Islam dan Diaspora

Berlin, 2014

Turkish Women gathering in Kreuzberg Berlin

Nusantara bukanlah suatu negeri yang pada mulanya menganut Islam. Beradasarkan tiga teori kedatangan Islam ke nusantara, Islam hadir di Nusantara pada sekitar abad 12M dan 13 M.

Saya bersyukur bisa menganut Islam saat ini. Rasanya saya ingin berterimakasih pada generasi line breakers Islam di Indonesia yang datang sebagai pedagang dari Gujarat, Persia dan Arab. Mereka ikhlas meninggalkan tanah kelahiran, untuk kemudia menikah, menetap dan menyebarkan syiar Islam ke pelosok Nusantara kala itu.

Sebuah literatur kuno arab yang berjudul Aja’ib al-Hind, yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar ar- Ramhurmuzi pada tahun 1000 M, memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan Muslim yang dibangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan ke-khalifahan Islam di timur tengah terus berlanjut, hingga di masa Khalifah Umar bin Abdul Azis. Ibnu Abd ar-Rabbih dalam karyanya al-‘Iqd al-Farid, yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya ‘Jaringan Ulama Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII’, menyebutkan mengenai adanya korespondensi yang berlangsung antara Raja Sriwijaya saat itu, yakni Sri Indravarman, dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal adil itu (eramuslim.com)

Semangat berdiaspora lekat sekali dengan nilai hijrah yang dianut dalam Islam. Layaknya zaman rasul yang juga telah mencontohkan persatuan antara kaum anshar dan muhajirin di Madinah dalam bahu membahu membangun agama dan negeri. Tanpa adanya keinginan kuat dari para sahabat untuk keluar dari kota Madinah atau Mekkah, maka Islam hanya akan menjadi agama kaum Arab saja.

Ketika memulai kuliah di TU Berlin, saya merasakan bagaimana para imigran Turki yang berhasil mewarnai pola kehidupan masyarakat Jerman dari sisi ekonomi dan budaya. Pada mulanya imigran Turki ini didatangkan pemerintah jerman untuk membangun Jerman pasca World War II. Kebanyakan diantara mereka memang merupakan skill based worker, dan pengusaha. Namun karena banyak orang asli Jerman yang tidak suka memilki anak, dan orang Turki yang gemar memilki anak, lambat laun populasi mereka terlihat seimbang dengan orang asli Jerman.

Tersebarnya Islam di Berlin dan Jerman memang berada didalam naungan Islamophobia. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa hadirnya Islam di Berlin telah memberikan kesempatan hadirnya suatu pertanyaan, ´Apa itu Islam?´ bagi orang Jerman yang pada umumya atheis. Tidak bisa ditutupi bahwa suatu saat mereka akan semakin tertarik mempelajari Islam. Hal serupa juga saya rasa sudah banyak terjadi di Prancis dan Inggirs dalam konteks masing masing.

Dosen Urban Planning saya, Achim Schoerer, pernah nyeletuk bahwa Masjid perlu diberikan status izin yang lebih layak di kota kota di Jerman. Masjid saat ini dianggap beliau kurang aksesibel bagi masyarakat kota, karena letaknya yang bercampur dengan apartemen sewaan. Saya menganggap hal itu merupakan suatu pemikiran toleran yang cukup maju, dan menguntungkan bagi umat Islam, sekalipun muncul bukan dari seorang muslim.

Saya juga cukup terkaget, ketika mendengarkan paparan city profile dari kawan saya dari Amerika Latin. Kota kota disana seperti Caracas dan Bogota memilki tingkat pembunuhan yang sangat tinggi, sehingga membuat kota tersebut menjadi salahsatu kota berbahaya di dunia. Ketika saya tanya, apa penyebabnya? Mereka menjawab memang karakter tempramen, dan sebagian disebabkan oleh pengaruh minuman keras. Jika punya masalah mereka akan melampiaskan pada minuman keras dan berefek fatal. ´´Namun persoalannya sebenarnya lebih kompleks dari sekedar minuman keras´´, begitu dia menjawabnya.

Jika di negara barat tanpa agama seperti Jerman memilki tingkat kriminalitas rendah karena ditolong oleh intelektualitas dan kemakmuran. Namun ceritanya mungkin akan berbeda jika mereka kehilangan ekonomi, maka angka kriminalitas akan menjadi tinggi seperti yang ada di Yunani. Indonesia relatif cukup aman (jangan hanya lihat Jakarta) padahal tidak terlalu makmur, dan tidak terlalu pintar, tapi masih memilki agama yang menjadi the last value saat kita tidak memiliki apa- apa.

Dunia ini perlu kita selamatkan. Islam perlu menjadi rahmatan lil alamin di pelosok dunia dan alam raya. Konteks budaya demokrasi dan toleransi bangsa Indonesia merupakan modal bagi para daí muda untuk berdiaspora menyebarkan Islam lewat dakwah ekonomi dan teknologi.

Kita tidak perlu ragu untuk menjadi unggul di negeri orang dan mengenalkan Islam dalam kegiatan informal. Kita tidak perlu ragu menanamkan investasi di Inggris, Spanyol, Peru, Venezuela atau lainnya untuk membuka usaha disana lalu kemudian mengenalkan nilai bisnis Islam disana. Kita pun tidak perlu ragu untuk menikahi wanita non-muslim berkebangsaan asing untuk kemudian dikenalkan Islam melalui cinta dan pernikahan (saya mendorong teman saya yang masih jomblo untuk melakukan hal ini).

Islam itu lebih dari sekedar negara. Islam tidak bisa disebarkan melalui penjajahan atau kolonialisme. Ekspansi wilayah Islam pada zaman sahabat tidak pernah diiringi pemaksaan untuk mengubah agama penduduk asli yang kalah perang.

Ketika saya bertanya kepada teman latin saya, apakah kalian mengenal Islam? Mereka menjawab bahwa mereka tahu dari CNN dan berkaitan dengan teroris. Kita punya banyak tugas untuk meluruskan Islam melalui hikmah dan kebaikan. Alangkah kasihanya saudara kita di belahan dunia yang tidak mengenal Islam dengan baik, karena setiap umat muslim hanya nyaman bergaul dengan sesama muslim atau sesama Indonesia. Perkara mereka masuk Islam atau tidak itu sudah perkara hidayah, dan kita hanya bisa membantu sedikit saja.

Mari berdiaspora. Mari menjelajah. Mari menebar hikmah.

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s