Kemenangan Kecil, Sebelum Kemenangan Besar (Refleksi Mahameru bagian 1)

Ditulis di Yogyakarta, Januari 2014
Dipikirkan di sepanjang perjalanan menuju puncak Mahameru

Puncak Mahameru 2013
Dulu saya sempat berpikir bahwa mendaki gunung adalah semacam olahraga ‘gembel’ yang penuh dengan tanah dan peluh lelah. Dulu saya juga berpikir bahwa para pendaki gunung adalah orang yang lebih suka lari dari masalah dengan merenung ke alam daripada menghadapi tantangan sebenarnya di masyarakat. Sekalipun saya sudah terbiasa melakukan long march lintas hutan sejak SMA di pegunungan sekeliling Bandung, namun entah kenapa saya tidak pernah terlalu tertarik mendaki gunung.
Namun semua itu berubah justru saat saya mulai hampir lulus kuliah. Dimulai dengan mendaki Gunung Gede, lalu Gunung Papandayan yang ternyata membuat saya ketagihan. Ini bukan olahraga murahan, karena peralatan mendaki gunung professional lumayan menguras kocek. Masalah yang dihadapi saat mendaki gunung juga bukan sekedar persoalan bertahan di alam, tapi menguji mental daya tahan.

Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan alamnya yang indah bukanlah sekedar untuk dibanggakan, tapi untuk kita kenali. Lansekap alam pegunungan Indonesia selevel dengan lansekap ala film Lord of The Rings atau Twilight. Dengan adanya potensi ini, cobalah untuk memanfaatkan gunung- gunung Indonesia untuk mendidik karakter kita menjadi bangsa yang kuat.

Tantangan menuju puncak gunung adalah wahana pendidikan yang luar biasa. Perjalanan menuju puncak biasanya dilakukan sejak tengah malam agar para pendaki dapat menikmati matahari terbit disana. Ini bukanlah soal menaklukan puncak, tapi ikhtiar kita untuk bersahabat dengan puncak gunung itu. Banyak pendaki kuat yang datang namun tidak beruntung mencapai puncak karena terhalang badai atau dehidrasi. Tapi saya juga pernah memilki tiga orang teman yang tidak pernah mendaki gunung sama sekali, namun mereka mampu mencapai puncak Mahameru. Mereka adalah Alvian Chris Pradana, Yangi Dwi Marga Pinanga dan Dwininta Widyastuti.

Selama menuju puncak, saya sadar bahwa sebenarnya dihati mereka ada keinginan untuk menyerah. Terlebih energi fisik yang menguras membuat kami berjalan sambil terkantuk. Sekalipun matahari sudah muncul melebihi ufuk, namun puncak mahameru masih terlihat begitu jauh. Sama jauhnya dengan harapan kami untuk berhasil saat itu.
Seorang ranger turun pada pukul 7 untuk menghampiri kami bahwa letusan kawah datang lebih cepat. Sebaiknya jam 8 puncak Mahameru sudah steril karena khawatir akan adanya semburan gas beracun disana. Dengan energi tinggal seperlima saja ditambah dengan habisnya air minum, harapan kami sangat tipis. Sempat terbesit untuk kembali kebawah, namun jalan untuk kembali lebih jauh daripada puncak itu.

Setelah berjalan lebih dari 5 jam rasa menyerah mulai muncul karena lingkungan dan harapan yang tidak kunjung datang. Terlebih banyak sekali para pendaki yang tumbang dan hanya tertahan di lereng sambil tertidur. Setiap lima langkah yang kami lakukan, longisiran pasir membuat kami turun tiga langkah. Sungguh begitu menguras energi.

Namun saat itu kami memliki seorang rekan bernama Lika Lulu yang terus membuat kemenangan kecil sebelum kemenangan besar. Dia berteriak, “ Ayo kita ke batu itu dulu untuk istirahat!”. Lima belas menit berjalan kita akhirnya sampai di batu besar. “Kemudian dia berteriak lagi ayo kita ke batu kotak itu untuk istirahat!”. Hanya itu yang kami lakukan secara terus menerus. Benak saya akan puncak sesungguhnya hampir hilang dan yang ada hanya target-target batu checkpoint yang jelas terlihat saja.

Semangat kami bertambah besar saat bertemu pendaki yang baru turun dari puncak dan berujar pada kami bahwa puncak hanya 15 menit lagi. Walaupun itu sepertinya ia berkata tentang waktu yang ia gunakan untuk turun dari titik itu, bukan untuk naik, tapi ternyata energi positif kemenangan kecil ini membuat kami bertahan untuk berjalan hingga puncak saat energi kami diambang batas.

Akhirnya tepat setelah berjalan hampir 8 jam, kami mencapai puncak bersama. Perjalanan menuju puncak bersama mereka jauh lebih membuat saya bahagia. Jujur itu lebih indah daripada keindahan yang ditawarkan di puncak mahameru itu sendiri. Tak terbayang jika saya hanya mencapai puncak sendirian sendiri tanpa mereka. Mungkin saya hanya akan sekedar bahagia. Bersama menuju puncak bersama mereka, ternyata adalah bagian dari kemenangan besar saya.

Sungguh perjalanan ini dapatlah diambil perjalanannya. Bahwa ketika kita memilki suatu cita-cita tinggi cukuplah kita lihat sekali dan kita tanamkan di dalam hati. Melihatnya terlalu sering di tengah perjalanan terkadang membuat kita kufur dan membuat kita berpikir bahwa mimpi itu terlalu jauh. Rasa-rasanya cukuplah ‘kemenangan-kemenangan kecil’ menuju puncak itu sendiri yang selalu kita lihat dan syukuri. Perlahan tapi pasti, mimpi itu akan semakin dekat pada kita.
Achmad Faris S.S

Iklan

2 pemikiran pada “Kemenangan Kecil, Sebelum Kemenangan Besar (Refleksi Mahameru bagian 1)

  1. bagus ris analoginya. tp kok ada twilight yeees. baru tahu kalo di twilight ada pendakian gunungnya, haha 😮

    setujuu sm kesimpulannya. mimpi memang setinggi langit, tp emang lbh enak bkn kayak tangga gitu mimpinya. coba diraih step by step jd ga kerasa jauuuuh bangeet x)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s