Kualitas Angkutan Umum ‚Ekslusif‘, untuk Kota yang ‚Inklusif‘ (Refleksi Berlin part 1)

Berlin, Februari 2016

Kurang lebih 2 bulan lagi saya akan meninggalkan kota yang super nyaman ini, untuk kembali berkarya di Indonesia. Rasanya tidak lengkap jika pengalaman saya hidup di kota ini tidak saya ambil pelajarannya, dan saya bagi pembelajarannya. Mudah- mudahan ini bisa menjadi salahsatu upaya saya untuk bersyukur.

20150320_070343

Gambar : Susahnya masuk KRL di Jakarta, sumber: Penulis, 2015

Masalah kita, keresahan kita

Jakarta, Bandung atau Jogjakarta adalah kota yang pernah saya tinggali, dan membuat ‚gerah‘. Bukan gerah cuacanya, tapi ‚gerah‘ rasanya saat dihadapkan pada realita untuk membeli rumah. Sebagai kelas menengah, mustahil saat ini kalo saya ingin membeli apartemen ditengah kota, seperti di Kuningan, Jakarta, di daerah Cisitu, Bandung, atau membeli rumah didaerah Jalan Kaliurang km 8, Jogjakarta. Harga rumah didaerah lumayan sentral seperti itu rasanya sudah selangit bagi saya saat ini (Hmm.. realita kawan). Hal yang cukup memungkinkan bagi saya adalah mengalihkan pilihan ke pinggiran kota Jakarta, atau luar kota Bandung seperti Cimahi dengan harapan mendapatkan harga yang lebih terjangkau. Dan kembali kita akan menemukan realita. Perumahan yang berlokasi dengan akses transportasi bagus, seperti Jalan Tol, stasiun KRL, atau halte Transjakarta akan memilki harga yang relatif yang agak lebih tinggi, dibandingkan perumahan yang ‘ada di ujung planet bumi’ (alias jauh dari akses transportasi).

Kota seperti Jakarta, Bandung dan Jogjakarta itu memiskinkan orang miskin, atau kelas menengah. Para ‘salary- man’ yang punya sumber terbatas terpaksa berinvestasi pada ongkos transportasi, dan waktu yang mahal. Sudah ‚terbatas dana‘, diperas pula oleh macet dan seandainya. Sudah berjam- jam di kantor karena disuruh bos, sedikit pula waktu yang akhirnya tersisa di rumah untuk anak dan istri. Area cakupan stasiun KRL dan Transjakarta di dalam kota Jakarta itu hanya 23% dari total semua wilayah kota (Data analisa Arc GIS di thesis saya). Area yang dicakup angkot Bandung kurang dari 60% ( materi Pak Ofyar Tamin, 2014). Jogjakarta memilki Transjogja. Saya juga adalah pengguna Transjogja setiap Jumat. Cakupan area Transjogja ini juga masih terbatas dengan rute yang agak berputar- putar. Kita bisa bayangkan betapa besar ‘gap kekosongannya’. Beberapa kelas menengah bisa membeli mobil untuk mencari rumah dekat tol. Terkadang total durasi perjalanan menggunakan mobil memang lebih cepat ketimbang angkutan umum. Tapi bisa kita bayangkan juga biaya cicilan mobil dan ongkos bensin yang harus dikeluarkan setiap bulan.

Para kelas menengah biasanya cenderung membeli rumah di Depok, atau Bekasi yang jaraknya dari stasiun KRL terdekat sekitar 6-8 km. Percaya atau tidak, rata- rata waktu perjalanan orang yang bekerja di Kuningan, dan Sudirman adalah sekitar 115 menit sekali berangkat, jadi kurang lebih 3- 4 jam bolak- balik (analisa dari database integrasi transportasi Jakarta- JUTPI). Jakarta dalam hal ini masih lebih lumayan. Bandung dan Jogjakarta saya pikir sudah parah juga. Kemacetan di kedua kota ini sudah menjadi- jadi. Perumahan terjangkau Bandung kebanyakan berlokasi di puncak gunung didaerah Ujung Berung atau Ciburu, yang minim akses angkutan umum, dan macet pula. Perumahan di kelas menengah kebanyakan berlokasi diluar Ring Road Jogja, di sekitar Jalan Kaliurang atau sekitar Condongcatur. Jalan keluar kampung sudah jadi ‚obstacle‘ tiap pagi. Macet yang cukup mengesalkan adalah macet saat keluar gang kampung, karena motor dan mobil semerawut dimana- mana. Maka wajar rasanya jika para Ibu kelas menengah sepulang kerja, akan habis tenaga saat berjumpa anaknya di rumah.

Belajar dari Berlin

Berlin adalah kota metropolitan yang cukup inklusif dari segi sosial-ekonomi. Saat dulu terbelah menjadi Berlin Barat dan Timur, kota ini memang disubidi habis- habisan, hingga harga sewa apartemen menjadi murah. Dan akhirnya, kota ini menjadi kota metropolitan Eropa yang paling murah. Namun apa yang membuat struktur biaya sewa rumah disini menjadi tetap inkulsif dan terjangkau?

mietmap Berlin

Gambar : Diversifikasi taris sewa apartemen di Berlin, sumber: Immobilienscout24

Orang di Berlin, tidak terbiasa membeli rumah, mereka lebih senang menyewa. Harga sewa di wilayah tengah kota, dengan sewa di wilayah semi-pinggiran tidak begitu berbeda (lihat gambar diatas). Kota ini memang dulu dirancang dengan konsep Christaller sejati a.k.a multi-center. Untuk bekerja, para Berliner tidak mesti pergi ke Postdamer Platz (Kuningannya Berlin), atau Friedrichstrasse. Kegiatan ekonomi tersebar dimana- mana. Bahkan kantor kecamatan (Burgeramt) di Berlin sudah seperti Kantor Bupati di Indonesia.

Namun ada suatu hal yang sangat mempengaruhi, mengapa harga tanah di Berlin begitu inklusif dan hampir merata. Tidak jomplang seperti Jakarta.  Jaringan angkutan umum yang hampir kemana- mana, dan berkualitas punya andil besar menciptakan sistem manajemen harga tanah seperti ini. Betapa tidak, kota dengan populasi sebesar Bandung ini setidaknya memilki RE (Kereta Regional), S-Bahn (skytrain cepat), U-Bahn (kereta bawah tanah), tram, dan bus. Secara sederhana, 80% wilayah kota ini dilayani oleh angkutan umum yang dapat diandalkan. Jaringan Tram di Berlin adalah jaringan terluas didunia, yakni dengan total jaringan sepanjang 293,78 km. Tram mencakup jaringan- jaringan sekunder yang ada di wilayah timur. Untuk wilayah barat, kebanyakan jaringan sekunder dilayani oleh Bus kota. Jaringan utama kota ini dilayani oleh S-Bahn dan U-Bhan. Panjang jaringan S-bahn adalah 331 km dengan 166 stasiun, atau setara 1,5 kali lebih besar dari sistem Transjakarta. Panjang jaringan U-Bahn adalah 147 km dengan 177 stasiun.  Durasi antar bus (headway) dan tram disini cukup ketat. Menunggu 10 menit sudah terasa sangat lama. Kalo di Jakarta, 10 menit menunggu Transjakarta terasa sebentar rasanya.

DSCN9594

Gambar : U-Bhan Berlin, sumber: Penulis, 2015

Selain jaringan yang luas, sistem tarif angkutan umum disini terbilang murah. Model pengelolaan angkutan umum di Berlin sebenarnya bukan yang terbaik di Jerman. Tapi sistem tarif disini patut juga kita pelajari. Mahasiswa dan pelajar mendapatkan tiket semester yang terintegrasi dengan pendaftaran semester baru. Jadi mau tidak mau, para pelajar di Berlin akan memilki tiket angkutan umum langganan. Dan secara psikis, kalo tidak digunakan akan sangat sayang, toh sudah bayar. Istri saya yang bukan pelajar, berlangganan tiket bulanan sebesar 59,10 EUR atau sekitar Rp 885 ribu selama sebulan. Terbilang murah untuk kualitas layanan yang super seperti ini. Jadi, sejauh apapun perjalanan kita dari rumah ke kampus, ongkos perjalanan kita setiap hari tidak akan membuat kantong cekak.

Hanya dari tiga prinsip layanan, ‚luas cakupan wilayah‘, ‚headway yang andal‘, dan ‚sistem tarif yang terjangkau‘ telah membuat struktur tarif sewa apartemen di kota ini menjadi inklusif. Berlin memang mmeilki pertauran batas atas dan bawah tarif sewa apartemen per kecamatan. Namun karena hampir semua lokasi dapat terbilang aksessebel, intervensi pasar bisa di’kunci’. Alhasil, harga sewa apartemen pun lumayan bersaing karena masyarakat punya banyak pilihan lokasi terjangkau untuk tinggal. Mahasiswa Indonesia (lajang) disini yang memiliki kantong terbatas, masih bisa menyewa apartemen swasta dengan harga 250 EUR (Rp 3,75 juta) per bulan dengan jarak 20 menit menggunakan U-Bahn ke Technical University Berlin yang berada ditengah kota. Walau dia tinggal berdua di apartemen, tapi harga itu sangat terjangkau. Uang sewa apartemen saya sebesar 600 EUR (Rp 7,5 juta) per bulan yang hanya berjarak 15 menit jalan kaki ke TU Berlin. Saya memilih tinggal disini karena alasan lingkungan yang saya suka, dan ada syarat luas apartemen keluarga. Gaji mahasiswa yang bekerja paruh waktu bisa mencapai 600 EUR hingga 900 EUR.  Gaji lulusan master disini bisa mencapai 1700- 2000 EUR bersih setelah dipotong pajak. Anak beasiswa disini menerima 1100 EUR hinggan 1500 EUR per bulan. Jadi bisa kita bayangkan, biaya sewa tersebut tidak begitu membuat kantong ‘cekak‘.

Tinggal dikota dengan kualitas seperti ini tentunya benar- benar memicu semangat produktifitas yang tinggi. Orang kaya, kelas menengah, dan orang miskin sama- sama punya kesempatan produktifitas yang sama. Yang mempengaruhi tinggal niat dan keikhlasan usaha saja. Tidak disibukkan lagi dengan ‚tetek- bengek‘ keterbatasan waktu dan kelelalahan bertransportasi.

Pengalaman saya sebelum memulai kuliah master saat berkecimpung 3 tahun di proyek reformasi angkutan umum di kota- kota Indonesia memang tidak mudah. Tapi saya percaya kita bisa memeprbaiki kota- kota di Indonesia. Dan ini adalah bagian dari ibadah. Ibadah untuk mengimplementasikan sumpah ilahiah, ‘Wal Ashr’, “Demi masa”. Tidak lain agar para Ibu dan Bapak yang bekerja, masih bisa mengkader generasi penerus bangsa di rumahnya dengan layak. Tidak lain agar kelas menengah dan miskin tidak dimiskinkan  oleh waktu dan uang.

Achmad Faris Saffan Sunarya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s