Renungan Idul Fitri: Anomali Umat Islam Indonesia

Lebaran Surabaya

Surabaya, 8 Agustus 2013

Allahuakbar!!! Allahuakbar!!! Allahuakbar!!!

Ramadhan ini adalah ramadhan yang berkesan dalam hidupku. Entah kenapa? tidak seperti biasanya dari 10 hari iktikaf, hanya 2 hari saya lewatkan karena sedang di kereta api dan kelelahan. Setidaknya ada 2 alasan mengapa saya kuat melakukannya. Pertama, karena ramadhan kali ini dimulai dalam tanggal berbeda, sehingga sudah tidak jelas lagi mana malam ganjil yang sebenarnya. Kedua, saya memilki motivasi kuat untuk melakukan istikharah terhadap seorang perempuan.

Dalam renungan kecil saya, berkali-kali saya bertanya akan anomali umat Islam Indonesia. Tampaknya sudah berpuluh-puluh kali kita insan Indonesia melalui pembekalan Ramadhan. Tidak jarang pula diantaranya yang melakukan iktikaf non-stop di masjid, bahkan sekaligus melakukan umrah di Tanah Suci. Terlebih, sudah berjuta-juta manusia Indonesia yang kita kirimkan pergi Haji untuk hijrah menjadi lebih baik. Kenapa banyaknya orang- orang ini justru tidak berdampak banyak mengubah wajah Indonesia?

Sebenarnya setelah saya pikir- pikir, negeri ini bukannya tanpa solusi. Negeri ini juga bukannya tanpa ide kebaikan yang terorganisir. Dalam pandangan saya, negeri ini hanya belum diisi oleh banyak orang yang ikhlas berjuang di jalan Allah swt. Lalu apakah orang yang ikhlas itu? mungkin sudah banyak teori tentang keikhlasan, yang jelas intinya adalah ketika seseorang telah bisa terlepas dari nafsu harta, wanita dan tahta.

Bisa jadi ego nafsu inilah yang membuat apapun ide solusi cerdas perbaikan bangsa akan sulit diwujudkan karena bukan lagi substansi atau kebenaran ilmiah yang menjadi landasan. Tetapi sudah masalah siapa, dari golongan mana ide solusi itu berasal dan apa untungnya bagi kelompok mereka?

Sebenarnya Al Quran sudah jelas tidak melarang adanya perbedaan. Justru dengan perbedaan umat Islam seharusnya dapat saling kenal mengenal. Tapi tak pelak, bukannya menghargai perbedaan justru kita saling tercerai-berai. Salahsatu contohnya, negeri ini memilki banyak partai Islam yang masing-masing diantara mereka tidak jelas vektor arah pergerakkannya.

Saya tidak mengerti benar apa sebenarnya solusi masalah ini. Tampaknya memulai dari diri sendiri untuk mulai selalu berpikiran terbuka terhadap perbedaan, dan banyak mendengar adalah langkah kecil yang bisa kita ambil. Rasanya ini baru bisa dimulai dari sendiri agar kelak kita bisa menjadi bukan sekedar ‘agen perubahan’ tapi juga ‘agen pemersatu’.

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s