bukan tanpa usaha. Suatu gagasan luar biasa pernah diusung oleh Kangjeng Sri Sultan bersama masyarakat transportasi untuk menata sistem angkutan umum. Konsolidasi besar- besaran dengan prinsip ‘nge-wongke’ atau ‘memanusiakan’ berhasil memunculkan Transjogja pada tahun 2008.

Prinsip ‘nge-wongke’ dilakukan dengan membentuk konsorsium yang kini bernama PT Jogja Tugu Trans. Hampir seluruh operator bus kota sepakat bergabung dengan penuh kepercayaan kedalam konsorsium. Tidak seperti Transjakarta, implementasi Transjogja nyaris mulus. Memori lama tidak bisa terlupakan kala para supir bus kota Jakarta ‘berteriak’ karena penumpangnya hilang akibat terserap oleh Bus Transjakarta. Namun, bukan berarti munculnya Transjogja tanpa pengorbanan. Bagi operator yang ingin bergabung kedalam konsorsium PT JTT, maka mereka harus merelakan 2 bus lama. Namun apakah pengorbanan ini setimpal dengan hasil pengurangan kemacetan yang didapatkan? Tentunya kita masih bertanya- tanya.

Sudah jelas Transjogja kini bukan lagi menjadi primadona bagi masyarakat. Angka okupansinya hanya 35- 40% per tahun. Artinya subsidi sebesar lebih dari Rp 20 Miliar diberikan untuk membiayai banyak bangku kosong yang berjalan (Pre-Feasibility Study Angkutan Umum CDIA, 2011).

Kita tidak  bisa berhenti disini saja. Momentum keistimewaan harusnya bisa menjadi potensi besar dalam meningkatkan kualitas angkutan umum perkotaan di Yogyakarta. Bukan sekedar untuk mengurangi kemacetan saja. Namun perlu dimaknai sebagai upaya meningkatkan sisi humanistik Jogja dan mendidik masyarakat melakukan ‘tepo seliro’ dalam kehidupan transportasi.

Sistem Transit Transjogja yang ada sudah saatnya direformasi menjadi sistem Bus Rapid Transit. Transjogja yang tampil baik, berkualitas, dan mampu dipercaya bagi masyarakat. Ketidaktepatan waktu perlu diubah menjadi ketepatan waktu. Prinsip ini hanya bisa dilakukan jika Transjogja memilki jalur prioritas dan memilki prioritas di persimpangan.

Pembangunan sarana dan prasarana yang tegas dan bercitra kuat dibutuhkan. Memang bukan perkara murah. Namun membangun jalan juga bukan pula hal yang murah. Pilihannya tinggal apakah rakyat Jogja akan terus dibiarkan memberi subsidi pada ‘bangku kosong yang berjalan’?Atau sudah saatnya momentum keistimewaan dijadikan momen penting untuk melakukan investasi utama pada angkutan umum.

Oleh Achmad Faris Saffan

Urban planner

Iklan

4 pemikiran pada “Mari Mengistimewakan Angkutan Umum (Epilog Reformasi Transportasi Jogja part2)

    1. yoiii so pasti.. sebagai anak bangsa kita harus mulai rajin menceritakan keberhasilan dan kegagalan dr kisah hidup kita dalam memperjuangkan sesuatu es,,

      1. ngomongin perbaikan angkutan umum dan pembatasan kendaraan pribadi ini kalo kata gw sebenernya kayak ngomongin ayam atau telur. bisa disimplifikasi dengan bertindak fokus pada salah satu tanpa mengabaikan yang lain. dan harus dilakukan bersama-sama, hehehe..

      2. Pembatasan kendaraan pribadi dan peningkatan kualitas angkutan umum bisa dilakukan bersama- sama saat sistem sudah lumayan stabil seperti Jakarta. Tapi klo di kota seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dll yg situasi transportasinya belum stabil, Peningkatan kualitas angkutan umum mutlak dilakukan pertama kali. Baru setelah itu diikuti oleh pembatasan kendaraan pribadi dan manajemen permintaan transportasi. Prinsipnya masyarakat harus punya alternatif berkualitas tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi. Bisa kita lihat Jogja, capek2 membuat fasilitas sepeda tapi hancur juga dan gk kepake karena orang tetap saja pake mobil atau motor. Kalo parkir dimahalin, masyarakat bisa marah- marah. Kalo jalan dilebarkan terus, berarti sama saja dgn mempersilahkan orang menggunakan mobil atau motor. Dan yg pasti tambah muaacet… CMIW..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s