Menelaah Pria Jomblo Indonesia dan Level Kebahagiaan Suami yang Menikahi Wanita Shalehah

Berlin, 2014

Nobody Perfect

Sesuai kata Kang Emil (Walikota Bandung), Jomblo itu adalah salahsatu isu sosial. Izinkan saya membahas isu ini sekali lagi.

Tidak semua pria merasa nyaman ketika ditanya mengenai rencana menikah. Tidak semua pria pula nyaman ketika ditanya mengenai persoalan rumah tangga. Namun tidak bisa dipungkiri, seringkali kesuksesan karir seorang pria berawal dari lingkungan keluarga yang mendukung.

Semua orang bisa berdebat mengenai usia emas seorang pria untuk menikah. Ada beberapa kalangan yang menilai 25 tahun adalah usia emas untuk menikah. Adapula yang berpendapat usia 28 hingga 30 tahun adalah usia kemapanan seorang pria untuk menikah. Namun rasanya jarang sekali ada yang berdebat mengenai rata- rata usia emas karir seorang pria.

Kebanyakan orang, akan mengalami usia emas pada usia 40 tahunan (bisa pria atau wanita). Pada usia tersebut sudah mulai lumrah jika seseorang mendapatkan posisi direktur perusahaan, kepala cabang, walikota, punya banyak bisnis sukses dan lain- lain.

Saya selalu percaya bahwa wanita (juga keluarga) punya peran besar dalam mendukung karir seseorang pria. Ibu Ani Yudhoyono adalah contoh kongkrit bagaimana seorang Ibu Negara berperan kuat dalam menjaga kekuatan kepemimpinan Pak SBY dari berbagai tekanan publik. Di sisi lain, Kalo boleh melakukan analisis bodoh, menurunnya ketegaran Pak Harto sebagai presiden, dimulai sejak Ibu Tien meninggal.

Memang suatu kewajaran jika seorang pria akan cenderung picky dalam memilih wanita terbaik sebagai istrinya. Biasanya bukan hanya rasa cinta yang dikedepankan, tetapi juga logika masa depan yang mempengaruhi keyakinan seorang pria untuk menentukan ‘menikah’ atau ‘nanti dulu’.

Jumlah upaya dengan usia.pdf

Saya mencoba melakukan survey kepada teman- teman saya yang masih lajang. Hasilnya saya mendapatkan sampel sekitar 44 orang dalam satu malam survey melalui facebook. Kebanyakan mereka telah mencoba untuk ‘berproses’ (ta’aruf atau pacaran serius) dengan seseorang sebanyak sekali hingga 2 kali pada usia 25. Pada usia menjelang 30 tahunan, biasanya seorang pria sudah mencoba berproses sebanyak 4 kali. Namun, dari hasil survey, ada pula seorang sampel yang belum pernah serius mencari istri pada usia 30 tahun.

Alasan pria menunda pernikahan cukup beragam. Tiga alasan terbesar seorang pria menunda untuk menikah:

  1. Masih memilki target dan kejaran karir yang ingin dicapai sebelum menikah
  2. Masih belum menemukan cinta sejati
  3. Ingin mapan dulu

Alasan menunda nikah

Bagi wanita yang sama- sama lajang, dan memilki ‘bumbu cinta’ terhadap pria yang masih ingin mengejar karir atau mapan dulu, maka, “Bersabarlah”. Bersabarlah karena populasi pria semacam itu biasanya banyak, dan mereka akan cenderung mengejar cita- cita mereka dulu. Bersabarlah untuk menunggu, jika memang sama- sama masih memilki waktu.

Dalam pertanyaan lain, kuisioner menanyakan mengenai kapan mereka ingin segera menikah? Rata- rata pria yang belum menikah karena belum menemukan cinta sejati menjawab ingin segera menikah (kalo bisa kurang dari setahun). Jomblo jenis ini biasanya lebih potensial untuk diajak menikah, karena bisa jadi kegalauannya sudah ‘to the max’, walaupun mereka sembunyikan. Teman kuliah saya dulu punya peribahasa untuk pria lajang seperti ini, ‘Barangsiapa ada hati wanita yang lewat, maka akan langsung disambat, kalo tepat Alhamdulillah, kalo bukan jodoh jadi amal ibadah (baca silahturahim)’.

Wanita yang baik dijadikan istri

Dalam suatu hadits Abu Hurairah- dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: Seorang perempuan dinikahi karena 4 perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung“.

Memilih wanita shalehah sebagai istri memang adalah anjuran sebaik- baiknya anjuran. Wanita yang bisa membahagiakan, akan memperlancar berbagai macam urusan suami. Begitu pula sebaliknya.

Memang diakui, masyarakat kita memilki banyak standar dalam menilai wanita shalehah. Ada yang menilai harus kerudungan,ada yang menilai tidak pernah keluar malam, dan masih banyak lagi. Sebagai manusia kita tidak pernah tahu kadar keshalehan seseorang, karena hanya Allah swt yang bisa tahu isi hati seorang manusia.

Level kebahagiaan dengan istri

Terlepas dari semua itu, didapatkan dari survey yang saya sebar kepada 22 teman saya yag sudah menikah, didapatkan korelasi antara keshalehah istri dan tingkat kebahagiaan suami. Kadar keshalehan istri, dinilai dari persepsi suaminya sendiri, adapun kadar kebahagiaan suami dinilai dari beberapa aspek standar. Aspek yang dinilai adalah, level toleransi istri terhadap target suami, level kesabaran istri terhadap kekurangan suami, level kepercayaan suami terhadap kesetiaan istri (tidak selingkuh), dan level perhatian istri terhadap kondisi suami.

Dari hasil survey itu, didapatkan pola hubungan yang agak sulit dinilai. Hubungannya memang menunjukkan bahwa semakin shaleh, maka suami akan semakin lebih bahagia. Namun hubungan keduanya tidaklah signifikan, sehingga bisa jadi banyak kasus suami yang bahagia ketika istrinya sebenarnya tidak terlalu shaleh.

Hal unik lainnya adalah hubungan kebahagiaan suami dengan cara dia berporses mendapatkan istri. Tiga cara umum berupa pacaran, pertemanan berujung nikah, dan ta’aruf melalui proposal acak nan misterius memilki rentang level kebahagiaan yang cukup variatif. Ada yang bahagia diatas rata- rata. Ada pula yang bahagia dibawah rata- rata.

Namun, pola proses ´ta’aruf sebut nama’ atau dengan kata lain seorang pria meminta agar dijodohkan dengan wanita yang dia cintai (sudah berteman lama, sudah stalking lama, atau sudah memendam perasaan lama) kepada seorang ustadz ternyata memilki indeks kebahagiaan diatas rata- rata. Ta’aruf jenis ini memang adalah cara terbaik ketika kita ingin mencoba saling mengenal seseorang dengan kongkrit dan tepat, tanpa terlalu saling melukai perasaan terlalu dalam.

Bisa jadi karena segala keburukan, dan kebaikan sudah diungkapkan dalam ta’aruf sebelum menikah, pasangan suami istri tersebut jauh bias mengelola masalah antara keduanya. Ditambah, biasanya sudah ada perasaan suka diantara keduanya, sehingga segalanya menjadi mudah.

Selain itu, karena kegiatan saling mengenal ini selalu difasilitasi dan didampingi dengan ustadz atau senior yang sudah menikah, biasanya pasangan yang saling mencintai ini akan bisa lebih rasional dalam menilai keococokan dan kesiapan masing- masing. Sudah menjadi kenyataan, bahwa cinta yang sedang berbunga- bunga seringkali mengubah pahitnya kopi menjadi maninya gula.

Cara lain bukan berarti kurang baik. Namun memang ada suatu pembelajaran berproses yang bisa kita ambil. Saling mengungkapkan pahit- pahitnya diawal, memang adalah kunci sebelum menikah. Karena cinta itu sudah pasti rasanya manis. Tapi seberapa siap kita mencicipi rasa pahit. Seberapa siap kita bisa ketidaksempurnaan dengan sempurna (Haq,2013).

Kebahagiaan dengan proses

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

2 pemikiran pada “Menelaah Pria Jomblo Indonesia dan Level Kebahagiaan Suami yang Menikahi Wanita Shalehah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s