Kenapa Harus Kerja Di Jakarta?

Jakarta

Yogyakarta, 11 Agustus 2013

Berat awalnya, tapi akhirnya sudah tak terasa saya hijrah hampir selama 2 tahun dari Bandung ke Yogyakarta untuk bekerja. Begitu banyak ‘culture shock’ yang sempat terjadi di awal tapi akhirnya bisa ‘kelakon’ juga. Ingat sekali bahwa hampir setiap akhir minggu saya bolak-balik pulang ke Bandung karena sulit mencari aktualisasi di kota kecil.

Hampir setiap bulan kampus negeri nasional selalu meluluskan sarjananya ke kancah dunia kerja. Banyak diantara mereka yang tertarik untuk bekerja di Jakarta karena dianggap akan memilki pendapatan lebih besar. Sebagian diantaranya juga menganggap bahwa eksistensi dunia pergaulan sangat penting sehingga Jakarta adalah tempat yang tepat. Namun diluar itu semua saya mulai menyadari bahwa ternyata banyak keuntungan yang bisa diambil oleh seorang sarjana muda ketika berkembang diluar Jakarta.

Pertama adalah efisiensi mobilitas. Jakarta adalah kota macet. Banyak rekan saya yang kerja ‘eight to five’ dan menghabiskan 5 jam untuk bolak-balik perjalanan.Akibatnya banyak yang hanya ‘stuck’ ke satu pekerjaan kantornya saja.  Dengan bekerja di kota yang belum terlalu macet, banyak waktu yang bisa diefisienskan. Sayang sekali seorang sarjana yang baru lulus berhenti untuk mengembangkan diri. Saving waktu yang ada bisa kita manfaatkan untuk belajar bahasa baru atau kerja sosial.

Kedua, beberapa perusahaan swasta memilki rasio gaji yang berbeda dengan Jakarta. Biasanya karena dianggap bekerja ditempat baru, seorang karyawan kerap diberikan allowance untuk rumah tinggal. Tak jarang juga rekan-rekan saya yang bekerja di Medan, Balikpapan, atau Bali justru memilki gaji lebih besar ketimbang rekan yang stuck di Jakarta. Kalau kita pintar-pintar berhemat dan mau hidup prihatin, sisa uang tersebut bisa kita gunakan untuk tambahan tabungan.

Ketiga, ternyata memilih untuk menyepi selama beberapa waktu banyak memilki manfaat. Banyak sekali teman saya yang suka mengeluh karena kesulitan menabung akibat banyaknya ‘rutinitas kongkow’ di kafe yang jelas tidak murah. Belum adanya dorongan sosial untuk membeli gadget terbaru yang seringkali menguras gaji. Apalagi setelah memilki kartu kredit, gaji seringkali hanya bertahan seminggu karena sisanya dipakai untuk membayar cicilan hutang.

Last but not least, dengan memilih kerja diluar Jakarta apalagi di kota yang benar- benar belum kita jamah banyak hal baru yang kita pelajari. Suatu saat ketika menjadi pemimpin bangsa atau perusahaan, mengenal level bawah sangat esensial. Jakarta yang kebanyakan dihuni oleh kantor pusat yang notabene mengelola manajemen lebih banyak akan memberikan ‘pengalaman teoritis’ bagi sarjana muda.

Saya benar- benar merasakan, berbekal hanya sarjana S-1, tetapi banyak kontribusi yang bisa saya berikan karena minimnya ‘orang ahli’. Ada kebangaan tersendiri jika ide dan kerja kita memilki manfaat besar bagi lingkungan kita. Hal berbeda tentu akan terjadi jika di Jakarta, karena sarjana S-1 seperti saya akan banyak bersaing dengan Master atau Doktor yang berpengalaman.  Pelan tapi pasti, akhirnya kita akan lebih mudah terlihat berprestasi seperti peribahasa lama akan mudah terjadi, “menemukan berlian ditengah jerami akan lebih mudah ketimbang ditengah emas”.

Renungan kecil saya selalu ingin mengajak sarjana muda untuk berdiaspora ke pelosok Indonesia, bahkan kota perbatasan. Negeri ini kekurangan orang cerdas, tapi sudah terlalu banyak orang cerdas di Jakarta. Mengabdi sejenak bagi masyarakat daerah adalah wujud terima kasih kita kepada bangsa ini yang sudah memfasilitasi kita dengan pendidikan tinggi. Marilah membuat Indonesia tersenyum, dengan menebar karya dan inspirasi ke pelosok negeri, agar kelak Indonesia bisa tersenyum dengan sendirinya.

Achmad Faris Saffan Sunarya

 

Iklan

10 pemikiran pada “Kenapa Harus Kerja Di Jakarta?

  1. saya pribadi baru tersadarkan, bahwa tidak hanya uang dan karir saja yg menarik para sarjana muda datang ke jakarta. melainkan adalah (dan cenderung tidak ada di kota lain), yaitu jakarta adalah pusat utama pengetahuan: tempat berkumpul orang-orang pintar, tempat diadakan event-event yg bisa memberi banyak inspirasi dan pelajaran.

    tapi bagaimanapun juga, sarjana-sarjana muda harus ikut berdiaspora dan berkontribusi mengembangkan kota-kota lain di indonesia 🙂

  2. True story tulisannya! Tapi belum kesampean dapet rezeki buat gak kerja di Jakarta hehehe, untung tiap hari naik transportasi umum & usaha bawa bekal, jadi uang gak habis buat kongkow, waktu nggak habis untuk menatap macet di jalan 😀

  3. Bekerja dimana pun pasti ada +\- nya. Tak ada yang lebih baik. Yang paling baik adalah bagaimana kita bisa melihat potensi dan dapat membuat diri kita berkembang. Karena mau sampai kapan kita di gaji org. Jadi yg terpenting adalah pengembangan diri yang mampu membuat kita berdiri dgn kaki dan tangan kita ketimbang makan gaji dari orang lain. Ada kata2 bijak :”lebih baik jadi kepala kucing; ketimbang ekor macan”.

    Kalau saya pribadi memilih kerja di jakarta karena sebagian besar keluarga sudah tinggal di jakarta sehingga saat saya berkeluarga (nanti) , saya akan tinggal di jakarta. Memupuk koneksi dan jaringan sejak dini adalah kunci sukses hidup di jakarta (juga di kota2 lain).

  4. komen ah:

    1. Dengan alasan tersebut, saya rela bayar kostan lebih mahal, demi “bisa jalan ke kantor 5 menit” daripada musti 5 jam. Bisa bangun siang, bisa santai pas pulang.

    2. gaji konon jakarta lebih gede. emang sih.

    3. kongkow, kafe, gadget, atau CC itu bergantung ke orangnya sih. Gaya hidup. Daripada makan gengsi, mending dipake yg penting. Investasi misalnya. Saya sendiri bukan pemakan gengsi. Belajar bilang tidak buat kongkow atau gadget semata.

    4. no komen. bagi saya masih abstrak, maklum, saya newbie.

    Mungkin nambahin, kalau di jakarta, dan kita bukan dari jakarta, rada berat, terutama di masalah tempat tinggal dan lingkungan. Apalagi buat yg non-jakarta seperti saya. Kayaknya, lebih tenang di Yogya atau Bandung.

    Artikel menarik. Salam dari saya, 1 tahun kerja di Jakarta. Terus minggat.

    1. haha.. banyak benernya ente gan.. kecuali nomor 2, gaji di daerah juga sering lebih tinggi bro. apalagi kalo bidang teknik… hehe

      selamat hijrah dari Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s