Air, Botol, dan Kontemplasi Fajar Rinjani (Kupinang Engkau dengan Ar- Rahman part 2)

Berlin, 2015

Berpisah lagi. Semoga perpisahan kali ini  tak lama. Walau terpisah, tapi aku semakin mencintaimu. Inginku merenung dan kembali bernostalgia akan cerita kita. Maka lahirlah tulisan ini.

20140529_075342

Ditengah malam yang gelap gulita, kami berjalan perlahan- lahan. Jalan ini terjal dan berbatu. Suhu udara sangat dingin dan angin bertiup kencang membuatku agak masuk angin. Sepintas fajar mengintip. Kami berjalan berhati- hati menuju puncak Rinjani. Saat kaki ini melangkah 3 kali, pasir yang tidak stabil membuatku turun satu langkah. Aku pun menunaikan shalat subuh di lereng yang curam sekaligus istirahat sejenak. Entah, walau tidak kondusif untuk sholat, tapi sujudku terbilang khusyuk saat itu.

Perjalanan perenungan menuju puncak Rinjani adalah suatu kontemplasi yang khidmat. Kami berjalan sendiri- sendiri terpisah dari rombongan. Agak berbahaya memang. Apalagi saat itu kami hanya membawa satu botol minuman untuk meringankan beban. Jika air dalam botol minuman habis, maka pilihannya ada dua. Menunggu dan meminta dari pendaki yang bergerak dari bawah dan masih memilki air. Atau yang kedua, mendaki sekuat mungkin mencari air di pendaki yang ada diatas.

Dulu temanku berkata, bahwa hidup itu pada hakikatnya sendiri. “Bukankah ujung- ujungnya kita akan bersemayam sendiri di liang lahat? Jadi buat apa terlalu galau kalau lagi sendirian”, kata dia. Awalnya aku agak setuju. Dengan sendiri dulu, banyak hal yang bisa lakukan sembari menjelajah dunia. Tak punya tanggungan. Bebas dan lepas.

Tapi semua kontemplasi rinjani adalah dimensi yang Allah berikan untuk menjawab kegundahanku untuk menikah atau tidak. Hidup ini seperti mendaki puncak gunung. Kita memang punya kekuatan dan akan lebih ringan bergerak sendiri. Tapi alam ini keras. Kita punya banyak keterbatasan juga. Jika air kita habis, maka kita perlu minta dari orang lain. Jika kita merasa pusing, kita harus berhenti dan harus ada yang menjaga, karena bisa- bisa hipotermia. Belum lagi saat turun, kita juga akan membutuhkan air. Pendakian ini bukan sekedar mencapai puncak, tapi turun juga dengan selamat, bukan?

Aku sadar saat itu bahwa aku punya banyak cita- cita. Banyak yang menyarankan bahwa lebih baik sendiri dulu untuk menggapai cita- cita. Tapi hidup ini lebih kompleks dari mendaki gunung, walau analoginya sama.

Orang yang kuat, besar kemungkinannya bisa mencapai puncak sendiri dengan lebih cepat. Mungkin tidak seperti orang yang menuju puncak berdua, dan harus saling menunggu saat pasangannya lelah. Tapi aku tersadar, ini persoalan kenikmatan saja, atau dalam hidup barokah. Cepat atau lambat, orang yang berjalan sendiri atau berpasangan akan sampai puncak juga. Mereka sama- sama akan menikmati puncak yang sama. Tapi yang berbeda adalah rasa dan kenikmatan kebersamaan hingga mencapai puncak itu yang berbeda.

Di dalam rombongan kami, saat itu juga ada seorang kawan perempuan namanya Mbak Muki. Dia tidak pernah naik gunung sama sekali. Bahkan saat pergi ke Lombok, dia membawa alat snorkling, bukan hiking. Lantas, dia akhirnya kami ajak untuk belanja alat gunung sehari sebelum hari-H pendakian.

Walau terpisah denganku hingga 1,5 jam, alhamdulillah Mbak Muki bisa mencapai puncak Rinjani. Saat itu dia dimotivasi, dan dijaga oleh seorang kawan. Saat itu Mbak Muki termasuk hebat, karena berhasil menembus keterbatasannya. Tapi juga, kawan yang menemani dialah yang juga hebat dalam membuatnya bertahan. Aku pun berpikir, bagaimana jadinya jika aku dalam posisi Mbak Muki dalam konteks kehidupan lainnya? Bagimana jika aku lemah dan tak berdaya? Mungkin jika aku berjalan sendiri, maka aku akan berhenti dan diam tanpa arah.

Disaksikan matahari yang berdiri diatas kepalaku, dan bentang danau segara anakan, disitulah aku berikrar keras dalam hati. Aku sadar bahwa Shuffah adalah wanita cerdas, yang baik. Dia baik dan berhati lembut. Aku tahu dia punya cara yang unik untuk menaklukan hatiku yang keras ini. Aku sadar dia datang dari keluarga yang baik, dan merupakan inspirasi bagi adik- adiknya. Aku butuh dia. Tidak ada alasan untuk menolak sosok wanita shalehah seperti ini. Kuharap dia juga membutuhkan aku. Aku tahu dia adalah wanita yang paling bisa aku cintai. Walau saat itu aku belum tahu, tapi aku percaya kami akan bias saling mendukung dalam menggapai ridha Allah dan mimpi masing- masing.  Dengan bismillah, aku segera akan menjawab kesiapanku meneruskan proses ta’aruf ini sesaat setelah aku mendapatkan sinyal. Akan aku aktifkan HP dan segera meng-SMS Murrabiahnya.

(FYI: Pada akhirnya yang aku cari pertama sesaat setelah sampai kaki gunung dan mendapat sinyal adalah sebuah pisang goreng panas, dan teh manis. Wakakak.. hauss.. hausss..)

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

3 pemikiran pada “Air, Botol, dan Kontemplasi Fajar Rinjani (Kupinang Engkau dengan Ar- Rahman part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s