Kenapa Kita Jadi Sengsara Banget Karena BBM Naik?

Berlin, 2014

DISHUB Solo memberikan angkutan darurat karena bus kota mogok operasi akibat protes kenaikan bbm

Gambar : via Efrindu Titis Bawono

Baru- baru ini dunia maya heboh dengan hashtag ShameOnYouJokowi yang dilatarbelakangi kenaikan harga BBM di Indonesia. Tepatnya saat ini harga Premium menjadi Rp 8500/liter dan harga solar menjadi Rp 7500/liter. Banyak masyarakat yang merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menaikkan BBM. Banyak pula yang menolak dengan keras.

Diantara sederet janji pembangunan yang diusung pemerintah, sebenarnya banyak hal yang dampaknya langsung terasa pada masyarakat. Pertama adalah naiknya harga cabe, daging, bawang, dan komoditi pokok lainnya.

Penjelasannya sederhana. Ongkos BBM memilki peran penting dalam mempengaruhi biaya logistik (biasanya dalam satuan ton per km atau ton per mile). Sebelum harga BBM, biaya logistik mengirimkan barang dari Jakartai ke Singapura, lebih mahal daripada mengirimkan barang dari China ke Sillicon Valley (Ravenhill, 2014). Ini terjadi karena tidak efektifnya sistem jaringan logistik dalam negeri.

Operator angkutan barang moda darat berencana menaikkan tarif sekitar 25% sampai 30%. Penaikkan tarif ini akan diberlakukan setelah pemerintah resmi mengumumkan naiknya harga bahan bakar minyak.Kyatmaja Lookman, Presiden Direktur Lookman Djaja Land-perusahaan ekspedisi angkutan barang sekaligus salah-satu pencetus Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) atau Indonesia Trucking Association-mengatakan naiknya harga bahan bakar minyak akan berdampak langsung terhadap perusahaan angkutan moda darat. (Industribisnis.com, 18 November 2014)

Sistem logistik yang mapan di Berlin, membuat saya merasa wajar jika hampir sebagian komoditi pokok di Jerman sebenarnya lebih murah ketimbang di Indonesia. Mari kita coba badingkan harga daging sapi non- produksi Jerman, dengan harga daging sapi lokal di Indonesia. Harga daging sapi Turki halal yang saya beli hanya 6,xx EUR per kg atau sekitar 75ribu hingga 85ribu rupiah. Di Indonesia harga sekilo daging sapi bisa mencapai Rp 100ribu per kg dengan kualitas yang lebih buruk ketimbang daging sapi di Jerman (Liputan 6.com, 21 November 2014).

Kemudian kita coba bandingkan harga cabe di Berlin dan Indonesia. Harga cabe di Berlin setengah kilo  2,xx EUR atau sekitar Rp 32rb hingga Rp 40ribu. Di Indonesia, harga cabe mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 60ribu. Artinya harga cabe di Indonesia dan di Berlin hamper sama. Padahal di Berlin cabe termasuk barang langka, sehingga wajar harganya agak mahal, sedangkan di Indonesia cabe meruapakan bahan umum yang harusnya lebih murah. Kalau sudah begini, wajar banyak warga miskin dan kelas menengah yang merasa tertekan.

proportion fuel to cost

Jokowi memang berencana melakukan pengembangan tol laut. Namun jangan lupa, tingginya tarif logistic kita diakibatkan truk yang macet di pelabuhan, dan panjangnya rute ekspedisi dari perdesaan sumber hasil bumi ke pelabuhan.

Kita juga pasti sering melihat truk kosong lalu-lalang di jalan. Nah pertanyaannya, siapa yang mebiayai bensin truk kosong itu? Truk kosong itu pergi untuk mengambil suatu barang di suatu tempat, dan biasanya biaya dalam keadaan kosong. Biasanya total bensin yang dipakai selama truk masih kosong akan dibebankan ke konsumen.

Selain berpengaruh pada angkutan barang, kenaikan BBM (solar) juga berpengaruh pada perubahan tarif angkutan umum berbasis bus. Rekan kerja saya di GIZ menyampaikan bahwa ORGANDA (Organisasi Angkutan Darat) Solo meminta kenaikan tarif dari Rp 3500 menjadi Rp 5000 bus kota berbahan bakar solar. Artinya, seorang pekerja setidaknya sebesar perlu merogoh kocek Rp 70.000 jika dia berpergian setiap hari dengan angkutan umum. Belum lagi biaya tambahan becak karena letak halte yang jauh, bisa jadi pengeluaran transportasi dia bisa mencapai Rp 100rb- 120ribu per minggu.

Apabila dia menggunakan motor untuk bekerja, dengan Rp 120ribu sekitar 14 liter bensin akan terbeli, sehingga bisa dia gunakan untuk sebulan. Artinya menaikan tarif premium untuk menekan penggunaakn kendaraan pribadi, tidak akan efektif selama tarif angkutan umum naik juga.

Indonesia memang perlu mencoba mengurangi subsidi BBM, namun harusnya disikapi dengan kebijakan yang lebih selektif. Dalam hal ini menaikan harga solar bersubsidi menjadi tidak tepat karena merugikan banyak pihak, tidak cuma bisnis, tetapi juga rakyat. Kita tidak bisa mempungkiri bahwa sebagian besar alat angkut dan angkutan umum kita berbasis di jalan, sehingga sangat sensitif sekali terhadap tarif solar.

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s