Romansa Flat Tiga Lantai (Filosofi Angkringan part1)

Yogyakarta, November 2013
Flat Kimia Farma

Setelah sempat sibuk merekam lagu, membuat video, dan kisruh politik Transjogja, akhirnya hari yang mulai agak santai datang lagi. Saatnya kembali menulis dan menyiapkan tes TOEFL yang akan saya ambil lagi. Tapi seperti biasa, ditempat favorit saya belajar selalu tersedia wi-fi yang membuat jari saya seolah gatal untuk menulis kembali di blog.

Entah kenapa, saat mulai akan menulis tulisan ini, sesaat saya teringat tadi pagi adalah hari yang indah saat sarapan bersama Rayhan (8 bulan) anak dari kawan saya dimasa kuliah dulu di ITB. Mengendong dan bermain bersama Rayhan membuat saya timeflies ke pada diri saya sendiri di waktu kecil. Muka Rayhan yang putih dan botak plontos mirip sekali dengan wajah saya waktu bayi, tapi tentunya saya dulu lebih cengeng dibanding Rayhan.

Kurang lebih 24 tahun yang lalu saya orangtua saya pindah dari Cempaka Putih Jakarta ke sebuah flat dinas Kimia farma di Cihampelas Bandung. Tepat 2 dekade saya besar di sebuah flat tiga lantai itu. Lingkungan flat yang besar dan dihuni mayoritas pegawai muda Kimia Farma membuat saya punya banyak teman sejak kecil. Bukan cuma sekolah yang punya angkatan, di flat saat itu ada sekitar belasan anak yang kurang lebih lahir dalam tahun yang berdekatan dan akhirnya menjadi teman bermain.
Saya dan adik-adik saya hampir tidak pernah punya mainan mewah. Kecuali saat itu saya pernah punya sebuah Play Station yang saya beli dari hasil sumbangan sunat. Itupun sering kita pakai main bergantian dengan tetangga. Selebihnya waktu bermain kami lebih banyak dihabiskan disuatu lapangan dengan bola palstik 3000 perak atau bola tenis sisa.

Saat itu didepan flat tersedia 2 buah lapangan tenis yang tidak pernah kami pakai untuk main tenis, tapi justru untuk main bola dan kasti. Haha.. Tidak jarang saya dulu berkelahi untuk berebut jatah bermain bola dengan anak kampung bawah yang agak sedikit nakal. Pukul 4 teng seusai film ‘Jiban’, atau ‘Jiraiya’ bisanya kami buru- buru berkumpul di lapangan untuk main bole sebelum dijajah oleh anak kampung bawah. Saya merasa bersyukur dibesarkan didekat lapangan. Lapangan tenis itu telah membuat saya terbiasa berolahraga dan bersosialisasi dari dulu hingga kini. Sungguh berbeda dengan anak zaman sekarang yang lebih suka maen bola di depan layar TV sambil memegang ‘joy stick’.

Uniknya air di flat tidak selalu tersedia setiap saat. Air biasanya hanya ‘ngocor’ secara bersamaan pada jam 9 malam hingga jam 11. Karena anak paling besar di rumah, biasanya saya membantu Mama menunggu air ngocor hingga selesai, saat beliau menyuci baju di belakang. Sudah jadi kebiasaan kalau dulu saya sering belajar lebih didepan TV sambil nonton Box Office RCTI sampai ‘air ngocor habis’. (Kayaknya kebiasaan itu yang membuat saya agak multitasking). Yang paling repot adalah saat satu keluarga ketiduran, dan air ngocor lupa ditampung. Biasanya kami harus menumpang mandi ke tetangga.

Saya tidak bisa dibilang orang kaya atau orang miskin saat itu. Tapi kami tidak bisa mengeluh. Dan anehnya walau Papa memilki rumah yang jauh lebih layak dan besar di Metro Margahayu dan Buahbatu, kami tidak pernah benar- benar pindah hingga Papa pensiun dari Kimia Farma. Tinggal di flat yang kecil ternyata sudah membuat keluarga kami dekat hingga dewasa. Saya dulu sudah biasa tidur berempat ‘umpek-umpekkan’ dengan adik saya di kasur yang sama. Itulah yang membuat kami sering bertengkar sekaligus dekat satu sama lain.

Di lingkungan flat yang besar dan padat ,membuat kami terbiasa aktif berorganisasi dalam kegiatan ‘Karang Taruna atau panitia 17 Agustus’, dan akhirnya jiwa aktifis kami terbawa hingga besar. Kami pun terbiasa mengaji selepas bada maghrib dari kecil. Kala itu Mama adalah orang yang mengubah sebuah gudang di dekat lapangan tennis menjadi mushala yang selalu ramai dengan kegiatan TPA dan pengajian.

Itulah romansa flat sederhana yang mebentuk karakter hingga saat ini. Keterbatasan yang disyukuri ternyata justru memberikan kekayaan yang lain.

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s