Misi Lamaran Rahasia (Kupinang Engkau dengan Ar Rahman part3)

Paris, April 2015

20140629_144708

Manusia hanya bisa berencana, tapi kadang Allah swt yang paling paham tentang kita. Saat ini aku sendiri dibawah terik matahari Canal St. Martin menulis nostalgia ini.

Waktu itu, aku hanya kurang 6 bulan dari jadwal keberangkatan ke TU Berlin. Walau dulu aku sempat menggebu- gebu untuk menikah, tapi tampaknya saat itu adalah hal yang tidak mungkin. Namun Shuffah datang disaat hati ini sedang dalam keadaan pasrah. Saat itu yang kupikirkan adalah bagaimana aku membiayai pernikahan? Bukankah saat itu aku baru saja membantu membiayai resepsi pernikahan adikku Hani diawal tahun. Tabungan ini nyaris tak ada koceknya. Bagaimana orangtua aku akan mengizinkan proses ini? Bukankah mereka baru saja selesai menikahkan adikku. Bahkan saat itu orangtuaku sudah menasehati aku agar fokus dulu untuk kuliah, baru nikah setelah lulus. Namun tak pernah menyangka, Shuffah menyanggupi untuk menerima proposal menikahku dikala kesempitan yang mendera.

Seminggu setelah menerima jawaban Shuffah, aku meniatkan diri untuk datang ke Bandung. Saat itu saya pertamakali bertemu dengan keluarga Shuffah di Rumah Sakit Dustira, karena kebetulan salahsatu angota keluarganya tengah diopname. Secara bergantian kini giliran aku yang mengajak Shuffah untuk berkenalah dengan orangtuaku. Alhamdulillah saat itu semuanya berjalan lancar. Lantas, kamipun berencana untuk mempertemukan kedua orangtua untuk pertama kalinya suatu saat nanti.

Tepat sekembalinya aku ke Jogja untuk kembali bekerja, tanggal pertemuan kedua orangtuapun ditetapkan. 1 Ramadhan, kami pilih menjadi hari yang tepat untuk saling mempertemukan kedua orangtua. Saat di Jogja pula aku merasa mantap untuk memutuskan akan mengkhitbah (melamar) Shuffah segera. Lantas akupun memberitahukan Shuffah bahwa kedatanganku bersama keluarga nanti, akan menjadi semcam lamaran sederhana.

Namun perbincangan yang bergulir saat aku pulang ke Bandung agak berbeda. Kali ini statement orangtuaku dengan tegas menyatakan bahwa pertemuan kali ini hanya akan menjadi perkenalan awal saja. Ibuku agak lunak, tapi Ayahku pernyataanya lebih tegas. „Waduh.. ntar gimana yah“, gumamku dalam hati. Saya sadar bahwa menikah juga adalah upaya mempersatukan keluarga. Sejak saat itu, saya selalu berdoa agar diberikan kecocokan dalam keluarga kami, dengan cara Allah yang baik.

Tepat 1 Ramadhan kami hadir dalam acara perjamuan, Ayahku masih belum mengetahui konsep acara ini. Adikku datang menggunakan kaos bola. Untuk berjaga- jaga agar tidak mencurigakan, aku hanya membawa 1 keranjang berisi buah- buahan. Ketika kami memasuki ruangan, suasana berubah agak formal. Kursi tempat duduk kami telah diatur oleh pihak keluarga Shuffah. Hampir mirip protokoler kemiliteran. Namun langsung, Ayahanda Shuffah mencairkan suasana dengan perbincangan santai.

Puncaknya, aku pun menguntaikan kata- kata bahwa aku hendak melamar Shuffah. „Kedatangan saya kesini, adalah sesuatu kedatangan yang akan jelas akhirnya kemana“. Begitulah cara saya memulai kalimat lamaran. Spontan Ayah saya terkaget- kaget. Kaki Beliau menyenggol- nyenggol kaki saya sambal senyum- senyum. Lalu adik saya dan Mama ikut senyum- senyum juga.

Begitulah cara saya melamar Shuffah. Alhamdulillah saat itu kegiatan khitbah (lamaran) berlangsung lancar tanpa ada acara lempar kursi seperti rapat DPR. Walau sepulang ke rumah orangtuaku memberitahu tidak bisa membantu banyak, aku menjawabnya dengan kesiapan. Aku mengambil hikmah bahwa seorang lelaki adalah pada akhirnya perlu mengambil sikap keberenian untuk menikah atau tidak. Orang tua pada hakikatnya akan mengantarkan hingga gerbang ijab Kabul. Seorang pria perlu berani mengambil resikonya sendiri, karena toh pada akhirnya dia yang akan mempimpin bahtera rumah tangga. Jika ada seorang laki- laki yang menunda menikah karena aalasan orangtua, maka ada beberapa kemungkinannya itu hanya cara dia menolak halus perempuan itu, atau ingin memutuskan hubungan.

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s