Tidak Susah Mencari Teman Disaat Susah (Refleksi Mahameru bagian 2)

Yogyakarta, Januari 2014
Making friends

Home for me is where you are. This home for me is nothing without you. Since we are alone and more alone. Grab me in your arm and take me home- US Take Me Home

Pernahkah kita mendengar tentang pepatah yang mengatakan tentang 3 cara mengenal seseorang lebih dalam? Pepatah tersebut mengatakan ajaklah bermusafir bersama, tinggal bersama dan meminjamkan hutang padanya.

Sekalipun kita dilahirkan sendiri dan akan dikembalikan sendirian padaNya, tetapi sudah menjadi harkat manusia bahwa teman adalah suatu kebutuhan. Baik buruknya karakter kita sebagai insan manusia terkadang dipengaruhi oleh seberapa baik kualitas kawan kita. Ingatkah suatu hadits bahwa seseorang akan barbaui minyak kesturi saat dia bergaul dengan penjual kesturi, dan akan bau minyak saat bergaul dengan tukang minyak. Ya, kita memang tidak perlu memilih-milih teman, tapi bolehlah kita selektif memilih sahabat.

Namun aura persahabatan cukup terasa berbeda saat kita mendaki gunung. Berangkat dengan 9 orang rombongan pendaki tidak professional ke gunung semeru, bisa dikatakan tim ini hanya tim hura-hura. Berjalan selama 5 hari 4 malam dengan sahabat saya di Kabinet dulu memang menakjubkan. Hidup di alam tanpa gadget dengan mereka ternyata benar- benar #ASIK. Datang dengan keadaan pasrah tidak bisa menikmati puncak, tapi yang penting kita bahagia bersama setelah satu sama lain diantara kami sudah lama tak bersua.

Tuhan itu Maha Baik. Entah kenapa saat singgah di pos pertama Ranupani kami melihat seorang perempuan menggunakan jaket biru IMA-G ITB. Spontan saja kami menyapa sok kenal, “Oii anak Arsi!”. Perempuan itupun menoleh dan akhirnya kita saling bertegur sapa. Sosok wanita itu adalah The Padmi, yang ternyata 3 tahun lebih senior dibandingkan saya. Kami akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama, setelah dia tahu bahwa kami adalah pendaki tidak pro. Lantas akhirnya berkenalanlah kami dengan rekan satu tim Teh Padmi lainnya.

Di sepanjang perjalanan saling menyapa dan memberi semangat sesama pendaki adalah hal yang wajar. Saat kami keletihan mendaki puncak dengan nafas ternegah- engah, berkali-kali pendaki berkata, “Ayo Mas sedikit lagi!”. Kami saling berbagi bahan makanan dan masak bersama dengan rombongan Teh Padmi. Saling berofoto dalam kamera yang sama walau baru saling kenal. Saling membantu mendirikan tenda.

Pernah sekali teman saya, Ata tertinggal di belakang karena Maag. Akhirnya dia pun ditemani oleh teman Teh Padmi hingga sampai menuju puncak. Saat Ata (kawan kami yang berjalan di belakang dan jauh dari tas logistik) kehabisan air minum dan kelaparan, tiba- tiba saja ada rombongan anak Makassar yang memberikan air minum dan beberapa biskuit kepada Ata.
Itulah persahabatan di gunung. Pikiran sederhana saya berkata, tampaknya keluar dari zona nyaman dan untuk mencapai suatu tujuan perlu kita selalu lakukan. PAsti disaat tersebut kita akan mengalami kesusahan. Tapi disaat kita kesusahanlah, orang lain dengan tujuan yang sama akan menjadi teman baru untuk kita. Hmm.. Let making friends!
Foto tim semeru 2013

Achmad Faris S.S.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tidak Susah Mencari Teman Disaat Susah (Refleksi Mahameru bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s