Izinkan Aku Mencintainya Selamanya (Kupinang Engkau dengan Ar Rahman part4)

Munich, April 2015

pernikahan fari dan shuffah

Segala yang terjadi adalah bagian dari skenario Allah SWT. Segala cinta yang telah memenuhi ridhaNya maka akan mendapatkan segala kelapangan. Meskipun hal itu datang dari celah yang lebih sempit dari lubang di sarang semut.

Aku melamar Shuffah di malam pertama Ramadhan. Semangat meningkatkan diri telah ‘mengawinkan’ diri ini dengan aura keberkahan Ramadhan saat itu.

Sebuah hadiah nikah hafalan surat Ar Rahman dengan penuh semangat aku terima atas permintaan orangtuanya. Entah angin apa yang membuatku dengan mudah menerimanya. Padahal belum pernah diri ini menghapalkan Al Quran yang lebih panjang dari 30 ayat. Apalagi keunikan surat Ar Rahman yang selalu mengulang- ulang ayat ‘Maka nikmat Tuhan manakah  yang kamu dustakan’ tak jarang membuat para pemghafal terbolak- balik mengingat.

Saat itu, pekerjaan kantor sangat menyitaku, mereka tahu bagaimana ‘memanfaatkan’ aku sebelum resign. Belum tugas yang diberikan oleh beasiswa LPDP yang seabrek banyaknya. Ditambah dengan tetek- bengek persiapan menikah. Tapi, alhamdulillah di sela segala kesempitan yang ada, aku bersyukur atas kelapangan waktu yang bisa aku dapatkan untuk menghafal surat itu. Praktis, satu bulan Ramadhan ternyata cukup untuk menghafal surat dengan 78 ayat ini. Alhamdulillah.

Maka nikmat Tuhan manakah zang aku bisa dustakan. Aku memaknai benar mengapa surat Ar Rahman adalah surat yang baik dijadikan sebagai hadiah nikah. Di balik kompleksitas tafsir surat ini, terdapat pesan syukur bin nikmat yang dipanjatkan kepada Sang Illahi. Aku merasa surat ini adalah, “kami banget”. Surat ini adalah hadiah nikah yang layak untuk membayar nikmat pertemuan dengan Shuffah. Proses menghafal surat ini aku maknai sebagai minuman untuk mengobati rasa haus setelah perjalanan panjang mencari arti cinta.

Maka nikmat Tuhan manakah yang aku bisa dustakan. Setelah melalui ketegangan karena acara pernikahan kami bentrok dengan jadwal PK (Pelatihan Kepemimpinan) LPDP sehingga kami harus merubah tanggal pernikahan, mengubah set undangan katering dan pakaian. Selain itu, ditambah dengan karunia kekuatan fisik dan jiwa yang Allah berikan untuk menikah tepat sehari setelah PK LPDP selesai. Aku menyadari hal itu sebenarnya hampir tidak mungkin aku lalui, karena selama PK LPDP aku selalu tidur larut, mendapatkan kegoatan berat seperti outbound, dan membangun taman bermain. Alhamdulillah, Allahlah sesungguhnya Dzat yang bisa menyembunyikan rasa lelah kita, dan memunculkan kekuatan dalam diri. Tanpa kuasaNYA, siapapun akan remuk kelelahan.

Maka nikmat Tuhan manakah yang bisa aku dustakan. Dalam persiapan menikah ini, Shuffah tidak hanya akan menjadi pendengar lantunan Ar Rahman. Dia juga turut menghafal. Disela- sela persiapan pengumpulan bahan sidang thesis S-2nya, Allah masih memberikan dia kelapangan. Allah memberi kami karunia yang hebat, yakni sahabat- sahabat yang rela membantu kami mempersiapkan acara seperti Fahmi, Dafi, Erwan, Tizar, Seny, Riry, Tanri, Ibam, Leily, Yorga, Sika, Ami, Zaenab, Andria, Karisa, dan Aldy. Tanpa bantuan mereka, maka kami akan kesulitan mengurus segalanya.

Maka nikmat Tuhan manakah yang aku bias dustakan. Ditengah keterbatasan kedua orangtua kami yang sudah tua. Allah memberi karunia kesehatan kan kekuatan pada mereka. Memberi mereka kesempatan untuk hadir dalam upacara ikatan suci untuk memberi restunya adalah kenikmatan yang mahal.

Maka nikmat Tuhan manakah yang aku bisa dustakan.  Penyatuanku dengannya dalam ikatan pernikahan adalah sebuah nikmat besar dari Allah.  Penantian bertemu dengan seseorang yang namanya telah ada di Lauh Mahfuz sebelum aku lahir berujung saat ijab qabul antara ayah Shuffah dengannya.  Perjuangan hidup bersama dimulai setelah momen ijab qabul tersebut.  Ya Allah, aku mencintainya karena Engkau.  Izinkan aku dan dia bersama berjuang sampai kami meninggal dunia lalu hidup kekal bersama di surga kelak, aamiin.

Maka nikmat Tuhan manakah yang aku bisa dustakan. Izinkan aku mencintaimu selamanya, Adinda.

Achmad Faris Saffan Sunarya dan Shuffah Nur Hijrah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s