Nelson Mandela, dan Nova Scotia : Mari Kembali Berpikir Besar

Yogyakarta, Desember 2013

Jika sepucuk kisah keinginan gagal kita penuhi, maka tinggalkanlah dan kejarlah yang lain. Hidup ini terlalu singkat hanya untuk kita habiskan di satu kisah saja
-Tere Liye-

Rasanya tiada hari tanpa berita duka muncul di facebook akhir-akhir ini. Dimulai dengan meninggalnya adik kelas yang kelelahan di kosan,dan hilang di hutan. Dilanjutkan oleh kematian heroic yang insy4wl berujung syahid pada tiga anak muda kru Kereta Komuter di Bintaro. Ditambah kepergian mahasiswa cerdas Indonesia di Delft atau seorang copywriter berbakat.
Hidup ini sebenarnya seperti sebuah gerbong kereta yang sudah jelas pasti akan berujung pada kematian. Persoalannya kita memang tidak pernah tahu seberapa panjang perjalanan kereta ini. Lalu kenapa kita masih selalu sibuk bersenang-senang didalamnya? Maka nikmat Tuhan manakah yang telah kita dustakan?

Saya selalu ingat sebuah nasehat dari kakak mentor saya di SMA. Beliau pernah berkata bahwa kita ini sudah pasti akan mati. Namun kita selalu memilki kebebasan untuk memilih bagaimana cara kita akan mati.

Nelson Mandela misalnya. Terlepas dari latar belakang agama yang dia anut, menurut saya dia benar- benar telah mengubah dunia sebelum mati. Sekalipun hampir seperempat jatah hidupnya Ia habiskan di penjara, namun tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Pemikirannya yang besar untuk menghapuskan ketidakadlilan ‘warna kulit’ tak bisa terhalangi oleh jeruji besi. Kecintaanya pada nasib manusia yang tertindas tersambung pada frekuensi getar hati manusia di seluruh dunia. Tampaknya, Nelson Mandela adalah tipe manusia yang lebih mencintai nasib manusia di dunia daripada dirinya sendiri. Itulah yang membuatnya besar dan akhirnya meninggal dengan meninggalkan karya besar. Karya keadilan yang tidak membedakan warna kulit.

Namun tidak semua orang harus meninggal besar dengan meninggalkan nama yang besar juga. Nova Scotia ternyata memberikan cerita lain. Nova Scotia adalah suatu lokasi di pesisir timur Kanada yang memproduksi salah satu minyak dan gas alam terbesar di Kanada. Lokasi ini pertama kali diindikasi sebagai sumber minyak pada tahun 1943. Berbagai riset dilakukan oleh berbagai perusahaan minyak hingga pada tahun 1973 ditemukan kesimpulan bahwa sumber minyak ini tidak feasible secara keuangan. Kompleksnya teknologi eksplorasi yang diperlukan, dan harga minyak yang relatif rendah saat itu tidak bisa mengembalikan modal investor manapun. . Berbagai perusahaan minyak pun akhirnya mundur dan meragukan keberhasilan Nova Scotia. Namun para negarawan Kanada yang tidak dikenal semahsyur Nelson Mandela berani mengambil resiko kerugian dengan melanjutkan kegiatan menuju eksplorasi. Alhasil ditengah tingginya harga minyak dunia (crude oil) yang tinggi dan ditemukannya sumber gas baru di tahun 2000, Nova Scotia telah mampu berkontribusi menambah pundi-pundi kekayaan Kanada. Visi besar dan ide gila negarawan Kanada di tahun 70an membutuhkan waktu 30 tahun untuk terbukti menjadi karya besar.

Kisah ini hanya sepotong kisah kecil dari perjalanan anak manusia. Tapi tren dan kesimpulannya sudah cukup jelas, bahwa karya besar selalu berasal dari orang yang berpikir besar (tidak mesti terkenal). Hati kecil saya berdoa, semoga aku diberi kesempatan membuat karya besar sebelum aku mati. Jika aku mati sebelum karya besarku selesai, semoga aku dimudahkan untuk memberi inspirasi orang lain untuk membuat karya besar.

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s