Kabur ke Rinjani (Kupinang Engkau dengan Ar- Rahman part 1)

Merenung di RInjani

Berlin, 2014

Ternyata benar bahwa segala kebaikkan akan dibalas dengan kebaikkan lain sekalipun sebesar zarah. Entah semuanya menjadi mudah dan lapang selepas saya mengizinkan adik saya menikah. Allah membuka jalan saya justru ketika setelah saya membuka jalan bagi orang lain.

Shuffah, Istri saya kala itu bukanlah sosok yang selalu dalam benak saya. Kami tak terlalu saling kenal sesungguhnya. Bahkan saya hanya tahu wajahnya tapi tak mengenal siapa namanya. Namun tanpa saya sadari, sebenarnya Allah sudah pernah hampir mendekatkan saya dengan dia dengan berbagai cara. Pertama, Allah mempertemukan kami dalam kepanitiaan ITB Fair 2010, tapi saat itu aku tak sadar. Allah juga mempertemukan kami dalam departemen ekonomi GAMAIS ITB, tapi aku tak sadar. Allah juga menempatkan ruang kuliah kami secara bersebelahan, walau beda fakultas, tapi aku pun tak sadar. Allah pun ternyata pernah mengetuk 2 hati seorang ‘murabbi’ untuk menjodohkan kami semasa saya masih kuliah di itb, tapi saat itu aku belum mau berproses dengan cara ta’aruf proposal.

Mungkin saat itu aku terlalu bebal untuk mengerti ‘tanda- tanda’ yang Allah berikan. Mungkin saat itu aku belum siap, karena hati ini belum mengerti arti keikhlasan dalam menikah. Hingga akhirnya akupun mencari dengan susah payah siapakah jodohku gerangan.

Aku pun lelah akhirnya, dan mulai lelah untuk berpikir menikah. Yang ada didalam benakku hanyalah hijrah dari negeri ini, dan mimpi untuk kuliah di benua biru.

Namun.. ternyata dibalik kelelahan itu muncullah kepasrahan. Ternyata dibalik kepasrahan itu muncullah rasa tawakal yang menguatkan hati pada saat temanku, Diedha, mengirimkan email CV sosok perempuan yang tidak begitu aku kepadaku.

Mungkin aku kualat, karena tak pernah terbayankan dalam diriku akan menjalani proses dengan gaya seperti ini. Biasanya pada saat ta’aruf saya selalu menyebutkan nama kepada perantara, atau dengan kata lain sudah memilki preferensi wanita mana yang ingin saya proses secara serius.

Memang jodoh itu datang dari arah yang tak terduga. Secarik CV itu memuat biodata dan visi seorang akhwat shalehah yang membuatku kagum, dan sekaligus ‘minder’ karena aku belum tentu lebih baik dari dia. Tapi CV itu aku berikan kepada orangtuaku terutama mama. Sudah menjadi kebiasaanku untuk selalu meminta pendapat Mama jika sudah soal perkara jodoh. Komentar Mama Cuma ada dua waktu itu. Pertama, “ Wahhh adeknya banyak yahh”, dan yang kedua “Tipikal orang yang mau diajak sengsara kayaknya ini mah”.

Akhirnya kuputuskan untuk memantaskan diri kembali dengan kembali mencari kelompok ngaji agar aku bisa kembali dekat pada kebaikkan. Namun godaan duniawi tak berhenti menghantui dengan berbagai distraksi. Alhamdulillah.. dengan berada di lingkungan yang baik, diriku menjadi terjaga dari hal yang tidak- tidak. Yang pada intinya, kita tidak akan pernah puas dengan pencapaian diri, dan justru dengan menikah energi diri bisa terkelelola.

Kamipun memutuskan untuk bertemu pertama kalinya di Masjid Habiburrahman ditemani dengan guru ngaji Shuffah. Saat itu aku datang telat karena mampir sebentar ke pernikahan teman sewaktu kuliah. LorongHabiburrahman saat itu tampak lengang dan dingin ketika aku datang. Terlihat beberapa ubi sedang dibongkar utnuk renovasi. Pokoknya Habiburrahman saat itu seperti reruntuhan perang. Sore itu memang agak mencekam. Aku tegang. Entah apa yang membuatku tegang.

Saat kulihat HP Samsungku, aku tak sadar jika telah ada miscall sebanyak 2 kali. Persis murabbi Shuffah tampaknya sudah mencoba menghubungiku bebeberapa kali. Perasaaanku tampak tak enak sebenarnya. Akhirnya langsung saja kutelpon Beliau, lalu kami berjanji di salahsatu pojok koridor timur masjid untuk bertemu.
Aku ingat sekali saat itu Shuffah memakai kerudung ungu dan baju panjang berwarna putih. Setiap kali aku berbicara, dia selalu mencatat, seolah- olah sedang mendegar kuliah dariku. Maklum tiap dia bertanya dengan singkat, aku menjawab dengan panjang lebar. Sampai- sampai aku lebih berkonsentrasi pada gesture dia mencatat, dana kerut dahi yang serius saat mencatat tiap poin jawabanku.

Tiap kesan pasti memberikan pesan. Terlepas dari semua jawaban yang dia berikan, ada satu kesan yang membekas di hatiku bahwa Shuffah itu berbeda tapi sama. Ia seperti refleksi cermin kaca diriku yang ada pada sisi dunia maya. Nyata dan ada. Kananku adalah kiri dia. Kiriku adalah kanan dia. Hati kecilku berkata bahwa sosok wanita yang selama ini aku cari sebenarnya ada pada dia. Lengkapnya diriku mungkin ada pada dia. Ya.. sosok wanita yang tak pernah aku sebut namanya dalam doa, tetapi sifat yang ia miliki selalu terucap dalam doaku tentang jodoh.

Sekalipun semuanya tampak sempurna, hati kecilku masih memiliki ganjalan yang besar. Tidak ingin tidak tenang, akhirnya aku mengaku suatu perasaan yang aku alami saat itu. Pahit dan kejam memang, tapi itulah ta’aruf, kita berkenalan untuk tahu ‘pahit- pahitnya’ karena cinta sudah pasti banyak manisnya.

Saat itu aku mengaku jujur bahwa ‘aku sedang memilki kecenderungan suka terhadap wanita lain’. Akupun menanyakan apa tanggapan Shuffah. Lalu, dia menjawab dengan bijak, bahwa saat ini dia tidak sedang mencintai siapa- siapa, dan dia bisa menerima keadaan perasaan hatiku yang agak labil ini tanpa ada nada kesal sedikit pun. Suatu jawaban yang membuatku merasa dapat berdamai dengan keraguanku.

Sebaik-baiknya sosok Shuffah lantas tidak membuatku mantap untuk langsung memutuskan untuk menikah. Bukan Shuffah yang tak baik. Namun aku merasa tidak sempurna untuknya saat itu.

Murabbi Shuffah selalu bertanya melalui SMS yang menanyakan keseriusan saya kepada Shuffah. SMS beliau tak langsung kujawab. Dan saat kujawab, jawabanku cukup mengecewakan, yakni dengan isi bahwa aku akan memutuskan lanjut atau tidak dengan Shuffah setelah sebulan lagi. Waktu yang cukup lama untuk perkara ta’aruf. Namun saya tidak siap menjawabnya dengan cepat dan meminta waktu untuk berpikir sambil mendaki Gunung Rinjani.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s